Kesalahan Pemakaian Kata

131
0
Bagikan:
Kesalahan Pemakaian Kata

Mungkin bukan hanya dalam bahasa Indonesia, manusia cenderung menggunakan bahasanya sebagaimana yang biasa dia temukan saja. Hanya orang-orang “kurang kerjaan” yang mau berepot-repot mengecek bahasa yang dia gunakan, terlebih jika itu bahasanya sendiri.

Memang, dalam menggunakan bahasa, pada umumnya orang sangat terpengaruh lingkungannya dan bahasa yang biasa dia gunakan. Besar kecilnya pengaruh itu tergantung juga pada seberapa besar paparan dan kesediaannya mencari tahu bagaimana sebenarnya cara berbahasa yang benar. Semakin ia terpapar dan semakin ia enggan mencari tahu, semakin ia terpengaruh.

a. Terpengaruh Struktur Bahasa Asing

Dalam sejarahnya, perkembangan bahasa Indonesia banyak dipengaruhi bahasa-bahasa asing, khususnya Belanda dan Arab. Bahasa Belanda banyak mempengaruhi pembentukan struktur kalimat, sedangkan Bahasa Arab banyak mempengaruhi pembentukan kosakata.

Pengaruh struktur bahasa Belanda (atau Inggris) bisa diperiksa pada penggunaan kata ganti hubung “dari mana” (waarvan; from where), “dengan siapa” (met wie; with whom), “di atas mana” (waarop; on which), “di mana” (waar; where), “hal mana” (welke; which), dan “yang mana” (welke; which). Dalam bahasa Indonesia baku, kata-kata hubung yang digunakan dalam bahasa asing itu diganti dengan kata yang sesuai, dihilangkan, atau kalimatnya disusun ulang.

dari mana

  • Persawahan dari mana beras itu didatangkan terletak jauh di pedalaman. (X)
  • Persawahan yang menghasilkan beras itu terletak jauh di pedalaman. (V)

dengan siapa

  • Pejabat senior dengan siapa dia berhubungan …. (X)
  • Pejabat senior yang berhubungan dengannya …. (V)

di atas mana

  • Undang-undang di atas mana peraturan pemerintah itu didasarkan …. (X)
  • Undang-undang yang menjadi dasar peraturan pemerintah itu …. (V)

di mana

  • Perusahaan di mana dia bekerja sudah bangkrut. (X)
  • Perusahaan tempat dia bekerja sudah bangkrut. (V)

hal mana

  • Peraturan itu belum disosialisasikan, hal mana sangat disayangkan oleh Bupati. (X)
  • Peraturan itu belum disosialisasikan dan hal itu sangat disayangkan oleh Bupati. (V)

yang mana

  • Kondisi Jakarta belum kondusif, yang mana membuat para pedagang ragu membuka tokonya. (X)
  • Kondisi Jakarta belum kondusif sehingga para pedagang ragu membuka tokonya. (V)

Penggunaan kata-kata ganti hubung di atas sudah sangat lazim kita temui sehari-hari sehingga secara refleks kita cenderung ikut menggunakannya. Sayangnya, penggunaan kata-kata tersebut tidak sesuai dengan struktur bahasa Indonesia.

b. Terbalik Memahami Makna Kata

Kerap kita temukan beberapa kata digunakan dengan makna kebalikan dari makna baku yang dijelaskan dalam kamus. Beberapa kata itu di antaranya sebagai berikut.

absensi
Kata ini bermakna “ketidakhadiran”, namun sering digunakan untuk :kehadiran”. Kata yang tepat untuk “kehadiran” adalah atendansi atau daftar hadir.

  • Para peserta diminta menandatangani absensi sebelum acara dimulai. (X)
  • Para peserta diminta menandatangani daftar hadir sebelum acara dimulai. (V)

acuh
Kata ini bermakna “peduli”, namun sering digunakan untuk makna “tidak peduli”.

  • Dinda melihat Dandi, tetapi dia acuh saja, seolah-olah tidak melihat. (X)
  • Dinda melihat Dandi, tetapi dia tak acuh, seolah-olah tidak melihat. (V)

bergeming
Kata ini bermakna “diam, tak bergerak”, namun sering digunakan untuk makna “goyah”.

  • Dihantam cobaan apa pun, dia tetap tidak bergeming. (X)
  • Dihantam cobaan apa pun, dia tetap bergeming. (V)

tukas
Kata ini paling sering saya temukan dalam penulisan berita, khususnya bagian kutipan ucapan narasumber.

Sebagai kata kerja, kata ini bermakna “mendakwa (menuduh) tanpa alasan yang cukup (asal menuduh saja)”, “mengulang lagi (permintaan, jawab, minum obat, panggilan, dan sebagainya)”, atau “menghentikan (memotong dan sebagainya) perkataan atau ucapan seseorang”. Namun, kata “tukas” sering salah digunakan, menurut dugaan saya, dalam makna “pungkas”

  • “Mereka yang tidak puas, bisa menuntutnya melalui jalur hukum,” tukasnya. (X)
  • “Mereka yang tidak puas, bisa menuntutnya melalui jalur hukum,” pungkasnya.. (V)

c. Jangan Gunakan Kata Tugas di Awal Kalimat

Ada beberapa kata yang menghubungkan bagian-bagian dalam kalimat, tetapi kerap digunakan di awal kalimat, di antaranya: adalah, bahwa, dan, dan yang. Penggunaan kata-kata tersebut di awal kalimat membuat kalimat menjadi rancu karena membalikkan posisi subjek dan predikat atau menjadikan keterangan sebagai subjek kalimat.

adalah

  • Adalah menyalahi hukum ketika seorang penguasa menggunakan kekuasaannya untuk memeras rakyat. (X)
  • Seorang penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk memeras rakyat adalah menyalahi hukum. (V)

bahwa

  • Bahwa dia seorang waria, semua orang sudah tahu. (X)
  • Semua orang sudah tahu bahwa dia seorang waria. (V)

dan

  • Dan tidak ada jaminan bahwa mereka akan berhasil. (X)
  • Tidak ada jaminan bahwa mereka akan berhasil. (V)

yang*

  • Yang bisa menulis seperti ini hanya Aldo. (X)
    Orang yang bisa menulis seperti ini hanya Aldo. (V)
  • Yang bisa menyelesaikan kasus ini hanya kepolisian. (X)
    Lembaga yang bisa menyelesaikan kasus ini hanya kepolisian. (V)

*Kata yang bisa digunakan di awal kalimat jika menunjukkan perbandingan:

  • Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. (V)
closing
Bagikan:

Tulis Komentar