Kentang Goreng Motivasi dan Kapan Kamu Mesti Bersikap “Bodo Amat”

77
0
Bagikan:
Kentang Goreng Motivasi dan Kapan Kamu Mesti Bersikap “Bodo Amat”

Judul aslinya,  The Subtle Art of Not Giving a F*ck (HarperOne, 2017), dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (Grasindo, 2018). Kata “subtle” tidak diterjemahkan mungkin karena memang tidak ada yang “subtle” dalam buku ini—setidaknya, itu bukan hal yang ingin ditekankan penerjemahnya—atau hanya sekadar kiat dagang untuk membuat judul buku yang terkesan vulgar, tapi menarik.

The Subtle Art of Not Giving a F*ck adalah buku kedua Mark Manson setelah Models: Attract Women Through Honesty (diterbitkan sendiri, 2011, lalu diterbitkan Pan Macmillan Australia, 2014). Buku ketiganya adalah Everything is F*cked: a Book About Hope (HarperCollins, 2019). Dari ketiga bukunya, Not Giving a F*ck–lah yang mengharumkan namanya.

Saya termasuk terlambat membaca buku ini. Edisi bahasa Inggrisnya terbit September 2016 dan langsung booming. Pada Juli 2017 buku ini menempati posisi #1 dalam New York Times Bestseller List (NYT-BL). Hingga Februari 2018, buku ini bertengger di NYT-BL  selama 128 minggu. Pada Januari 2019, lebih dari 3 juta eksemplar buku ini telah terjual.

Edisi terjemahan bahasa Indonesia The Subtle Art of Not Giving a F*ck terbit Februari 2018, tetapi saya baru membacanya pada November 2019 ini. Mungkin ini berhubungan juga dengan keengganan saya membaca sebuah buku ketika buku itu hangat-hangatnya dibicarakan. Saya cenderung menunggu sampai ingar-bingar mereda. Lagi pula, “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”, kan?

Tulisan ini pastinya juga terlambat. Orang pasti sudah banyak yang membaca buku ini atau, paling tidak, membaca ulasannya. Tapi, bodo amat!

Berpikir Positif? Persetan Positif!

Sebagaimana setiap hal yang bernilai sejati dalam hidup, buku ini perlu digali lebih dalam untuk menemukan harta yang layak dengan hanya duduk beberapa jam membaca buku ini. Saya pastikan, di balik judul yang terkesan vulgar itu akan kamu temukan hal-hal yang sangat inspiratif dan “filosofis” (mungkin Manson akan keberatan dengan istilah ini), namun disajikan dengan cerdik.

Buku yang disajikan dengan cerdik ini ditulis penulis cerdik, Mark Manson. Kecerdikan blogger Amerika dengan 2 juta pembaca per bulan itu bisa dilihat pada bagaimana dia menyamarkan isi bukunya menggunakan bahasa vulgar yang memancing minat orang.

Ungkapan not giving a f*ck—yang diterjemahkan dengan cerdas menjadi “bodo amat”—memang terkesan vulgar, tetapi itu justru cara Manson menjerat orang untuk mau membaca sebuah buku tentang nilai-nilai dan bagaimana cara menjalani hidup yang menyenangkan.

Pada intinya, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat mengajarkan kita untuk menemukan apa yang benar-benar penting bagi kita dan berhenti memedulikan terlalu banyak hal di dunia ini, terutama hal-hal yang sebetulnya remeh-temeh dan tak layak mendapatkan perhatian yang besar dalam hidup kita.

Ini terutama penting ketika kita hidup di era digital seperti sekarang ini. Setiap detik kita dibombardir iklan yang mendorong kita untuk membeli lebih dan lebih. Setiap iklan yang kita tonton atau lewat di linimasa Facebook merayu kita untuk percaya bahwa kunci menuju kehidupan yang baik adalah mendapatkan yang lebih: lebih banyak, lebih baik, lebih bergengsi, lebih mewah, lebih keren, lebih cantik, lebih berkepribadian, dll. More is better and better is even better!. (‘lebih banyak berarti lebih baik dan semakin baik berarti lebih baik lagi!’).

Tentu akan banyak yang membela bahwa tidak masalah jika orang menginginkan lebih, terutama jika itu muncul dari pebisnis. Masalahnya, memedulikan terlalu banyak hal remeh justru akan berakibat buruk bagi kesehatan mental kita karena membuat kita terikat pada hal-hal yang superficial, hal-hal yang dangkal dan palsu.

Dalam wawancara dengan Tree Franklin, kontributor di HuffPost, Manson berkata, “Jika melihat sesuatu secara online atau mendengar hal-hal yang dikatakan rekan kerja kamu benar-benar sangat mempengaruhimu, maka kamu perlu mengecek ulang nilai-nilai hidupmu. Jika emosimu terus-menerus diombang-ambingkan tanpa daya oleh berbagai hal yang lewat, mungkin kamu terlalu peduli pada banyak hal yang remeh.”

Jadi, menurut Manson, kalau kita merasa baper melihat status tertentu di medsos, itu berarti kita terlalu peduli pada hal-hal remeh yang berarti juga kita memiliki sedikit sekali—atau tidak sama sekali—kepedulian terhadap hal-hal yang benar-benar penting bagi hidup kita. Kunci menuju kehidupan yang lebih baik, menurutnya, bukan dengan mendapatkan banyak hal—yang membuat kita harus memedulikan lebih banyak hal juga—tetapi dengan memedulikan hanya hal-hal yang benar-benar mendesak dan penting.

Namun, lebih dari sekadar pedoman praktis untuk memilah dan memilih apa yang penting dan yang tidak penting dalam hidup kita, buku ini mengajak kita untuk melihat realitas secara lebih jujur dan berani, ​​termasuk jujur dan berani melihat berbagai masalah, ketakutan, dan harapan kita. Buku ini menganjurkan konfrontasi yang berani terhadap diri, keyakinan, kebenaran yang kita peluk, kesalahan, dan ketidakpastian kita, tanpa dibumbui segala angin surga berpikir positif yang dimantrakan para motivator.

Berpikir positif?

“Persetan positif,” kata Manson. “Mari kita jujur: kadang-kadang, keadaan memang kacau dan kita harus hidup menjalaninya.”

Menjadi luar biasa?

“Tidak semua orang bisa menjadi luar biasa: ada pemenang dan pecundang; beberapa mungkin tidak adil, beberapa lainnya salah kamu,” tulis Manson.

Mencari kebahagiaan?

“Jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu,” komentarnya.

Seni Bersikap Bodo Amat dalam Tiga Butir

Kebanyakan orang mungkin membayangkan mental masa bodoh ini dengan sejenis kekaleman yang tidak terpengaruh apa pun, semacam ketenangan yang mampu melewati semua badai. Mereka membayangkan itu sebagai sikap seseorang yang tidak tergoyahkan sekaligus tidak membuat gusar siapa pun. Tapi, sebutan untuk orang seperti itu adalah bermental psikopat, bukan bermental bodo amat.

Jadi, mental bodo amat iru seperti apa? Mark Manson menjelaskan “seni” itu dalam tiga putir berikut ini.

1. Bersikap bodo amat bukan berarti menjadi acuh tak acuh, bodo amat berarti nyaman saat menjadi berbeda

Orang yang acuh tak acuh adalah mereka yang lemah dan ciut hatinya. Mereka biasanya doyan mager (malas gerak, couchy potatoes) atau menjadi netizen yang usil. Faktanya, orang acuh tak acuh sering berusaha untuk bersikap masa bodoh karena dalam kenyataanya mereka terlalu rewel terhadap semua hal.

Mereka terganggu dengan apa yang dipikirkan orang tentang rambut mereka, sehingga mereka tidak pernah mau berkeramas atau menyisirnya. Mereka risau dengan apa yang dipikirkan orang tentang ide mereka, jadi mereka sembunyi di balik sarkasme dan kritik pedas. Mereka merasa tidak aman, sehingga mereka menampilkan sosok sebagai manusia yang spesial, unik, dengan segudang masalah yang tidak mungkin dimengerti orang lain.

Faktanya, tidak ada yang namanya mental masa bodoh. Kita pasti memedulikan sesuatu. Sisi biologis kita selalu peduli akan sesuatu dan, karena itu, kita akan selalu memedulikan sesuatu.

Pertanyaanya adalah: Apa yang kita pedulikan? Hal apa yang kita pilih? Bagaimana caranya agar kita bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang memang tidak penting?

2. Untuk bisa mengatakan “bodo amat” pada sesuatu, pertama-pertama kita harus peduli dengan hal lain yang jauh lebih penting daripada sesuatu itu.

Jika kita secara konsisten memberikan porsi perhatian yang berlebihan untuk hal-hal sepele yang membuat kita gusar, seperti foto mantan yang terlihat makin kinclong di FB atau ujaran tolol mereka yang disebut kadal gurun, itu berarti bahwa kita tidak punya sesuatu yang lebih layak dipedulikan dalam hidup ini. Itu masalah kita sesungguhnya, bukan foto mantan atau ujaran tolol. Alasan orang-orang mempermasalahkan hal-hal sepele di dunia maya adalah bahwa mereka tidak punya sesuatu yang mereka pedulikan di dunia nyata.

Jadi, menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan kita mungkin cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga kita karena, jika kita tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian kita akan tersedot kepada hal-hal yang remeh dan sembarangan.

3. Disadari atau tidak, kita selalu memilih sesuatu hal untuk dipedulikan

Saat kita masih bayi kita memedulikan banyak hal, bahkan kita menangis kalau warna topi kita tidak cocok. Saat belia, semua hal terasa baru dan seru. Semuanya tampak begitu berarti. Karena itu, kita peduli banyak hal.

Saat beranjak dewasa, seiring dengan pengalaman, kita mulai memperhatikan bahwa sebagian besar hal hanya memiliki dampak yang sangat kecil dalam hidup kita. Kita menjadi semakin selektif terhadap hal-hal yang layak kita perhatikan.

Seiring bertambahnya usia dan memasuki paruh baya, perubahan lain mulai terjadi. Energi kita mulai menurun, identitas kita mulai menguat. Kita tahu siapa kita dan kita menerimanya sepenuh hati, termasuk bagian-bagian yang sangat memalukan yang kita sembunyikan.

Anehnya, justru itulah yang membuat kita merdeka. Kita tidak lagi perduli terhadap setiap hal. Seperti salah satu cuitan di Twitter: “Once you hit a certain age, you become permanently unimpressed by a lot of shit” (‘Begitu kita mencapai usia tertentu, kita akan secara permanen tak berminat pada banyak hal remeh’)

Kentang Goreng Motivasi dan Atlantis Psikologis

Membaca buku ini kita akan menemukan kejujuran yang menyegarkan dan memuaskan. Ketika setiap buku swabantu (self-help) lainnya membuat kita bersemangat  selama hidung kita terkubur di antara lembaran-lembarannya—tetapi tidak memiliki nilai praktis dalam pahit-getir kehidupan sehari-hari kita—buku ini membetot kita dari khayalan dan kenyamanan. Ia menunjukkan lubang tempat kita terperosok dan memaksa kita untuk tidak hanya melihat lumpur dan keringat yang melumuri kita, tetapi juga untuk bersedia menerimanya.

“Begitu kita merangkul ketakutan, kesalahan, dan ketidakpastian kita, yaitubegitu kita berhenti berlari menghindar dan mulai menghadapi kebenaran yang menyakitkan, kita bisa mulai menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang mati-matian kita cari,” kata Manson.

Alih-alih mengusahakan kehidupan yang sempurna tanpa masalah, bebas masalah, dan merasa senang, Manson menyarankan untuk mengajukan pertanyaan penting, “Masalah apa yang ingin kamu miliki? Apa masalah yang menggairahkanmu? “

Jika benar apa yang ditulisnya bahwa “Hidup pada dasarnya adalah serangkaian masalah yang tak ada habisnya. Solusi untuk satu masalah hanyalah penciptaan yang lain,” maka masuk akal ketika dia mengatakan bahwa kehidupan memang menyebalkan bagi mereka yang terus-menerus berusaha lari dari masalah.

Manson menyebut bisnis motivasi modern sebagai “kentang goreng dan soda versi pengembangan pribadi”. Memang, apa yang mereka tawarkan benar-benar baik dan mudah dikonsumsi, tetapi ada perjuangan yang secara inheren menyakitkan dan sulit sebagai bagian dari pertumbuhan.

Jika kita tidak berani menampar muka orang untuk menyadari kenyataan itu, kebanyakan orang hanya akan menghindarinya. Mereka cuma akan terus mencari hal-hal yang lebih baik untuk mengalihkan perhatian mereka.”

Restoran cepat saji di mana pun akan membenarkan bahwa kentang goreng dan minuman bersoda menghasilkan sangat banyak uang. Karena itu, tidak mengherankan ketika pasar dipenuhi kentang goreng yang sangat lezat dan minuman bersoda yang menyegarkan. Penganan praktis. Kamu bahkan bisa menjilat harapan dari jari-jarimu yang berlumur garam.

Sebaliknya, di dalam buku ini Manson tidak menawarkan harapan—setidaknya, tidak langsung terlihat. “Buku ini tidak peduli tentang cara mengurangi masalah atau rasa sakitmu,” tulisnya. Buku ini memang bukan panduan menuju kebesaran—hal yang tak mungkin karena kebesaran hanyalah ilusi dalam pikiran kita, tujuan fiktif yang harus kita kejar sendiri, Atlantis psikologis kita sendiri. [AD]

closing
1
Bagikan:

Tulis Komentar