Mencari Chika, Mendefinisikan Makna Keluarga

55
0
Bagikan:
Mencari Chika, Mendefinisikan Makna Keluarga

“Chika tidak pernah tinggal lama. Dia pertama kali muncul delapan bulan setelah dia meninggal, pagi hari saat pemakaman ayahku,” tulis Mitch Albom dalam memoar keduanya setelah Tuesdays with Morrie.

“Aku memanggil namanya dengan tak percaya— ‘Chika?’—dan dia berbalik, sehingga aku tahu dia bisa mendengarku. Aku berbicara dengan cepat, yakin ini adalah mimpi dan dia akan menghilang kapan saja.

“Tapi, itu dulu, waktu pertama kali. Akhir-akhir ini, kalau dia muncul, aku selalu menyapa, ‘Selamat pagi, Gadis Cantik ,’ dan dia akan menjawab, ‘Selamat pagi, Tuan Mitch’. Anda bisa terbiasa dengan apa saja dalam hidup, saya kira. Bahkan hal seperti ini,” lanjutnya.

Paragraf-paragraf di halaman 2 karya terbaru Mitch Albom ini (Finding Chika, Harper Collins, 2019) bukan spoiler. Sejak awal, Albom berterus terang bahwa Chika—gadis cilik yang dikisahkan dalam memoar ini—meninggal musim semi 2017 yang lalu pada usia tujuh tahun. Albom bahkan mengabarkan berita menyedihkan itu di halaman pertama.

“Ketidakhadirannya membuat kami sulit bernafas, sulit tidur dan kehilangan nafsu makan. Istri saya dan saya sering menatap kosong ke depan untuk waktu yang lama sampai seseorang berbicara menyeret kami keluar dari kebengongan itu,” tulisnya.

Dalam Finding Chika, penulis Tuesdays with Morrie ini kembali berbagi pelajaran tentang seseorang yang dia sayangi dan sudah tiada. Namun, kali ini bukan seorang profesor tua mantan gurunya—Morrie Schwartz, yang ia tulis menjadi Tuesdays with Morrie. Pemberi pelajaran kali ini adalah seorang gadis cilik dari panti asuhan yang dia kelola di Haiti.

Chika Jeune
Chika Jeune (mitchalbom.com)

Chika Jeune lahir tiga hari sebelum gempa bumi tahun 2010 yang mengguncang Haiti. Tiga tahun pertama, Chika diasuh dalam lingkungan sangat miskin. Setelah ibunya meninggal saat melahirkan adik laki-lakinya, Chika dititipkan ke panti asuhan Have Faith Haiti Orphanage di Port-au-Prince yang, kebetulan, baru saja dikelola Albom—ke sanalah hasil penjualan buku ini dikirimkan.

Dari saat dia datang ke panti asuhan mereka, Albom dan Janine tahu Chika itu istimewa. Dia mudah bergaul, cerdas, dan penuh perhatian. Albom dan Janine memang tidak memiliki anak— keadaan yang membuatnya kerap menyalahkan diri sendiri.

“Saya pikir, memulai sebuah keluarga itu seperti gulungan karpet baru yang bisa saya simpan di lemari, lalu saya bisa buka gulungan itu kapan saja saya siap,” katanya kepada Chika dalam salah satu kehadirannya.

Pada saat Albom dan istrinya menjalani kehidupan bersama, ternyata upaya mereka bertahun-tahun gagal. Mereka tak memperoleh keturunan dan pasangan itu akhirnya berhenti hanya pada peran bibi dan paman bagi anak-anak orang lain.

“Tidak apa-apa tidak punya anak jika kamu tidak menginginkan mereka, Chika, tetapi jika kamu menginginkannya, ketidakhadiran mereka bisa menyakitkan,” tulisnya.

Faktanya, Albom dan istrinya kemudian menjadi orang tua de facto bagi Chika di tahun-tahun terakhir hidupnya, sementara mereka mengalami dan merasakan menjadi orang tua untuk pertama kalinya pada usia empat puluhan.

“Aku ingat saat kamu dan aku berjalan dan, tanpa disuruh, kamu mengulurkan tangan dan meraih tanganku, jari-jari kecilmu meluncur ke telapakku. Aku ingin memberitahumu bagaimana rasanya, tetapi perasaanku terlalu besar untuk dimuat kata-kata,” kenang Albom . “Kau menempatkanku di hulu kaca pembesar atau teleskop mainan dan, melalui lensa-lensa itu, aku bisa mengagumi dunia dengan caramu. Kau penawar yang tak pernah gagal untuk kesunyian orang dewasa.”

Ketika pada usia lima tahun Chika didiagnosis menderita tumor otak yang agresif—kondisi yang menurut ahli saraf di Haiti tidak dapat diobati di sana—Albom dan istrinya membawa Chika ke rumah mereka di Michigan dan mencari pengobatan terbaik yang bisa mereka temukan. Ketika perawatan itu gagal, mereka melakukan perjalanan selama dua tahun ke negara lain dan mencoba berbagai prosedur eksperimental, apa pun yang kemungkinan memperpanjang hidup Chika.

Janine, Chika, Mitch (mitchalbom.com)

Upaya putus asa Mitch dan Janine untuk menemukan obat bagi tumor otak Chika yang diketahui tidak dapat disembuhkan dan banyak intervensi Chika sering terasa berat untuk dibaca. Meskipun tahu bagaimana akhirnya, pembaca tetap saja berharap akhir ceritanya akan berbeda.

Selain sudut pandangnya sendiri, Albom menceritakan kisah tersebut dengan membayangkan apa yang dipikirkan dan dirasakan Chika. Tulisannya tentang perjalanan hidupnya ini tanpa hiasan, mengharukan, tapi jauh dari melankolis. Dia berbagi kegembiraannya menjadi seorang ayah bagi anak yang lincah ini, ketakutannya ketika dia memperkenalkan kembali Chika kepada ayah kandungnya, dan rasa sakit juga kesedihan yang dia rasakan ketika dia meninggal.

Pada akhirnya, Finding Chika adalah perenungan yang menyentuh tentang keajaiban anak-anak, keceriaan yang tak terlupakan dari seorang anak yang sekarat, orang tua yang akan melakukan apa saja untuk keselamatan mereka, dan keluarga kecil yang bisa ditemukan di berbagai belahan dunia.

“Apa yang kita terima mendefinisikan siapa kita dan upaya yang kita lakukan adalah warisan kita,” kata Albom.

Saran saya, kalau kamu manusia, sebelum membaca, siapkan tisu, sapu tangan, atau apa saja yang bisa menyerap air mata. (AD)

closing
Bagikan:

Tulis Komentar