Kisah Ki Lunto dan Fungsi Mitos

567
0
Bagikan:
Kisah Ki Lunto dan Fungsi Mitos

“Mulai hari ini, tak perlu lagi kau antar
makanan ke sini,” bisik lelaki itu
Suaranya padam kehabisan minyak
Sehabis hari-hari yang ia lemparkan
Ke tengah rawa keserbamungkinan

Sebentuk wajah seperti rimbun daun
Resah mencari-cari di mana terakhir kali
Pedang di mata suaminya ia temukan

Lorong begitu kelam—begitu jauh
Di mata itu siang tak lagi berlabuh
Lamat-lamat azan di kejauhan
Seperti isyaratkan perjalanan
Yang tak mungkin lagi ditempuh

“Pulanglah, Kasihku
Tapi jangan kau hitung waktu
Yang kita jalani sebagai kesia-siaan

Di sana kusimpan napas hidup
Keniscayaan sebuah hati yang tunduk
Lihatlah. Tubuhku kini hilang bentuk
Dan kepala ini tak akan di sini
Saat kau lihat mentari surut”

Ini bukan semata kegandrungan
Ini bukan perkara menyiapkan joran
Ini bukan masalah mamasang umpan
Bukan lagi soal meraih sebanyak-banyak ikan

Ini tentang keberanian melepaskan
Segala yang lain demi sebuah penyatuan
Kesediaan tinggalkan yang wadak
Demi sunyi mutlak tanpa kehendak

Rawa ini adalah semesta sebagaimana
Angkasa yang kusimpan di dada
Angkasa yang memilih menjadi fana
Demi semesta yang dicintainya

Kapan waktu, jika kau menanggung rindu
Datanglah ke sini—tengoklah aku
Meski hanya kutunjukkan punggungku
Yakinlah, aku selalu ada menjagamu


Mereka berada di tepi rawa tempat lelaki itu menghabiskan hari-harinya memancing ikan. Tapi, kali ini, si lelaki tetap berendam di dalam rawa. Tubuhnya berada di dalam air, hanya kepalanya sebatas leher yang terlihat—dan dia menolak mentas.

Seperti biasanya, siang itu sang istri mengantarkan makanan untuk suaminya yang sudah berminggu-minggu tak pulang ke rumah. Berminggu-minggu lelaki itu asyik dengan hobinya. Ia sudah lupa segalanya, selain kegemarannya memancing ikan di rawa. Berminggu-minggu juga istrinya selalu setia mengantar makanan setiap siang—yang cukup hingga makan malam—sambil membawa pulang rantang makanan kemarin dan beberapa ekor ikan.

Siang itu adalah terakhir kalinya mereka bertemu. Keesokan harinya, lelaki itu tidak ada di sana. Penduduk kampung dan istrinya menduga ia tenggelam di dalam rawa. Ramai-ramai mereka mengubak rawa itu, menjajaki setiap lubuknya. Tapi, lelaki itu tak pernah ditemukan. Ia menghilang ditelan rawa.

Beberapa minggu kemudian, penduduk kampung itu geger. Ada orang yang mengaku melihat punggung seekor ular raksasa menyembul bergerak di tengah rawa. Berita segera menyebar. Ketika beberapa orang lainnya mengaku melihat hal yang sama, kampung semakin gempar. Mereka menghubungkannya dengan lelaki yang hilang di rawa itu: dia berubah menjadi siluman dan ular raksasa itu adalah penjelmaannya. Sejak itu, tak ada lagi orang yang berani memancing di rawa itu, terutama di waktu malam. Lelaki dan “siluman ular” itu dikenal sebagai Ki Lunto.

Fungsi Mitos

Tidak dapat dipastikan kapan dan di mana mitos Ki Lunto ini bermula sebab, meskipun mitos itu dikenal sejak lama di sekitar rawa Desa Pasir Ampo (Kecamatan Kresek), mitos yang sama dikenal juga di rawa-rawa berbagai wilayah lainnya di bagian barat Kabupaten Tangerang. Di wilayah ini, mitos Ki Lunto tampaknya merupakan mitos tentang rawa pada umumnya, bukan satu rawa tertentu.

Terlepas dari kapan dan bagaimana mitos Ki Lunto ini bermula, kepercayaan masyarakat sekitar akan adanya siluman penunggu rawa itu, secara tidak langsung, telah membuat habitat di dalam rawa itu relatif terjaga. Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika mitos Ki Lunto masih cukup kuat dipercaya, mereka yang berani memancing di rawa tersebut masih bisa mendapatkan ikan-ikan dengan ukuran besar karena hidup di habitatnya hingga usia maksimal. Dalam konteks pelestarian lingkungan, fungsi mitos yang demikian itu tampaknya terjadi juga di berbagai wilayah lain dengan mitos yang lain.

Di wilayah Gunung Slamet yang termasuk dalam empat wilayah kabupaten di Jawa Tengah (Banyumas, Purbalingga, Pemalang, dan Tegal), misalnya, masyarakat di sekitarnya—setidaknya, masyarakat tradisional di sana—mempercayai adanya tujuh “penunggu” gunung tersebut, yaitu Mbah Renti, Mbah Atas Angin, Mbah Tapak Angin, Mbah Semput, Mbah Brantayuda, Mbah Sapujagat, dan Mbah Raga. Jika orang hendak melakukan sesuatu di gunung ini, ia harus melakukan ritual permisi kepada mereka dan diperingatkan agar tidak melampaui batas. Kuatnya kepercayaan lokal terhadap kekuatan supranatural di kawasan Gunung Slamet itu, di antaranya, yang membuat kelestarian hutan di sana relatif terjaga.

Demikian juga dengan wilayah di seputar Gunung Merapi. Di sana beredar kepercayaan bahwa Gunung Merapi merupakan sebuah kerajaan gaib yang mempunyai hubungan dengan Keraton Surakarta, Pantai Selatan, Gunung Lawu, dan Kayangan Dlepih. Karena itu, bagi masyarakat sekitarnya, Gunung Merapi adalah sebuah gunung wingit, angker, sakral, yang harus selalu dihormati dengan cara pemberian sesajen atau ritual-ritual lainnya agar penguasanya tidak murka. Mitos-mitos itu kemudian melahirkan berbagai rambu-rambu, seperti larangan menebang pohon, berburu binatang di hutan, mencari rumput atau kayu bakar yang, pada gilirannya, telah menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut.

Pelestarian lingkungan bukanlah satu-satunya fungsi mitos. Berbagai penelitian antropologis menunjukkan fungsi-fungsi mitos yang beragam dalam suatu masyarakat, seperti mengukuhkan karakteristik sesuatu (misalnya, mitos keistimewaan Golok Ciomas), memelihara identitas kultural dan solidaritas komunitas (misalnya, mitos Orang Banten sebagai kiai/santri atau jawara), atau mempertahankan status sosial (misalnya, mitos keturunan seorang wali atau tokoh sakral).

Selain itu, mitos juga memiliki fungsi politis. Pada tahun 1614, raja ketiga Mataram, Sultan Agung Hanyakrakusuma (Mas Rangsang), menghancurkan bandar dagang Surabaya, bandar transit internasional untuk rempah-rempah yang sering dikunjungi armada dagang Portugis. Setelah menutup pintunya sendiri ke arah perniagaan internasional, Sultan Agung juga gagal menghalau koloni kecil Belanda di Batavia pada 1629. Dengan kekalahan ini, nyatalah bahwa Mataram telah kehilangan kekuasaannya atas Laut Jawa, wilayah pelayaran internasional pada masanya.

Untuk menghilangkan malu yang diderita sekaligus mempertahankan wibawa Mataram di mata rakyat dan pihak luar, para pujangga Keraton Jawa membuat cerita bahwa pendiri Mataram—Danang Sutawijaya alias Pangeran Ngabehi Loring Pasar (ayah Sultan Agung)—mempersunting puteri Laut Selatan yang diberi nama Nyi Roro Kidul. Selain untuk menunjukkan bahwa Mataram masih memiliki kekuasaan (fiktif) di laut, mitos itu juga berfungsi melemahkan mental para penguasa di wilayah selatan Pulau Jawa—yang memang sudah memiliki kepercayaan akan adanya penguasa lautan.

Namun, faktanya, Mataram tidak pernah menang melawan kekuasaan para penguasa laut dari Barat, bahkan setelah para rajanya “menikah” dengan Nyi Roro Kidul yang memiliki kekuasaan tanpa batas di lautan.

Satu lagi fungsi lain mitos adalah meneguhkan hak atas kepemimpinan. Ini berkenaan dengan mitos tentang kekuatan gaib yang disebut pulung atau wahyu keprabon Pada setiap musim pemilihan kepala desa—atau pejabat publik lainnya—masyarakat di Banten akan menunggu-nunggu turunnya pulung kepada salah satu calon. Mereka meyakini bahwa hanya calon yang mendapat pulung-lah yang berhak dan akan menjadi kepala desa yang sah. Sayangnya, tidak selalu demikian yang terjadi—yang tidak mendapat pulung bisa saja justru yang memenangkan pemilihan. Bahkan, terkadang bisa saja pendukung masing-masing calon mengklaim bahwa pulung sudah turun ke calon gacoan mereka.

Sebagaimana layaknya sebuah kepercayaan, sebuah mitos bisa dipegang oleh suatu masyarakat selama masih diyakini memiliki nilai sakral dan benar oleh masyarakatnya. Artinya, seiring perjalanan waktu dan perkembangan peradaban, bisa saja nilai kesakralan sebuah mitos memudar dan tidak lagi dipercaya masyarakat yang dulu meyakini kebenarannya. Pada kondisi itu, sebuah mitos akan diperlakukan hanya sebagai cerita fiktif, bahan penyedap obrolan, atau dongeng pengantar tidur.

Celakanya, ketika pudarnya nilai kesakralan sebuah mitos tidak dibarengi dengan pemahaman yang lebih holistik akan keserbaterkaitan berbagai unsur penyokong kehidupan, yang muncul adalah kecenderungan untuk mengeksploitasi berbagai hal yang mulanya—disengaja atau tidak—terjaga oleh mitos.

Ambil contoh wilayah rawa tempat beredarnya mitos Ki Lunto. Sekarang, orang-orang yang tak percaya pada mitos Ki Lunto tak segan-segan lagi menguras ikan yang ada di dalamnya atau merusak habitatnya—dengan memancing, menjaring, menjala, atau bahkan mencampurkan bahan kimia beracun ke dalamnya. [AD]

closing
Bagikan:

Tulis Komentar