Melihat Duniamu Mengingatkanku pada Musim

100
0
Bagikan:
Melihat Duniamu Mengingatkanku pada Musim

Melihat duniamu mengingatkanku pada musim. Pada bilah-bilah ekaliptus. Pada koala yang dengkurnya dihisap pasir. Pada bumerang yang kembali ke Tilba. Pada jarak Northbridge-Fremantle dan segerai rambut berwarna jagung.

Melihat duniamu, kuhidu lagi semerbak dinding Duxton. Juga aroma dua cangkir kapucino—di sudut menghadap sungai dengan angsa-angsa hitam. Dua potong kroasan yang kulaburi senyum kaurenyahkan dengan tawa.

Setiap detik habis, sekujur ruang lenyap. Ketika suara begitu bisik dan kata hanya terbata. Ketika setiap penggal sentuhan dirayakan. Ketika setiap tatapan ditukar dengan kecupan. Lalu diawetkan sel-sel ingatan seperti anggur yang diperam kenangan.

Melihat duniamu, kuingat juga keluh pedagang di Clementi yang wajahnya semerbak hio. “Di Orchard,” katanya, “manusia berkelebat seperti cahaya: Berbinar sesaat, mengabur, lalu lenyap, diburu entah apa. Gorong-gorong kota tersumbat bangkai Louis Vuitton, Kenzo, dan Versace. Tapi tak ada yang cukup pandai mengisi liang menganga di dada. Manusia menciut sebatas kulit”

Melihat duniamu, ada yang menguar dalam cuaca. Entah mimpi, entah harapan. Tapi, isyaratnya tereja pasti dan hati-hati: “Sekarang kita bukan siapa-siapa. Tanpa nisbah apa-apa. Kita memang riak samudera yang sama, tapi di pesisir yang berbeda”

closing
Bagikan:

Tulis Komentar