Buku Warisan Habib al-Munsyi

198
0
Bagikan:
Buku Warisan Habib al-Munsyi

Hafiz menyingkirkan lembaran kertas yang kedua sisinya telah dipenuhi coretan-coretan itu. Selama satu jam ini, itu adalah lembaran keempat belas. Dan selama lima belas hari terakhir ini, entah sudah berapa ratus lembar kertas penuh coretan yang telah disingkirkannya. Apa sebenarnya maksud tulisan ini?

Dengan bersarung, tanpa kopiah, Hafiz bersila di depan rehal yang dia fungsikan sebagai meja. Di sebelah kanannya—terbuka di atas meja—sebuah buku tebal penuh berisi tulisan tangan yang tidak ia mengerti. Sebuah lampu teplok kecil yang disangkutkan di bilik menjadi sumber penerangan yang redup. Kyai Muntaqo memang melarang penggunaan listrik di dalam kobong.[1] Lampu listrik hanya diberikan di gang-gang di antara deretan kompleks di lingkungan pesantren salafiyah itu. Itu pun hanya sebesar lima Watt di setiap sudut.

Hafiz membaca lagi baris-baris pertama tulisan itu untuk kesekian puluh kalinya:

Bahasa apa ini sebenarnya? Huruf yang digunakannya jelas-jelas huruf Arab. Atau, melihat tanda-tanda diakritiknya di beberapa halaman lain, tak salah lagi, itu adalah huruf Pégon.[2] Hafiz telah menggunakan huruf Pégon sejak ia masuk pesantren ibtidaiyah sepuluh tahun yang lalu dan ia mengerti betul seluruh variasi serta tanda diakritiknya. Akan tetapi, sekali lagi, bahasa apa yang dituliskan di sana? Sekilas terkesan seperti bahasa Arab, tetapi itu pasti bukan bahasa Arab. Sudah sejak berusia lima tahun Hafiz mengenal bahasa Arab dan belum pernah ia menemukan susunan seperti itu—bahkan dalam nazham-nazham[3] yang kerap menyalahi kaidah tata bahasa karena alasan dharūrah syi‘riyyah (urgensi puitis, licentia poetica) pun tak pernah ia temukan susunan kalimat seperti itu.

Mungkinkah ini bahasa Jawa?—sebagaimana tujuan diciptakannya huruf Pégon, yaitu menuliskan bahasa Jawa dengan aksara Arab. Tampaknya, bukan juga. Bahasa Melayu[4] pun bukan. Sejauh pengetahuannya, ini juga bukan bahasa Persia atau Urdu. Ia pernah sedikit belajar kedua bahasa tersebut. Dia memang tidak sampai mahir, namun, paling tidak, ia akan segera mengenalnya dari beberapa huruf atau partikel yang digunakan. Sayangnya, tulisan ini berbeda. Sangat berbeda. Bahkan beberapa coretannya Hafiz yakin jelas-jelas berasal dari aksara Ibrani. Apakah ini tulisan kombinasi antara aksara Arab dan Ibrani? Sungguh aneh.

divider

Buku bertulisan tangan aneh itu Hafiz terima dari Nabil  lima belas hari yang lalu. Sebuah warisan yang rupanya secara khusus dipersiapkan oleh Habib al-Munsyi untuk Nabil—putra tunggalnya. Nabil sendiri tidak mengerti apa maksud tulisan dalam buku tersebut. Dia juga tidak mengerti mengapa Abahnya mewariskan sesuatu yang menuntut kecerdasan dan kecerdikan seperti itu. Apakah Abah tidak puas bahwa selama hidupnya ia telah selalu menuntutku untuk terus berusaha berpikir cerdas sekaligus cerdik? Naluri pertemananlah yang kemudian mendorongnya untuk meminta bantuan Hafiz—sekalipun ia sendiri tidak yakin bahwa Hafiz akan mampu memecahkannya. Tetapi, Hafiz adalah salah seorang santri cemerlang yang dikenalnya—yang paling cemerlang, bahkan.

“Jangan-jangan, diam-diam Abah mewariskan harta karun berlimpah atau tanah seratus hektar di Anyer untukku. Kalau benar begitu, paling tidak, kau tak perlu jatuh kasihan setiap kali melihat peci lasun[5]-ku,” kelakar Nabil ketika ia mengantarkan buku itu ke kobong Hafiz lima belas hari yang lalu.

Peci yang dikenakan Nabil mungkin dibeli beberapa tahun yang lalu. Warnanya sudah tak hitam lagi, sudah kusam kemerah-merahan. Karena warnanya yang seperti bulu rubah itulah, teman-temannya menyebutnya peci lasun.

Nabil adalah contoh keturunan Arab yang sudah tidak terlihat lagi kearabannya. Hidungnya tidak terlalu bangir—ini tentu karena pengaruh gen ibunya, Emak Rokayah, perempuan lokal keturunan asli Kresek. Bahasa yang digunakan sehari-hari dalam keluarga Nabil adalah bahasa Jawa Banten, sebagaimana semua tetangga sekampungnya. Habib al-Munsyi bahkan tidak pernah menyebut-nyebut leluhurnya yang berasal dari Hadramaut. Kalaupun seluruh penduduk di kampung itu tahu bahwa ia adalah seorang Habib, itu karena cerita turun-temurun yang telah beredar sejak puluhan tahun lalu tentang siapa anak siapa dan dari mana asalnya. Lagi pula, tidak seperti kebanyakan keturunan Arab, Habib al-Munsyi bukan seorang pedagang atau tuan tanah kaya. Ia hanya petani darat sekaligus guru mengaji untuk anak-anak. Dia juga tidak mempunyai pesantren. Hidupnya terlalu bersahaja—bahkan, dapat dikatakan cukup miskin—sampai saat meninggalnya sebulan yang lalu.

divider

Apakah setiap huruf itu melambangkan sebuah huruf yang lain? Hafiz belum pernah mengetahui teknik substitusi atau distribusi dalam kriptologi—ia bahkan tidak tahu apa itu kriptologi dan belum pernah mempelajarinya. Itu hanya tebakannya saja. Tetapi, kalau setiap huruf melambangkan sebuah huruf yang lain, lalu bagaimana pemetaannya? Satu tanda untuk satu kata? Hafiz kembali mencoret-coret, memetakan berbagai kemungkinan. Entah kenapa, dia yakin buku itu ditulis dalam bahasa Arab yang disandikan.

Sebenarnya, itu sebuah keyakinan yang tidak beralasan. Kalau huruf Arab bisa digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, Sunda, atau bahasa Melayu, apa alasannya sampai-sampai dia yakin bahwa tulisan-tulisan itu memuat bahasa Arab? Mungkin saja itu bahasa Jawa Banten atau bahasa lainnya. Habib al-Munsyi adalah keturunan Arab dari Hadramaut yang leluhurnya telah ratusan tahun beranak-pinak di Kresek dan bahasa Jawa Banten adalah bahasa pertamanya.

Tiba-tiba, bayangan seseorang muncul di pintu kobong-nya yang terbuka dan mengalihkan konsentrasinya. Nabil.

“Aku menemukan kuncinya,” sergah Nabil dengan intonasi meyakinkan. Sarungnya tergulung ke atas hingga bagian bawahnya menggantung setinggi lutut. Ia membawa segelas kopi yang masih mengepul dan bertumpahan ke bibir gelasnya. Hafiz menebak, kantong plastik di tangan kirinya pasti berisi martabak kacang kesukaannya. Ah, Nabil memang teman yang penuh pengertian.

Hafiz mendongak ke arah Nabil yang masih berdiri di ambang pintu. Nabil melihat wajah Hafiz menjadi tegang mendengar kalimatnya barusan. Ketegangan itu justru membuat Nabil senang karena itu berarti bahwa Hafiz telah sampai pada titik penasaran. Kalau sudah penasaran, Hafiz tak akan berhenti sebelum mendapatkan kepastian jawabannya. Nabil tahu benar itu karena Nabil-lah yang menjadi tempat curhat Hafiz ketika tahun lalu dia mati-matian berusaha mendapatkan Teh Ai, anak Kyai Rifa‘i.

“Aku menemukan ini. Aku yakin ada hubungannya.” Nabil mengeluarkan sesuatu dari kantong plastiknya. Sebuah buku tipis kecil. Ck, bukan martabak, ternyata.

“O, ya? Apa itu?” Hafiz berusaha berbicara tanpa nada kecewa. Nabil tidak memperhatikan itu.

Tergesa-gesa, Nabil bersila di sebelah kiri Hafiz, cepat membuka halaman pertama dari sampul kanan, dan menyorongkannya. “Lihat ini.”

Hafiz meletakkan buku kecil itu di mejanya dan mulai meneliti bagian-bagian di halaman yang ditunjukkan Nabil, sementara Nabil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan antusias.

Halaman itu berisi sebuah bingkai ornamen arabesk yang khas. Bagian luarnya berbentuk segi empat sementara bagian dalamnya berbentuk oval. Di tengahnya terdapat gambar stilasi sebuah kunci kuno yang dikelilingi dua kalimat dalam huruf Arab yang membentuk lingkaran. Sebuah nazham satu baris yang terdiri dari dua sathar.[6] Kalau yang ini, Hafiz dapat langsung membacanya—sebuah kalimat bahasa Indonesia/Melayu yang ditulis dengan huruf Jawi:

“Rubah merah melompat tiga kali. Diikuti kelinci sekali-sekali.”

Hafiz tercenung. Sepertinya nazham ini pernah dia dengar sebelumnya. Hafiz mengingat-ingat kapan dan di mana. Mungkin ketika di ibtidaiyah dulu. Sepertinya, ini salah satu nazham bikinan anak-anak dalam salah satu pelajaran bahasa Arab. Tetapi, apa hubungannya dengan ilustrasi kunci itu?

“Kalau kita bisa paham nazham ini, kayaknya kita bakal bisa tahu maksud tulisan rahasia di buku itu,” ucap Nabil seperti bisa membaca pikiran Hafiz.

“Lalu, bagaimana mengartikan nazham ini supaya bisa kita pakai untuk membaca tulisan itu?” tanya Hafiz.

“Tenang. Kemarin, gua bongkar deretan kitab koleksi Abah gua di rumah. Gua berharap bisa dapat petunjuk untuk membaca buku warisan itu. Benar aja. Pas gua buka laci di bawah lemari buku, gua nemu buku ini. Mungkin cuma firasat gua, tapi gua kok ngarep banget buku kecil ini bisa jadi kunci. Apalagi pas gua liat di pojok kanan atas sampulnya ada lambang yang sama yang ada di sampul buku warisan. Juga karena gambar kunci itu.

“Terua gua hubungi Hilya dan  gua ceritain soal nazham ini. Gua ingat deretan huruf di baris pertama di buku warisan Abah, jadi gua ceritain juga sekalian. Hilya janji mau coba cari pemecahannya.

“Nah, sore tadi, Hilya nyampein pemecahan terbaik yang dia dapet. Gua lupa istilah bahasa Inggris yang dia sebut. Kalau gak salah, dia nyebut-nyebut ELS[7] atau apalah gitu. Gak tau juga kepanjangannya. Tapi, prinsip kerjanya begini. Rubah merah melompat tiga kali. Artinya, ambil setiap huruf di posisi kelipatan tiga. Diikuti kelinci sekali-sekali. Artinya, ganti huruf-huruf tersebut dengan huruf-huruf berikutnya dalam abjad. Maka, kau akan temukan bacaannya.”

“Begitu? Coba, coba, kita tes dulu.”

“Ya, coba dulu. Aku sendiri belum mencobanya.”

Hafiz menarik buku warisan di depannya dan memperhatikan kalimat pertama. Diambilnya sehelai kertas yang masih kosong, menyalin kalimat pertama di sana, lalu mulai menuliskan setiap huruf pada posisi ketiga.

“Huruf-huruf di posisi kelipatan tiga… alīf, nūn, lām, syīn, tsā, hā. Ganti dengan huruf berikutnya dalam abjad: bā, waw, mīm, shād, jīm, yā. Biwamshujā. Būm shajī. Būm shajā. Bom saja?!” Hafiz tercekat. Jantungnya berdebar lebih cepat.

“Bom saja?!” ulang Nabil dengan wajah terpana sedikit pucat. “Abahku seorang teroris?!”

“Tunggu, tunggu. Aku juga tidak percaya. Pasti ada yang kurang pas. Kita cek dulu kalimat-kalimat yang lain dengan cara ini. Kalau bisa terbaca sebagai sebuah kalimat yang bisa dimengerti, kemungkinan besar kunci pemecahan sandi yang diberikan Hilya benar. Kalau tidak, pasti ada yang meleset dalam perhitungannya. Atau, mungkin saja nazham ini memang tidak ada hubungannya dengan tulisan yang akan kita baca,” usul Hafiz berusaha menenangkan Nabil—dan dirinya sendiri.

“Ya, ya, coba kalimat-kalimat berikutnya,” sambut Nabil mulai tegang.

Hafiz menyalin dua baris pertama secara lengkap lalu kembali memisahkan setiap huruf pada posisi ketiga dalam satu baris. Satu huruf yang diduganya aksara Ibrani ia tulis sebagai tanda tanya karena dia juga belum tahu arti huruf-huruf Ibrani itu. Di baris berikutnya, dia ganti huruf-huruf itu dengan huruf berikutnya dalam alfabet aksara Arab:

Hafiz berhenti menulis. Tangannya bergerak-gerak di atas kertas, tetapi tak ada yang ditulisnya. Beberapa kali tangannya turun seperti hendak menuliskan sesuatu, lalu diangkatnya lagi. Nabil juga melihat deretan huruf hasil pemecahan menurut cara yang ditunjukkan Hilya tak bisa dirangkai menjadi kalimat yang bisa mereka mengerti. Apakah, jangan-jangan, huruf-huruf itu merupakan sandi untuk lokasi-lokasi tujuan pemboman? Jantung Nabil berdebar-debar.

“Ada yang salah,” gumam Hafiz. “Pasti bukan begini cara pemecahannya.” Dia berusaha membuang dugaan buruk terhadap Habib al-Munsyi yang dihormatinya.

“Mungkin bukan Pégon? Mungkin Persia atau Urdu?” ucap Nabil, masih belum bisa menghilangkan kekagetan dan kekhawatirannya.

Hafiz tidak menjawab. Ia menimbang-nimbang kemungkinan bahasa apa yang dituliskan di sana.

divider

Selain digunakan untuk menuliskan bahasa Arab, Aksara Arab juga digunakan oleh negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim untuk menuliskan bahasa mereka. Bahasa-bahasa yang (pernah) menggunakan huruf Arab untuk penulisannya di antaranya adalah bahasa Persia, Pashto, Urdu, Kurdi, Turki, Tajik, Uighur, Melayu, dan Jawa. Namun, pada akhir Abad Kedua Puluh, sebagian besar bahasa-bahasa itu tidak lagi dituliskan menggunakan huruf Arab, digantikan dengan huruf Latin. Di negara-negara Asia Tenggara—seperti di Brunei, Malaysia, Indonesia, Muangthai, Singapura, dan Filipina—huruf Arab hanya bertahan dalam tulisan-tulisan yang bersifat keagamaan Islam.

Karena perbedaan fonologi, biasanya masing-masing bahasa mengembangkan simbol-simbol tambahan untuk mengadopsi bunyi fonem yang tidak terdapat dalam bahasa Arab. Misalnya, fonem /p/ yang tidak terdapat dalam fonologi bahasa Arab dibuatkan karakter tersendiri  ڤ  (modifikasi huruf Arab  ف). Fonem sengau /ng/ dan /ny/ dalam bahasa-bahasa Nusantara ditulis sebagai  ڠ  dan  پـ  (modifikasi  غ  dan  ي). Modifikasi untuk penulisan bahasa-bahasa Nusantara ini diadopsi dari aksara Arab-Persia yang sekaligus juga menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Persia dalam masa-masa awal penyebaran Islam di Nusantara.

Selain modifikasi bentuk huruf dasar, kaum Muslim di Jawa juga mengembangkan tanda-tanda vokal (harakat) tambahan untuk mengakomodasi bunyi-bunyi vokal yang khas dalam bahasa mereka. Selain fathah, kasrah, dhammah, dan sukun yang ada dalam bahasa Arab, huruf Pégon juga memiliki tanda-tanda harakat untuk /e/ pepet (berupa hamzah), /é/ (berupa fathah diikuti dengan huruf yā sukun), dan /o/ (berupa fathah diikuti dengan huruf waw sukun). Dalam praktiknya, masing-masing tradisi bisa saja mengembangkan simbol-simbol lokal tambahan sendiri, terutama pada tanda-tanda diakritik (harakat). Para pengguna Huruf Pégon di wilayah Banten, misalnya, menggunakan ombak/tilde (~) untuk menandai vokal /e/ pepet—bukannya hamzah sebagaimana umumnya digunakan dalam bahasa Pégon.

divider

Hmmm. Mungkinkah Habib al-Munsyi menguasai bahasa lain selain Sunda, Jawa, Arab, Belanda, dan Inggris? Hafiz tahu, Habib al-Munsyi mengenal juga bahasa Persia dan Turki. Akan tetapi, setahunya, penguasaan Habib al-Munsyi belum memungkinkannya untuk menulis sebuah buku dalam kedua bahasa tersebut. Lagian, kalau benar buku ini ditulis dalam bahasa Persia atau Urdu, Hafiz yakin akan bisa mengenali huruf-hurufnya, sekalipun ia mungkin tidak bisa memahami artinya. Ataukah Hafiz salah? Jangan-jangan, Habib al-Munsyi juga menguasai bahasa-bahasa lain tanpa sepengetahuannya. Kata al-munsyi adalah sebutan untuk seorang poliglot, seseorang yang menguasai berbagai bahasa. Nama yang digunakan sebagai panggilannya itu tentu bukan tanpa alasan. Terlebih lagi ketika panggilan itu bahkan telah menenggelamkan nama Lathif, nama aslinya, sehingga hampir tak ada lagi orang sekampungnya yang tahu bahwa namanya adalah Lathif bin Ahmad Kawileh.

“Sebentar, aku telpon Hilya. Mungkin ada petunjuk lain yang luput dia periksa,” Nabil mengambil inisiatif setelah dilihatnya Hafiz tercenung agak lama.

“Ah, dia pasti sudah tidur jam segini.”

“Dia akan terbangun. Aku sudah minta dia untuk stenbay.”

Nabil menekan beberapa nomor pada layar Android-nya, lalu diam menunggu nada sambung. Malam-malam begini, gadis-gadis Jakarta seusia Hilya mungkin masih asyik dugem. Namun, tidak demikian dengan Hilya. Dua tahun kuliah di jurusan Teknik Informatika dan indekos di Jakarta tampaknya tidak banyak mengubah Hilya. Dia tetap saja masih gadis rumahan yang biasa. Setidaknya, itulah kesan Nabil setiap kali mereka bertemu kalau Hilya sedang pulang ke Kresek.

 Tangan Nabil bergerak meraih gelas kopi yang belum sempat dinikmatinya. Setengah bungkus rokok Djie Sam Soe ia keluarkan dari saku baju, mengambil sebatang, sisanya ia sorongkan ke depan Hafiz. Asap rokok yang ia sulut ditahannya dalam-dalam. Sisanya, dia hembuskan bersama keresahannya.

“Ada apa, Bing?” terdengar sebuah gumaman malas suara wanita di ujung sambungan.

“Il, udah tidur, ya? Sori.”

“Soal sandi itu ya, Bing?”

“He-eh. Aku dan Hafiz sudah coba cara pemecahanmu, tapi belum berhasil.”

“Belum berhasil? Maksudmu, kau kesulitan menemukan setiap huruf ketiga dan memetakannya ke huruf berikutnya?”

“Ah, kau tahu aku tidak sebodoh itu, kan, Il.” Nabil agak terganggu dengan aroma ucapan Hilya yang terasa meremehkan. Tetapi, Nabil maklum. Keramahan bukanlah sesuatu yang bisa diharapkan dari orang tidur yang dibangunkan tiba-tiba tengah malam begini.

“Sori, sori. Lalu?” suara Hilya masih terdengar malas.

“Hasil pemetaannya tidak bisa dibaca sebagai kalimat.”

“Mungkin dalam bahasa yang kalian tidak mengerti?”

“Mungkin. Tapi, pasti juga bukan dalam bahasa yang Abahku mengerti. Sunda, Jawa, Indonesia, Belanda, Inggris, sedikit Persia, sedikit Urdu—itu yang Abahku bisa.”

“Hmmm… gitu ya?”

“Apa ada petunjuk lain yang mungkin luput dari nazham itu?”

“Entahlah. Aku sendiri nggak terlalu mengerti. Sebenarnya, pemecahan itu aku dapat dari … Gigih. Mmm, jangan khawatir, dia enggak tahu aku dapat dari mana,” tiba-tiba Hilya merasa bersalah.

Gak pa-pa.” Sialan. Ternyata semua urusan Hilya harus diketahui Gigih. “Mungkin dia menyampaikan sesuatu yang luput kamu sampaikan ke aku?” Pasti sudah semua! Huh! Si Gigih pun pasti tidak cukup pandai untuk memecahkannya!

“Mmm, apa, ya? Seingatku, sih, sudah semua,” Hilya mengingat-ingat lagi. Ah, pasti Abing melakukan kesalahan seperti kesalahanku tadi. Hilya teringat sesuatu yang membuatnya berubah bersemangat.

Sebenarnya, “setengah” pemecahan atas tulisan sandi itu Hilya temukan sendiri, tetapi memang Gigihlah yang melengkapinya. Mulanya, Hilya menebak bahwa tulisan itu harus dibaca dengan memisahkan setiap huruf pada posisi ketiga lalu menggantikan masing-masingnya dengan huruf berikutnya dalam alfabet. Tetapi, ketika ia coba membaca baris pertama yang Abing kirimkan, huruf-huruf yang ada tak bisa dirangkai menjadi kalimat. Setelah berusaha lagi berkali-kali dan tak berhasil, akhirnya Hilya menghubungi Gigih. Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, Gigih lalu menyebutkan satu kemungkinan: coba hitung setiap spasi sebagai satu huruf.

“Kau pasti tidak menghitung spasi,” tebak Hilya, yakin bahwa Nabil telah melakukan kesalahan yang sama.

“Apa, tuh?”

“Hitung setiap spasi sebagai satu huruf.”

Nabil terdiam sesaat.

“Aaah! Mungkin itu!” Nabil menoleh ke arah Hafiz dan mengulangi kalimat Hilya seperti mendiktekan sambil menunjuk ke arah coret-coretan Hafiz: “Hitung setiap spasi sebagai satu huruf.”

Hafiz mengerti maksud Nabil. Ia segera melingkari setiap huruf ketiga. Kali ini, setiap spasi dia hitung sebagai satu huruf.

“Betul, kan, Bing?” tanya Hilya di seberang sana.

“Betul, tadi kami tidak menghitung spasi. Sebentar, sang pemecah sandi sedang bekerja.”

Hafiz menyambung semua huruf yang sudah dia pisahkan dan ganti itu menjadi satu rangkaian, mencoba menyisipkan spasi antar kata, lalu membacakan hasilnya:

Bā-waw-kāf-waw-alīf-nūn-yā… Bū-kū i-nī kū-tī-tip-kan, tanda tanya, sha-ha-bat-kū la-thīf al-mun-syī…. Anjrit! Ini huruf Jawi, Bing!” Hafiz hampir melompat saking senangnya.

Hilya mendengarnya dari seberang sana. “Jadi, ternyata buku itu bukan milik Abahmu, Bing. Itu titipan seseorang,” bongkar Hilya terus terang.

“Hah? Jadi, kau sudah tahu?” sergah Nabil.

“Aku sudah coba membaca baris yang kau kirimkan. Tapi…, aku tak yakin,” jawab Hilya berbohong pada akhir kalimatnya.

Abing jelas bukan Gigih. Setelah sempat berhubungan dekat dengan Abing selama dua tahun dan berakhir dengan ketidakjelasan, Hilya paham betul bahwa Abing bukan tipe cowok yang bisa dengan enteng mengakui kelebihan seorang cewek. Karena itu, ia memilih untuk tidak menyinggung egonya, terutama di malam buta begini.

“Oke. Syukran banget, Il. Sori, mengganggu tidurmu. Sekarang, silakan tidur lagi, deh. Aku ada proyek besar yang harus kuselesaikan,” kata Nabil riang.

“Oke. Salam untuk Hafiz, ya….”

“Tentu. Tapi, janjiku mau membagimu seratus meter tanah sepanjang pantai Anyer terpaksa kubatalkan karena ternyata itu bukan buku warisan dari Abahku. He-he-he….”

“Ha-ha-ha… Bay, Bing. Salam ’alaikum.”

Wa’alaikum salaaam.”

Sambil meletakkan telepon genggamnya, Nabil kembali merapat ke sisi kiri Hafiz.

 “Alhamdulillaaah. Oke. Sekarang, cari, ada nggak sih bagian yang menyebutkan harta warisan atau tanah seratus hektar?” desak Nabil sambil tersenyum. Ekspresinya semringah seperti baru terbebas dari dakwaan sebagai teror bom.

Hafiz menoleh ke arah Nabil seperti keheranan. Tiba-tiba, ia tertawa tergelak-gelak. Ia segera sadar Nabil bercanda dengan pertanyaannya tadi. Nabil menimpali tawa Hafiz dengan tawanya sehingga mengundang gedoran berkali-kali di dinding bilik kobong.

“Hei, Mang, Mang, kira-kira, dooong…. Udah malem, nih!” terdengar suara lesu seseorang yang mengantuk di kobong sebelah.

Hafiz dan Nabil segera menurunkan volume tawanya, tetapi tidak berhenti. Hafiz lega. Dia tahu mereka telah menemukan kunci untuk membaca tulisan sandi di buku warisan tersebut.

Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa informasi yang akan mereka temukan di dalam buku itu bakal mengancam keselamatan mereka. [AD]

closing

[1] Kobong adalah ruangan tempat tinggal santri di pesantren salafiyah di wilayah Banten. Masyarakat setempat menyebutnya juga balé rombéng (balai butut). Biasanya, setiap kobong dihuni beberapa orang.

[2] Huruf Pégon adalah huruf Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa. Jenis tulisan ini masih lazim digunakan oleh para santri di pesantren-pesantren tradisional ketika “nyoret” (menuliskan fungsi sintaksis kata dan artinya) sebuah kitab. Kata Pégon konon berasal dari bahasa Jawa, pégo, yang berarti “menyimpang”, karena bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

[3] Syair didaktik dengan jumlah suku kata tertentu..

[4] Huruf Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu disebut huruf Jawi.

[5] Musang.

[6] Setengah baris. Satu baris nazham biasanya dibagi menjadi dua bagian yang dipisahkan dengan tanda pagar (#).

[7] ELS (Equidistant Letter Sequences) atau Rangkaian Huruf Sejarak adalah metode pemecahan kriptografi yang digunakan untuk mengetahui sebuah pesan tersembunyi dalam sebuah teks dengan cara menemukan huruf-huruf yang berjarak sama dari huruf awal yang dipilih secara sembarang.

Bagikan:

Tulis Komentar