Surat Husayn Jamshidi untuk Anne Templeton

91
0
Bagikan:
Surat Husayn Jamshidi untuk Anne Templeton

#1
Aku lahir di sini, Ann, di negeri yang dianggap busuk ini. Di sinilah helai rambutku tumbuh dan luruh. Sebentar hijau seperti tunas, lalu menguning serupa daun-daun yang mati ditelan hari. Sesaat menjulur, sebelum terbujur.

Tahun-tahun yang rubuh dicatat sebagai masa lalu dalam deretan keluh. Atau bilangan sesal pada pergantian gagal dan sial. Harapan adalah barang mewah. Mimpi adalah khayalan yang enggan singgah. Rencana adalah kompas yang salah arah.

#2
Aku besar di sini, Ann, di negeri yang dianggap busuk ini. Di sini, iman telah menggelap. Ia mengimpit, mendesakkan sesak, lalu menguap, sisakan jelaga pekat. Misteri telah terlucuti dan sunyi tak lagi menciutkan nyali. Bahkan huruf-huruf yang semula suci telah sedemikian basi dan tak pantas disebut puisi.

Ia hanya prosesi kegelisahan yang menolak usai. Kegundahan yang enggan selesai. Ia hanya helai-helai kefanaan dengan mahkota sembilu, bukan lagi tonggak-tonggak waktu tempat aku biasa mengikatkan rindu padamu.

#3
Aku bertahan hidup di negeri yang dianggap busuk ini, Ann. Di sini, kebencian ditanam dan dirawat. Kedengkian diserbuki kutuk dan laknat. Rambu-rambu disebar di segenap penjuru: “Siapa yang berjalan di seberang adalah musuhmu”.

Kesunyian menjadi gempita dan ingar-bingar. Kesyahduan menjelma bilah pedang dan kelewang. Hidup mendangkal sebatas tubuh yang siap diledakkan demi janji-janji kenikmatan dan kekekalan. Anugerah dipermainkan. Kasih sayang dinistakan. Kedamaian diolok-olok sebagai bualan.

#4
Aku tak ingin mati di negeri yang dianggap busuk, Ann. Negeri kepedihan. Benih-benih perenungan mati sia-sia di atas hati yang mengharamkan cahaya. Bahkan semak yang tumbuh pun hanya berupa kedunguan dan kebebalan yang mengelabui fakta.

Perkamen masa lalu perlahan-lahan mengatup. Kasidah yang ditabung berabad-abad dipaksa meredup. Di sini, kemanusiaan menciut. Cinta kasih lucut. Manusia bukan lagi tanaman yang tumbuh dengan cahaya, ke arah cahaya, tapi sejenis hewan dengan amarah dan syahwat belaka.

#5
Ini memang bukan negerimu, Ann. Di sini darah disajikan dalam cangkir porselen menggantikan cokelat hangat. Tak ada kafe, butik, mal, atau bank. Semua telah dinajiskan jarum jam yang mundur berabad-abad. Bahkan semesta hanya dianggap selebar pelepah kurma.

Jenismu hanya seonggok payudara dan vagina. Jenismu hanya seharga selangkangan lelaki yang harus kaupuaskan. Menampilkan diri adalah pembangkangan. Menjadi cerdas adalah kedurhakaan. Tempat yang disediakan untuk jenismu adalah neraka di dua alam: di bumi dan di keabadian.

#6
Syukurlah, ini bukan negerimu, Ann. Bertahanlah di sana saja, di negerimu yang selalu siang itu, yang malamnya diterangi lampu-lampu. Tunggulah aku di situ. Kuharap, kelak kelembutan senyummu yang bakal menguburkanku, keteduhan matamu menaungi nisanku.

closing
1
Bagikan:

Tulis Komentar