Independensi Wanita Muslim

78
0
Bagikan:
Independensi Wanita Muslim

Salmā, Wanita Banu Asad, dan Khadījah

Namanya Salmā binti ‘Amr. Di Yatsrib, pada paruh pertama abad ke-5 M, Salmā berdiri di tengah pasar sambil memberikan perintah kepada beberapa lelaki yang mengelilinginya. Ia adalah janda muda pengusaha yang kaya, cerdas, dan telah berulang kali menolak lamaran beberapa pria yang ingin memperistrinya.

Sebagai wanita independen, Salmā selalu mengajukan syarat bahwa dia akan menikah hanya jika pria yang menjadi suaminya menyetujui untuk tetap memberikan kebebasan kepadanya dalam mengatur dirinya sendiri. Jika kemudian ternyata dia tidak menyukai suami yang dinikahinya, dia juga berhak untuk menceraikannya. Pria yang baru diceraikannya adalah Uhayhah bin al-Julah— yang telah memberinya seorang putra, ‘Amr bin Uhayhah.

Hari itu, ‘Amr bin ‘Abdi Manāf—lebih dikenal sebagai Hāsyim—tiba di Yatsrib dalam perjalanan pulang ke Makkah setelah berdagang ke Syam (Suriah). Begitu melihat Salmā, ‘Amr langsung klepek-klepek terhantam love at the first sight. Tapi, ‘Amr juga sadar bahwa dia tidak akan tertarik kepada wanita sembarangan. Salmā ini pasti istimewa. Setelah mengetahui syarat yang ditetapkan Salmā seperti disebut di atas, ‘Amr pun segera mengajukan diri untuk dilamar oleh Salmā.

Gayung bersambut: Salmā bersedia mengambil ‘Amr sebagai suaminya. Pesta pernikahan dilangsungkan di kawasan klan Najjār suku Khazraj. Klan inilah yang kelak— lebih dari seratus tahun kemudian —menampung dan melindungi Rasulullah Muhammad SAW ketika beliau hijrah meninggalkan Makkah. Setelah beliau datang berhijrah, kota Yatsrib kemudian dikenal sebagai Madīnah al-Rasūl dan disingkat menjadi al-Madīnah.

Dari pernikahan ‘Amr dan Salmā, lahirlah Ruqayyah, anak pertama mereka. Setelah itu, sekitar 497 M, lahirlah seorang bayi dengan rambut kelabu di sebagian kepalanya. Karena itu, bayi lelaki tersebut mereka beri nama Syaibah (“Uban”), yang kemudian lebih dikenal dengan nama ‘Abdul Muththalib (kakek Rasulullah).

Di Makkah, pada awal paruh kedua abad ke-6, putra ‘Abdul Muththalib (d/h Syaibah) yang bernama ‘Abdullāh menjadi rebutan para wanita Quraisy. ‘Abdul Muththalib bernazar akan menyembelihnya jika dia dikaruniai 10 anak. Tetapi, rencana penyembelihan ‘Abdullāh batal karena Hubal ternyata menerima tebusan 100 unta.

Setelah batal disembelih itulah ‘Abdullāh semakin menjadi idam-idaman banyak wanita yang berhasrat meminangnya sebagai suami. Tetapi, hanya seorang wanita dari klan Asad yang berani berterus terang mengajukan lamarannya: “Jika kau bersedia menjadi suamiku, aku akan berikan unta sejumlah yang telah dikurbankan untuk menebus nyawamu.”  Wanita yang tidak disebutkan namanya ini masih berkerabat dengan Waraqah bin Nawfal, sepupu Khadījah binti Khuwaylid.

Tentu saja, wanita independen yang paling terkenal dalam sejarah Islam adalah Khadījah binti Khuwaylid, Ummul Mukminin, istri pertama Rasulullah. Setelah dua kali menjanda, Khadījah memilih hidup sendiri dan terbebas dari keharusan mengurusi suami.

Lamaran beberapa orang pembesar Quraisy telah ditolaknya—mungkin karena ia mengendus bahwa motif utama mereka adalah mengincar kekayaannya. Kehidupannya yang nyaman berkat kekayaannya—meski tidak didapatnya dengan mudah—membuatnya tetap mampu merawat diri sehingga, di usianya yang 30-an[1], ia masih terlihat cantik dengan roman wajah yang selalu berseri dan menyenangkan.

Pada sebuah musim dagang ke utara, melalui perantaraan Abū Thalib, Muhammad bin ‘Abdullah dipercaya untuk mengelola kafilah dagang Khadījah menuju Syam. Dari beberapa pertemuan dalam hubungan bisnis itulah Khadījah  yakin bahwa ia telah menemukan pria yang pantas untuk mendampinginya. Selain jujur dan memiliki naluri bisnis yang kuat, Rasullullah juga seorang pria ganteng dengan gaya rambut (dalam beberapa riwayat) dikepang empat dan diwarnai jingga dengan henna.[2] Berbagai keutamaan itulah yang kemudian mendorong Khadījah untuk melamar Muhammad kepada walinya, Abū Thalib, dengan mengirimkan utusannya, Nufaysah binti Mun-yah.

Tokoh Wanita pada Kurun Sahabat dan Tabi‘in

Banyak tokoh wanita yang disebutkan dalam sumber-sumber awal sejarah Islam, terutama para wanita dari kalangan Sahabat, yaitu mereka yang hidup sezaman dengan Rasulullah, sejak kemunculan Rasulullah di panggung sejarah sebagai nabi. Beberapa di antaranya adalah:

  • Para istri Rasulullah (Khadījah  binti Khuwaylid, ‘Aisyah binti Abī Bakr, Hafshah binti ‘Umar, Māriyah binti Sam‘ūn al-Qibthiyyah, dll.).
  • Empat putri beliau (Zaynab, Ruqayyah, Ummu Kultsūm, Fāthimah).
  • Ummu l-Fadhl (istri ‘Abbās bin ‘Abdil Muththalib, wanita kedua yang masuk Islam).
  • Halimah al-Sa’diyah (bunda susuan Rasulullah).
  • Fathimah binti al-Khaththāb (adik ‘Umar bin al-Khaththāb).
  • Ummu Ma‘bad (penduduk Qudayd, dalam perjalanan Hijrah).
  • Ummu Hānī Fākhithah binti Abī Thālib (sekitar peristiwa Isra wal-Mi‘raj).

Dari kalangan kaum Quraisy penentang Rasulullah juga disebut beberapa nama wanita:

  • Hind binti ‘Utbah (yang mencongkel dan memakan hati Hamzah bin ‘Abdil Muththalib dalam Perang Uhud)
  • Ummu Jamīl (istri Abū Lahab yang menebarkan duri di jalan yang dilalui Rasulullah).
  • Sajāh binti al-Hārits (yang mengklaim sebagai nabi untuk Suku Tamīm di Arabia Timur). Sajāh ini kemudian diperistri Musaylamah bin Habīb al-Hanafī yang mengklaim sebagai nabi di al-Yamāmah—kaum muslim menyebutnya, Musaylamah al-Kadzdzāb.

Kelangkaan Tokoh Wanita Sesudah Kurun Sahabat dan Tabi‘in

Anehnya, tidak banyak tokoh wanita yang muncul dalam sejarah Islam selepas masa Sahabat dan Tabi‘in, baik sebagai tokoh bisnis, politik, maupun sarjana (ulama). Sebagai gambaran awal, bisa dilihat daftar ulama wanita di Wikipedia yang dirunut berdasarkan kurun hidupnya. Tentu saja, daftar di Wikipedia itu belum memasukkan semuanya. Namun, jikapun berhasil dihimpun nama semua sarjana muslim wanita sesudah kurun Sahabat dan Tabi‘in, tampaknya tetap “tidak ada apa-apanya” dibandingkan jumlah sarjana muslim pria.

Upaya menghimpun nama para tokoh wanita—khususnya, dalam bidang periwayatan dan ilmu hadis—dilakukan Mohammad Akram Nadwi melalui karyanya, Al-Muhaddithat: the Woman Scholars in Islam (Oxford & London: Interface Publications, 2007). Di dalam kata pengantarnya (hlm. XV), Nadwi mengeklaim telah berhasil mengumpulkan catatan biografis sekitar 8.000 tokoh wanita perawi hadis. Sayangnya, di dalam buku itu sendiri (314 halaman) Nadwi “baru” menyebutkan sekitar 300 nama wanita perawi hadis—itu pun sebagian besarnya terkonsentrasi pada masa Sahabat dan Tabi‘in.

Yang juga mencolok, bahkan pada kurun ketika dunia keilmuan dalam perdaban Islam berkembang pesat (abad VIII–XIV Masehi), tampaknya sarjana muslimah tetap tidak mencapai jumlah satu persen dari total sarjana muslim. Tentu saja, demi bersikap adil, hal yang sama juga terjadi dalam peradaban-peradaban lain, termasuk peradaban Barat.

Kelangkaan tokoh sarjana muslimah ini, diakui atau tidak, besar kemungkinan disebabkan berbagai aturan fikih yang membatasi—bahkan mengungkung—kaum wanita. Sudah galibnya, sebagian kalangan tentu akan menyanggah hal tersebut dengan berbagai argumentasi. Namun, faktanya, kebanyakan wanita muslim memang hidup di bawah kekangan hukum-hukum fikih yang sangat membatasi kesempatan mereka untuk mengaktualisasikan potensinya.

Kondisi Wanita Muslim di Zaman Modern

Bukan rahasia bahwa kebanyakan wanita muslim harus hidup di bawah hukum-hukum fikih yang paternalistik, mulai penetapan masalah pakaian hingga kesempatan mengenyam pendidikan dan berkarir sebagaimana pria. Tak heran bila, dengan nada ironis, Samina Ali (penulis dan aktivis Amerika kelahiran India) mengatakan dalam ceramahnya di TEDx University of Nevada[3] bahwa wanita muslim terbaik adalah yang tidak berpendidikan, tidak bersosialisasi, terkurung di rumah, terbungkus rapat di dalam pakaian yang hanya menyisakan mata, dan selalu siap melayani hasrat seksual suami, kapan pun dan di mana pun, bahkan kalaupun suami ingin berjimak di atas unta!

Itu jelas berseberangan dengan citra wanita sebelum zaman kerasulan Muhammad (seperti Salmā binti ‘Amr dan Khadījah binti Khuwaylid) atau pada zaman Sahabat (‘Aisyah memimpin pasukan melawan ‘Ali bin Abī Thalib dalam Perang Jamal). Sayangnya, suka atau tidak, itulah fakta yang bahkan bisa kita jumpai sekarang dalam kehidupan sebagian masyarakat muslim modern. Itu juga, antara lain, kondisi yang disoroti para wanita pengkritik Islam—khususnya, posisi wanita dalam Islam—seperti Irshad Manji (The Trouble with Islam Today), Aayan Hirsi Ali (Infidel), dan Taslima Nasrin (Lajja). [AD]

closing

  1. Fuad Hashem menduga bahwa umur Khadījah ketika menikah dengan Muhammad baru sekitar 28 atau 30 tahun—atau lebih muda lagi. Lihat Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah: Kurun Makkah, Suatu Penafsiran Baru (Jakarta: Tama Publisher, 2005), hlm. 113. Tapi, bila benar usianya ketika itu (menjelang) empat puluh tahun, mungkin itu bisa jadi salah satu bukti bahwa life begins at forty!
  2. Untuk deskripsi fisik Rasulullah, lihat a.l. al-Tirmidzi, al-Syamāil al-Muhammadiyyah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996).
  3. “What Does the Quran Really Say about a Muslim Woman’s Hijab?”

1
Bagikan:

Tulis Komentar