Testis Kapitalisme di Era Media Sosial

142
0
Bagikan:
Slavoj Zizek

Petani Rusia dan si Kabayan

Konon, peristiwanya terjadi saat penyerbuan pasukan Mongol ke daratan Rusia pada abad ke-14. Ketika tiba di sebuah desa Rusia yang berdebu, seorang serdadu Mongol berpapasan dengan seorang petani Rusia yang sedang berjalan bersama istrinya. Serdadu Mongol itu lalu berkata, “Aku akan memperkosa istrimu. Tapi, karena jalanan ini berdebu, saat aku memperkosa istrimu, kau harus menadahi testisku agar tak kena debu.”

Begitu serdadu Mongol itu pergi jauh setelah selesai memperkosa istrinya, petani Rusia itu sontak tertawa terpingkal-pingkal. Tentu saja, sang istri langsung sewot. “Suami macam apa kau? Istri diperkosa orang asing, kau malah tertawa senang!”

Setelah susah payah menahan tawa, si petani pun menjawab, “Dia kena kukerjai! Testisnya kubiarkan terkena debu! Ha-ha-ha!”

Salah satu anekdot lokal tentang Si Kabayan juga memiliki nuansa serupa.

Selama beberapa hari belakangan, Kabayan yang hendak berangkat ke kota selalu ketinggalan kereta. Setiap kali dia tiba di stasiun, setelah membeli karcis, dia selalu ketiduran ketika kereta datang dan berangkat. Hari itu, dia sengaja datang lebih awal. Setelah membeli karcis, ia pun duduk di peron menunggu kereta dan bertahan untuk tidak tertidur.

Kereta pun datang dan penumpang berjejalan turun dan naik. Tapi, hingga kereta yang ditunggunya berangkat, Kabayan tetap duduk tak beranjak. Setelah kereta menjauh, tiba-tiba Kabayan tertawa penuh kemenangan.

“Rasakan pembalasanku! Aku sudah beli karcis, tapi aku tak sudi menaikimu! Ha-ha-ha!”

Media Sosial Sebagai Testis Kapitalisme

Di dalam bukunya, Zizek’s Jokes: Did You Hear about Hegel and Negation? (2014:108–9), filosof asal Slovenia, Slavoj Zizek, menggunakan anekdot tentang petani Rusia di atas untuk menggambarkan kondisi mereka yang berseberangan dengan kekuasaan (apa pun bentuknya). Di satu sisi, kelompok-kelompok itu meresa telah memberikan pukulan maut terhadap kekuasaan yang ditentangnya, padahal mereka mungkin hanya sekedar melaburi debu ke testis kekuasaan itu—atau membiarkan diri sendiri tertinggal.

Tindakan itu jelas tidak berefek apa-apa terhadap kekuasaan. Kekuasaan terus saja menggunakan kekuatannya untuk memperkosa apa pun yang mereka inginkan—atau meninggalkan mereka yang enggan ikut serta. Kekuasaan di sini, tentu saja, mencakup apa pun yang bersifat hegemonik dan memanipulasi hajat hidup orang banyak.

Di antara “debu” yang dilaburkan gerakan-gerakan kiri dan liberal terhadap “testis” kekuasaan, misalnya, adalah “kesempatan berusaha yang setara”, “proteksi pengusaha kecil”, “perlindungan hak-hak warga negara”, atau “penghormatan hak-hak azasi manusia”. Dengan itu semua, mereka mungkin berpikir telah memberikan pukulan telak kepada kekuasaan atau, setidaknya, membuat mereka sedikit limbung, padahal kekuasaan itu merasakannya pun tidak.

Parahnya, gerakan-gerakan kiri dan liberal—atau siapa pun yang berusaha menentang kekuasaan—tidak memiliki kekuatan dan strategi yang ampuh untuk mencegah kekuasaan terus-menerus “memperkosa istri” mereka. Dalam perjalanan waktu atau bertambahnya usia, bahkan bukan hal yang aneh ketika sebagian eksponen gerakan kiri justru terkooptasi untuk ikut mencicipi kekuasaan.

Dalam konteks kekinian, salah satu kekuasaan hegemonik yang menguasai dan memanipulasi umat manusia adalah bentuk kapitalisme yang mengejawantah dalam tubuh sistem ekonomi dan teknologi modern. Secara lebih spesifik, jiwa manipulatif kapitalisme mewujud dalam tubuh berbagai layanan berbasis internet, seperti Google, Facebook, Twitter, Whatsapp, dan Instagram.

Tentu saja, pernyataan ini tidak menganggap para tokoh di penggagas dan pengusaha media-media (sosial) berbasis internet itu sebagai tokoh-tokoh jahat an sich. Namun, model bisnis yang mereka kembangkan, diakui atau tidak, adalah mengubah pola dan memanipulasi perilaku manusia untuk keuntungan perusahaannya.

Jaron Lenier (filosof, artis, ahli teknologi virtual reality dan internet) menyebut layanan-layanan tersebut sebagai behaviour modification enterprises (‘perusahaan-perusahaan pengubahan perilaku’). Keberhasilan bisnis mereka bisa kita lihat sehari-hari pada berubahnya perilaku masyarakat modern akibat interaksi mereka dengan media sosial.

Dua prinsip utama model bisnis layanan berbasis internet adalah addiction dan manipulation. Umpannya adalah layanan “gratis”, tetapi—dengan menggunakan model behaviorisme Ivan Pavlov—mereka menciptakan kecanduan (addiction) melalui tarik-ulur antara reward dan punishment. Bersamaan dengan layanan “gratis” untuk membentuk kecanduan itu—tanpa disadari sebagian besar pengguna—mereka juga meraup berbagai data yang mereka gunakan untuk mengembangkan bisnisnya dengan “menjual” profil pengguna tersebut (manipulation).

Zeynep Tufekci (penulis, tekno-sosiologis, peneliti pengaruh media sosial terhadap politik) menemukan bahwa yang mereka jual bukan lagi data tentang pengguna (they don’t sell “your data”), melainkan pengguna itu sendiri (they sell “you”). Berdasarkan data itu, perusahaan-perusahaan berbasis data besar (Big data company) bisa menawarkan sistem marketing personal yang secara spesifik menarget masing-masing individu secara berbeda.

Sirene tanda bahaya akan hal ini sudah dibunyikan oleh banyak pengamat teknologi dan media sosial—dua di antaranya (Jaron dan Zeynep) telah disebut di atas. Selain melakukan penelitian dan tampil di podium-podium internasional, mereka juga telah menulis berbagai buku yang memuat kekhawatiran dan peringatan akan perkembangan teknologi internet yang dianggap menyimpang dari cita-cita yang digariskan para penggagasnya. Di antara banyak karya yang membunyikan tanda bahaya termasuk, You are Not a Gadget (Jaron Lenier), The Internet is Not the Answer (Andrew Keen), dan Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest (Zeynep Tufekci).

Solusi yang ditawarkan Lenier, di antaranya, adalah dengan layanan berbayar. Dengan layanan berbayar, pengguna akan memiliki hak untuk melindungi datanya dan menolak terpapar iklan. Selain itu, pengguna juga memiliki hak untuk mendapatkan bayaran jika ada iklan yang masuk ke dalam akunnya. Mungkin orang melihat bahwa hal ini—sampai tahap tertentu—sudah dilakukan Youtube. Namun, layak diperhatikan bahwa model bisnis Youtube tetap meraup data pengguna dan menggunakannya untuk mengembangkan bisnisnya tanpa memberikan imbalan apa pun kepada penggunanya.

Jaron Lanier
Jaron Lanier

Argumen untuk Menutup Akun Media Sosial yang Pasti Tidak akan Kita Lakukan

Solusi lain yang ditawarkan Jaron lebih ekstrem: tutup akun media sosial Anda sekarang juga. Jaron mengemukakan 10 argumen untuk menutup akun sosial Anda sekarang juga (Ten Arguments for Deleting Your Social Media Accounts Right Now, Henry Holt and Co., Mei 2018). Beberapa poin yang diajukan dalam buku itu adalah berikut ini. (Dikutip dari “10 Arguments For Deleting Your Social Media Accounts Right Now” oleh Book Rear Views)

  1. Media sosial memanipulasi perilaku Anda, mengancam kebebasan kehendak (free will) Anda.
  2. Seperti hewan percobaan di laboratorium, Anda diawasi, dimanipulasi, dan dianalisis.
  3. Setiap kali Anda menggunakan ponsel cerdas Anda untuk masuk ke media sosial, Anda sedang diawasi dan dimanipulasi, bukan oleh para peneliti ahli dengan jas putih, tetapi oleh algoritme.
  4. Data tentang Anda dikompilasi oleh algoritme ini—saat Anda login, berapa lama Anda login, apa yang Anda buka, apa yang Anda beli—kemudian dibandingkan dengan data jutaan orang lain. Ini memungkinkan algoritme untuk membuat prediksi tentang bagaimana Anda akan bertindak.
  5. Perusahaan media sosial tidak peduli ragu pun untuk menjual informasi Anda karena Anda bukan klien mereka: Anda adalah produk mereka.
  6. Platform media sosial dirancang untuk membuat ketagihan.
  7. Seperti yang kita semua tahu, media sosial ingin membuat kita tetap terlibat. Presiden pertama Facebook, Sean Parker, menyebutnya “lingkaran umpan balik validasi sosial.” Kadang-kadang, seseorang akan menyukai posting atau foto Anda, tetapi tidak selalu. Unsur ketidakpastian inilah yang membuat orang kecanduan.
  8. Kecanduan dapat menyebabkan kegilaan yang bisa membuat Anda kehilangan kontak dengan orang-orang dan dunia di sekitar Anda. Media sosial mengubah kita semua menjadi pecandu.
  9. Model bisnis media sosial bersifat invasif, intrusif, dan sangat berbahaya.
  10. Kita tidak perlu menghilangkan internet atau ponsel cerdas. Hal yang perlu kita hapus adalah model bisnis media sosial yang dominan, yang Jaron sebut sebagai BUMMER. Secara leksikal, kata ini bermakna “sesuatu yang sangat menjengkelkan atau mengecewakan”, “kekecewaan besar”, atau “gelandangan”.  Tetapi, Jaron menggunakannya sebagai akronim untuk Behaviours of Users Modified, and Made into an Empire for Rent (Perilaku pengguna yang dimodifikasi dan dibuat untuk membangun kerajaan sewaan).
  11. Media sosial dapat mengubah orang menjadi bajingan. Media sosial dapat mendorong perilaku bajingan. Posting menghina, komentar merendahkan, trolling—itu hal yang sangat umum di media sosial.
  12. Sayangnya, bajingan terbesar biasanya menarik perhatian paling banyak, yang memiliki efek menetes: lebih banyak orang tergoda untuk mulai makin sering bertindak makin bajingan.
  13. Secara umum, posting yang lebih menjengkelkan dan penuh kebencian justru semakin menarik perhatian.
  14. Media sosial berkontribusi pada produksi massal informasi menyesatkan.
  15. Orang-orang palsu ada di mana-mana secara online. Walaupun akun mereka mungkin sepintas terlihat nyata, mereka sebenarnya adalah robot yang dikendalikan pabrik orang-orang palsu, yaitu orang-orang yang menjual pengikut palsu untuk mendapat keuntungan.
  16. Pada awal 2018, sebuah artikel di The New York Times melaporkan bahwa harga standar untuk 25.000 pengikut palsu di Twitter adalah $225 (sekitar Rp3 juta). Tanpa orang palsu, situs web seperti Ashley Madison, tempat Anda bisa bertemu pria dan wanita yang berzina dan mengatur perselingkuhan, mungkin tidak akan ada sama sekali. Diduga, situs itu menggunakan wanita palsu untuk membuat pria membeli akun dengan harga tinggi.
  17. Media sosial membuat orang saling berhadapan satu sama lain dan menghancurkan kemampuan mereka untuk berempati. Anda terus-menerus menyesuaikan apa yang Anda katakan dan bagaimana Anda mengatakannya berdasarkan konteks. Orang akan melakukan hampir semua hal untuk meningkatkan jumlah pengikut mereka, termasuk mencomot hal-hal yang dikatakan orang lain dan menempatkan mereka dalam konteks yang tidak masuk akal. Kurangnya konteks mengikis empati. Jika Anda tidak dapat memahami orang lain, Anda juga tidak bisa merasakannya.
  18. Emosi negatif adalah sumber kehidupan media sosial. Menghabiskan waktu di dunia tanpa konteks atau empati adalah resep pasti untuk ketidakbahagiaan.
  19. Kita tahu bahwa media sosial membuat kita tidak bahagia, melainkan menjadi makhluk kompetitif. Namun, kita tetap masuk dan mengikuti permainan: mencoba memposting konten yang paling menarik untuk mendapatkan pengikut terbanyak. Bersaing melawan semua orang lain—benar-benar semua orang lain—adalah cara pasti untuk kalah dan merasa sebagai pecundang adalah alasan lain untuk tidak bahagia.
  20. Perusahaan media sosial menghasilkan banyak uang dari semua hal yang Anda berikan secara gratis.
  21. Platform media sosial memiliki dampak negatif pada ruang politik kita.
  22. Media sosial merupakan kerangka spiritual baru yang mengubah manusia menjadi sesuatu yang bisa “diretas”.

Pada titik ini, hal yang paling mendesak bagi mereka yang peduli terhadap harkat kemanusiaan adalah menemukan strategi dan tindakan yang lebih substantif untuk “memotong” testis kekuasaan global, bukan sekadar “melaburinya dengan debu”. Ironisnya—dalam konteks manipulasi bisnis media sosial—mengunggah tulisan ini di Facebook atau media sosial lainnya sama saja dengan sekadar melaburi debu ke testis kekuasaan/kapitalisme. [AD]

Bagikan:

Tulis Komentar