Tanbih atawa Pangéling-éling

287
0
Bagikan:

—Orang-orang yang meneriakkan kebenaran
Mungkin karena mereka sendiri tuli


Seperti yang kita tahu
Lelaki bergamis putih itu
Mahir suarakan pilu:

Mari, Tuan, sini kukabari tentang tuhan
Yang bersemayam di laras senapan
Dan bilah kelewang
Tuhan yang beringas di bilah pedang
Siap tikam setiap dada
Tebas tiap kepala
Sesiapa yang menentang fatwa
Leluhur kita

Karena kitalah pemegang mandat khusus
Pewaris titah samawi yang kudus

Sekarang kita tak segan lagi
Mengukur manusia dengan bentangan
Sorban dan jilbab kita
Atau dengan bilangan wirid dan zikir
Yang hanyutkan kesantunan pikir
Atau dengan kefasihan bahasa gurun
Yang didaulat dan diobral
Sebagai bahasa langit yang sakral

Karena jeroan setiap hati dan benak
Harus seturut iman kita yang congkak

“Tetapi, bukankah kita yang dizalimi?”
Didesakkanlah mitos ketertindasan itu
Lalu ayat-ayat kaupenggal kauteriakkan
Lalu kisah-kisah kaudaras kautamparkan
Lalu dalil-dalil kaunukil kautikamkan
Agar waham terzalimi bisa menjadi alasan
Untuk hunus parang dan tuntaskan dendam

Tak sabar menunggu akhirat tiba
Kita bikin neraka sekarang juga

Kitalah satu-satunya sang juru tafsir
Mereka yang berpikir pastilah kafir
Kitalah satu-satunya yang sadar dan benar
Sesatlah mereka yang bertanya dan bernalar
Kitalah satu-satunya yang abid dan diridhai
Murtadlah mereka yang zindik dan mengingkari

Dengan keangkuhan iman berwajah kesalehan
Kita tumpas sebisa-bisa
Mereka yang berbeda

Ya, Tuan, mari kukabarkan lagi
Tentang tuhan yang pemberengut
Semacam kepala suku yang merasa gundah
Saat suku lain menjamu dunia dengan semringah
Sementara jutaan pengikutnya malu-malu
Terus mencari berbagai dalih
Untuk  nikmati dunia kafir yang gurih
Tak ayal,
Selagi mulut penuh dan perut jenuh
Mereka rutuki juga dunia itu
Sebagai busuk, beracun, dan penuh tipu

Begitu gemar kita
Meratapi bangkai zaman yang membusuk
Punguti kepingan masa lalu
Yang kita puja bercampur rindu
Kita frustrasi dihimpit ketakberdayaan
Putus asa pada kepicikan otak sendiri
Lalu berlindung pada kepongahan otot dan mimpi

Kita pun muncul sebagai makhluk ajaib:
Wajah dan penampilan kita teramat saleh dan sopan
Sedangkan mulut, tangan, dan kaki kita
Bertaring, bercakar, bengis, menggiriskan
Mulut kita seribu
Tangan kita seribu
Kaki kita seribu
Mulut yang satu dibasahi zikir dan selawat
Mulut yang lain membuncahkan laknat
Tangan yang satu tekun menyusuri tasbih
Tangan yang lain bersimbah getih
Kaki yang satu bersila khusyuk berdoa
Kaki yang lain menginjak-injak leher sesama

Seperti yang kita tahu
Lelaki bergamis putih itu
Menepis setiap tanya:

Wahai, Tuan, sudilah sebentar berjelas kata
Neraka seperti apa yang Tuan cita-citakan
Bagi sesama?

Atma Drackonia
07.X.2011

Dari Kumpulan Puisi Persona Non Grata, 2013.

Bagikan:

Tulis Komentar