Sedekah Bumi: Dari Kearifan Lokal Hingga Kapitalisme

83
0
Bagikan:
Sedekah Bumi: Dari Kearifan Lokal Hingga Kapitalisme

Dalam antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.[1] Kebudayaan bisa juga dimaknai sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar.[2]

Setiap masyarakat, barang tentu, memiliki kebudayaannya sendiri yang bersifat khas dan, karena itu, membedakannya dari masyarakat lainnya. Namun, kebudayaan sebagai identitas suatu masyarakat tidak hanya dipahami sebagai pembeda dengan masyarakat lainnya, melainkan juga sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk mengenal peri kehidupan mereka, cara-cara mereka menyusun pengetahuan, sistem gagasan mereka, ungkapan perasaan, spesifikasi tindakan, serta berbagai artefak peradaban mereka sebagai satu komunitas unik di antara berbagai kebudayaan lainnya.

Bagi suatu masyarakat, kebudayaan juga berfungsi sebagai rujukan perilaku dalam berinteraksi di dalam masyarakat tersebut sekaligus wadah proses pewarisan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain itu, kebudayaan juga bisa digunakan sebagai tolok ukur untuk mengetahui dinamika perubahan yang terjadi dalam satu masyarakat tertentu—dalam hal ini, termasuk kemajuan, kemunduran, kemandekan, dan daya adaptifnya terhadap perubahan keadaan atau zaman. Dewasa ini, bahkan kebudayaan juga bisa menjadi alat mobilisasi kepentingan politik ketika kebudayaan yang berkembang dalam komunitas dipraktikkan bukan demi mengangkat atau melestarikan nilai esensial yang terkandung di dalamnya, melainkan karena efektivitasnya dalam menghimpun massa.[3] Kondisi ini, biasanya, terjadi pada musim kampanye ketika para caleg mengerahkan-segala-daya-mencari-segala-cara untuk mendapat dukungan suara.

Sebagaimana setiap kata turunan dengan imbuhan ke-/-an, “kebudayaan” adalah kata benda abstrak. Perwujudan nyatanya adalah semua yang diciptakan manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Ia muncul berupa tujuh unsur kebudayaan, yaitu bahasa, kesenian, sistem religi, teknologi, mata pencaharian, organisasi sosial, dan sistem pengetahuan. Dalam uraian Koentjaraningrat,[4] kebudayaan tampil sedikitnya dalam tiga wujud:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peratuan, dan sebagainya.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks perilaku manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Salah satu perwujudan kebudayaan yang bertahan hidup dalam masyarakat adalah berbagai kegiatan upacara adat berupa ritual yang dalam bahasa Jawa disebut slametan. Berbagai upacara adat itu muncul dan berkembang dalam sejarah kebudayaan bangsa-bangsa Nusantara sebagai upaya untuk mengungkapkan sekaligus mempertahankan ketersambungan mereka dengan alam dan Sang Pencipta Alam. Ketersambungan itu sendiri tidak selalu harmonis. Ketersambungan itu ditandai sikap manusia menghadapi Sang Pencipta penuh misteri, yang oleh Rudolf Otto—dalam bukunya, Das Heilige—diistilahkan dengan mysterium tremendum et fascinans (misteri yang menggentarkan sekaligus memesona).

Upacara Adat

Berbagai unsur kebudayaan yang masih bertahan hidup dalam suatu masyarakat dilestarikan, di antaranya, dalam bentuk kegiatan upacara adat yang masih banyak dilaksanakan masyarakat tersebut. Dalam praktiknya, kegiatan upacara adat yang sarat dengan simbol-simbol itu berfungsi sebagai pelestari dan peneguh norma-norma dan nilai-nilai kebudayaan dalam suatu masyarakat. Kegiatan itu berlangsung secara turun-temurun melalui transfer nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Upacara adat/tradisional adalah kegiatan pesta tradisional yang diatur menurut tata adat atau hukum yang berlaku pada suatu masyarakat untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting dengan ketentuan adat yang bersangkutan.[5] Dalam kegiatan tersebut, norma dan nilai kebudayaan ditampilkan melalui peragaan secara simbolis sebagai cara untuk menginternalisasikan dan mensosialisasikan norma dan nilai kebudayaan yang bersangkutan kepada masyarakat. Dengan demikian, bagi masyarakat tempat kegiatan tersebut berlangsung dan dilestarikan, upacara adat merupakan bagian integral, akrab, dan komunikatif dalam kehidupan kulturalnya.

Pada prinsipnya, sebuah upacara tidak hanya berisi materi dan tahapan-tahapan upacara, melainkan juga mengandung ungkapan-ungkapan emosional dan didaktik yang merangsang terciptanya kekukuhan—setidaknya, penerusan—norma dan nilai di antara warga masyarakat. Sebagai salah satu unsur kebudayaan, upacara adat yang diselenggarakan suatu masyarakat bisa menggambarkan sejauh mana masyarakat tersebut berhasil menjaga identitasnya sekaligus rasa memiliki kebudayaan yang khas di antara warganya. Hal ini dapat dicermati melalui kenyataan sejauh mana upacara tradisional melibatkan seluruh anggota masyarakatnya untuk ikut serta dalam melaksanakan upacara tersebut.

Sebagaimana akan dilihat nanti, tujuan pokok dilaksanakannya upacara adat adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas apa yang telah diterima sekaligus untuk memohon agar terhindar dari kekurangan, bencana, atau malapetaka. Semua upacara adat tersebut, pada prinsipnya, merupakan ungkapan vokatif terhadap Bumi sebagai penopang kehidupan manusia, namun bentuk upacara-upacara adat yang berkembang dalam suatu masyarakat dipengaruhi unsur primer yang paling menentukan bagi kesejahteraan hidup masyarakat tersebut. Mereka yang tinggal di kawasan pegunungan, misalnya, akan mengembangkan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan tanah dan mereka yang menghuni wilayah pesisir akan mengembangkan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan laut. Karena itulah, dalam berbagai masyarakat yang berbeda—dan bergantung pada unsur primer pendukung kehidupannya—berkembanglah upacara adat Sedekah Bumi dan Sedekah Laut.

Istilah Sedekah Bumi

Upacara adat Sedekah Bumi tampaknya mendapatkan namanya yang sekarang setelah menyebarnya Islam di Jawa. Ini bisa dilihat dari kata sedekah dalam nama upacara adat itu, yang diserap dari kata bahasa Arab, shadaqah, yang berarti alms, charity, dole, benefaction, handout (‘sedekah, derma, uang sokongan, kebajikan, pemberian’)[6]—dari akar kata sh-d-q yang, di antaranya, berarti ‘benar, berbicara benar, dan jujur’.[7] Kata sedekah mulanya adalah istilah teknis keagamaan di kalangan Muslim dan itu pula salah satu makna yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI, kata sedekah berarti ‘pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah, sesuai dengan kemampuan pemberi’ dan disepadankan dengan derma.[8]

Selain makna di atas, KBBI juga memuat makna ‘selamatan, kenduri’ dan ‘makanan (bunga-bunga dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus (roh penunggu dan sebagainya)’. Ketiga makna tersebut bisa ditemukan dalam upacara adat Sedekah Bumi. Di dalamnya, bisa ditemukan sedekah dalam pengertian pemberian sukarela yang tidak ditentukan peraturan-peraturan tertentu, baik berkaitan dengan jumlah, maupun jenis yang disedekahkan.[9] Di sana juga bisa ditemukan konsep selamatan (slametan) atau kenduri yang di dalamnya, tentu saja, melibatkan makanan.

Kata bumi yang digunakan dalam istilah tersebut jelas mengacu kepada tanah sebagai tempat hidup manusia di mana pun ketimbang mengacu kepada Bumi sebagai nama planet ketiga dalam tatasurya.

Penulis belum menemukan data akurat mengenai kapan upacara yang kemudian disebut sebagai Sedekah Bumi itu muncul dalam masyarakat Nusantara—khususnya, masyarakat di Pulau Jawa. Namun, melihat sebagian unsurnya yang tidak ditemukan padanannya dalam ajaran Islam, jelas upacara tersebut merupakan tradisi yang diwariskan dari para nenek moyang, jauh sebelum penyebaran Islam di Indonesia. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa penamaan Sedekah Bumi merupakan penamaan belakangan, yaitu setelah masuk dan menyebarnya agama Islam. Nama upacara ini sebelumnya adalah Ruwat(an) Bumi, Sesaji Bumi, atau Rupa Bumi, sebagaimana masih digunakan di beberapa daerah.[10]

Merunut Prosesi Sedekah Bumi

Mengikuti unsur primer wilayah geografisnya, salah satu tradisi yang berkembang dalam masyarakat agraris adalah upacara Sedekah Bumi—dan berbagai upacara dengan nama lain yang sama prinsipnya. Upacara ini merupakan tradisi tahunan yang waktu pelaksanaannya berbeda-beda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya, bergantung pada kapan masyarakat tersebut mengalami panen raya. Dalam masyarakat yang tergantung kepada padi sebagai tanaman pokok, waktu sesudah panen raya mereka anggap sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan tradisi Sedekah Bumi. Padi juga merupakan tanaman yang menjadi lambang kemakmuran. Untuk mensyukuri kemakmuran itulah diselenggarakanlah upacara Sedekah Bumi sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Memberi Rezeki atas kemakmuran yang mereka terima melalui hasil panen.

Dari sana, bisa disimpulkan bahwa Sedekah Bumi dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat karena mereka bisa hidup di muka bumi, hidup dengan bercocok tanam yang menggunakan bumi (tanah) sebagai media sehingga bisa memanen hasil bumi untuk menopang kehidupan mereka selama hidup di bumi. Upacara Sedekah Bumi adalah ungkapan rasa terima kasih mereka kepada bumi.

Meskipun terdapat berbagai detail variasi yang berbeda dari tempat ke tempat, pada garis besarnya, upacara Sedekah Bumi mengandung bagian-bagian utama yang menjadi benang merahnya. Bagian-bagian tersebut adalah arak-arakan sesaji hasil bumi menuju tempat dilangsungkannya upacara, pembacaan doa yang dipimpin tokoh keagamaan yang dihormati dan dilaksanakan di tempat yang dianggap sakral atau dianggap sebagai pusat desa, makan bersama hidangan yang disajikan, dan pertunjukan hiburan di akhir kegiatan. Ada juga bagian yang dianggap utama di suatu tempat, tetapi tidak dilaksanakan di tempat lainnya, misalnya kegiatan membersihkan tempat tertentu yang dianggap paling keramat.

Sebelum pembacaan doa pada puncak upacara, masyarakat akan mengumpulkan sesaji hasil bumi mereka ke tempat berkumpul yang telah ditentukan. Dari sana, dengan diiringi atraksi dan musik tradisional, mereka mengarak berbagai sesaji tersebut—matang dan mentah—keliling desa melalui jalur-jalur utamanya. Arak-arakan itu akan berakhir di tempat pembacaan doa. Lokasi bertolak arak-arakan itu bisa saja sama dengan lokasi berakhirnya. Prosesi tersebut, mulanya, bertolak dan kembali di lokasi yang dianggap sebagai pusat desa. Kini, “pusat desa” itu bisa halaman masjid, halaman balai desa, atau lapangan desa.

Pembacaan doa—yang merupakan puncak acara—dipimpin tokoh keagamaan setempat atau sesepuh desa yang dianggap mampu dan biasa memimpin doa. Doa yang dibacakan, kurang lebih, sama saja dengan doa tahlil yang biasa dibaca dalam acara-acara kenduri (slametan) atau kematian. Dimulai dengan hadharat (membacakan Surat al-Fatihah bagi Nabi Muhammad, para Sahabat, ulama, dan leluhur), dilanjutkan dengan membaca beberapa ayat Surat al-Baqarah, beberapa surat pendek, wirid kalimat tauhid dan sebagainya, hingga diakhiri dengan pembacaan doa penutup. Pada pembacaan doa penutup inilah semua hadirin akan mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan telapak tangan terbuka ke atas sambil mengamini bacaan pemimpin doa secara berulang-ulang hingga selesai.

Sesaji utama dalam prosesi Sedekah Bumi biasanya berupa nasi tumpeng besar yang dihias dengan semarak dan digarap oleh satu tim tertentu. Setelah didoakan, berbagai hidangan yang berlimpah tersebut akan dihidangkan secara terbuka untuk dimakan oleh siapa saja yang mau. Ada juga orang-orang yang membawa pulang beberapa porsi untuk keluarganya yang tidak hadir dalam upacara pembacaan doa tersebut.

Malam harinya, hiburan digelar di panggung yang telah dipersiapkan. Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu (sekitar 2006), di beberapa wilayah Banten hiburan yang ditampilkan adalah hiburan-hiburan tradisional, seperti wayang golek, kliningan (jaipongan), atau topeng (teater rakyat). Pada masa belakangan, hiburan yang ditampilkan lebih banyak berupa pertunjukan layar tancap atau dangdut orgen tunggal. Kini, di beberapa tempat, “hiburan” puncak itu bahkan diisi dengan mengundang penceramah.

Sedekah Bumi Sebagai Tindakan Berorientasi Nilai dan Tradisi

Berdasarkan tujuannya, upacara Sedekah Bumi bisa diklasifikasikan sebagai tindakan kolektif sekaligus tindakan sosial. Tidak semua tindakan kolektif adalah tindakan sosial sebagaimana tidak semua tindakan individual adalah tindakan personal.

Mengikuti definisi Max Weber (1864–1920) tentang tindakan sosial, suatu tindakan disebut tindakan sosial hanya apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan atau berorientasi pada perilaku subjek lainnya.[11] Makan bersama di restoran karena lapar, misalnya, adalah tindakan kolektif, tetapi bukan tindakan sosial; sedangkan makan bersama di restoran karena ingin menarik perhatian tetangga adalah tindakan kolektif sekaligus tindakan sosial. Mengisap rokok mahal karena memang menyukainya adalah tindakan individual dan bukan tindakan sosial; sedangkan mengisap rokok mahal dengan maksud memberi kesan sebagai orang berduit adalah tindakan individual yang merupakan tindakan sosial. Karena upacara Sedekah Bumi berorientasi pada perilaku subjek lainnya—dalam hal ini, Penguasa Alam—maka upacara itu merupakan tindakan sosial.

Untuk memahami sebuah tindakan sosial dalam hubungannya dengan arti subjektif yang terkandung di dalamnya, Weber menggunakan metode sosiologi verstehen (Jerman: ‘mengerti, memahami, mengenal, mengetahui’) yang dimaknai sebagi suatu metode pendekatan untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai makna yang mendasari sebuah peristiwa sosial. Pendekatan ini bertolak dari gagasan bahwa setiap situasi sosial didukung jaringan makna yang dipilih dan dibuat secara sadar oleh para pelaku yang terlibat di dalamnya. Karena itu, Weber membagi tindakan manusia ke dalam empat tipe berdasarkan orientasi rasionalitasnya sebagai berikut.[12]

  1. Tindakan Rasional Berorientasi Tujuan. Ini adalah tindakan rasional yang memperhitungkan cara yang digunakan serta tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, agar penggarapan sawahnya lebih efisien, Mang Kardi mendahulukan membeli traktor ketimbang membeli motor.
  2. Tindakan Rasional Berorientasi Nilai. Tujuan tindakan rasional ini adalah nilai-nilai absolut tertentu yang diyakini oleh seseorang dengan mengorbankan rasionalitas cara yang harus ditempuh untuk mencapainya. Misalnya, karena ingin mendapatkan gelar haji, Mang Somad menjual sawah warisan satu-satunya yang menopang kehidupan keluarganya.
  3. Tindakan Afektif. Tindakan ini lebih dikuasai oleh perasaan atau emosi si pelaku tanpa pertimbangan-pertimbangan akal budi. Seringkali tindakan ini dilakukan tanpa perencanaan matang dan tanpa kesadaran penuh, sebagai reaksi spontan atas suatu peristiwa. Misalnya, Hardi meloncat-loncat karena jadian dengan pacarnya, menangis ketika diputuskan pacarnya, dan sebagainya.
  4. Tindakan Tradisional. Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak rasional. Seseorang melakukan tindakan ini hanya karena kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tanpa mengetahui alasannya atau tidak membuat perencanaan sendiri mengenai tujuan dan cara yang akan digunakan. Misalnya, berbagai upacara adat di masyarakat.

 Dari keempat jenis tindakan dalam klasifikasi Weber, bisa dilihat bahwa dua di antaranya terdapat dalam kegiatan upacara Sedekah Bumi, yaitu tindakan rasional berorientasi nilai dan tindakan tradisional. Karena tujuannya berhubungan dengan nilai-nilai yang bersifat absolut dan nonrasional, pertimbangan rasional mengenai kegunaan dan efisiensi tindakan tersebut menjadi tidak relevan. Dalam melaksanakan upacara adat Sedekah Bumi, masyarakat tidak lagi memperhitungkan biaya yang harus mereka keluarkan, tetapi bertindak sesuai dengan apa yang mereka yakini merupakan kewajiban, kehormatan, panggilan religius, atau hal lain yang mereka anggap penting. Ditinjau secara rasional, berbagai masakan berlebihan yang dipersiapkan untuk upacara Sedekah Bumi jelas menghamburkan biaya. Demikian juga dengan diadakannya pertunjukan hiburan di penghujung acara, baik berupa pertunjukan kesenian tradisional (seperti wayang golek, teater rakyat, dsb.), maupun hiburan modern (seperti orkes dangdut, layar tancap, atau orgen tunggal). Aspek-aspek estetika spiritual dalam bertindak sesuai dengan nilai-nilai absolut dan tradisi yang diyakini merupakan hal yang lebih penting bagi masyarakat yang menyelenggarakan upacara Sedekah Bumi.

Sedekah Bumi Sebagai Produk Genius Lokal

Upacara sedekah Bumi merupakan tradisi yang terbukti mampu bertahan melalui terpaan berbagai unsur kebudayaan lain sepanjang masa. Kemampuan untuk bertahan hidup itu menunjukkan ciri adaptif sebuah kebudayaan yang memiliki para genius lokal dengan berbagai kearifannya.

Secara leksikal, kearifan diartikan sebagai ‘kebijaksanaan’ atau ‘kecendekiaan’—yaitu kepandaian dalam menggunakan akal budi atau kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya, atau ketajaman pikiran dan ketanggapan dalam memahami situasi dan menemukan jalan keluar yang terbaik; sedangkan lokal berarti ‘setempat’.[13] Dari makna-makna leksikal tersebut, bisa disusun definisi verbal kearifan lokal sebagai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, bernilai baik, tertanam, dan diikuti oleh anggota masyarakat suatu tempat tertentu.

Kearifan lokal itu adalah produk para genius lokal. Istilah kearifan lokal (local wisdom), tampaknya adalah sebuah istilah antropologi yang muncul sebagai pengembangan istilah genius lokal, yaitu unsur-unsur atau kecerdasan lokal yang menghasilkan kearifan lokal. Istilah genius lokal (local genius) digunakan oleh Quaritch Wales dalam studinya atas sejarah kesenian Asia Tenggara. Wales mencermati bahwa proses Indianisasi (penyebaran kebudayaan India) pada kebudayaan Asia Tenggara mengalami dampak lokalisasi berupa pengaruh unsur-unsur lokal dalam mengadaptasi gagasan-gagasan asing (India) agar sesuai dengan konteks dan kebutuhan lokal.[14]

Istilah genius lokal menarik perhatian banyak antropolog Indonesia yang kemudian mengembangkan pengertian genius lokal ini. Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius merupakan cultural identity, yaitu identitas kebudayaan yang menyebabkan suatu masyarakat mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing agar sesuai watak dan kemampuan sendiri.[15]

Berbagai kebudayaan lokal yang mewujud dalam beragam upacara adat—termasuk upacara Sedekah Bumi—jelas merupakan produk para genius lokal yang telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Moendardjito[16] menyebutkan ciri-ciri kebudayaan daerah yang potensial sebagai produk genius lokal, yaitu:

  1. mampu bertahan terhadap budaya luar,
  2. memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,
  3. mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya lokal,
  4. mempunyai kemampuan mengendalikan, dan
  5. mampu memberi arah pada perkembangan kebudayaan.

Sedekah Bumi—sebagai salah satu tradisi yang mengusung kearifan lokal—merupakan produk para genius lokal masa lalu yang, meskipun muncul secara lokal, nilai yang terkandung di dalamnya dianggap bersifat universal. Kemampuannya bertahan lintas-zaman (Jawa–Hindu–Islam) menunjukkan kuatnya pengaruh genius lokal dalam mempertahankan identitasnya.

Pengaruh Ajaran Islam dalam Upacara Sedekah Bumi

Masyarakat tradisional melaksanakan upacara Sedekah Bumi dengan kesadaran bahwa itu adalah warisan kebudayaan dari para nenek moyang yang muncul jauh sebelum masa penyebaran Islam di Nusantara. Pada masa itu, ritual tersebut dinamakan Sesaji Bumi.[17] Pada masa sesudah menyebarnya Islam di Jawa—masa Walisanga di Abad XV–XVI atau sesudahnya—tradisi tersebut tidak dihilangkan, melainkan dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai sarana syiar Islam. Ritual Sesaji Bumi atau Sesaji Laut yang dulunya untuk alam diubah namanya menjadi Sedekah Bumi yang ditujukan kepada manusia, khususnya anak yatim dan fakir miskin, tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan.[18]

Sebelum diwarnai pengaruh Islam, upacara Sedekah Bumi merupakan tradisi memberi persembahan (sesaji) sebagai manifestasi pemujaan terhadap roh halus atau penghormatan kepada para leluhur. Dalam pandangan Jawa-Hindu, Sedekah Bumi adalah ritual persembahan kepada Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan.[19] Tradisi ini jelas lahir dari kepercayaan animisme—kepercayaan adanya roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dsb,)—atau dinamisme— kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup. [20]

Dari kaca mata Islam, tujuan dan pemahaman Sedekah Bumi yang demikian itu bertentangan dengan nilai-nilai tauhid (pengesaan Allah). Dengan paham tersebut, masyarakat yang melaksanakan Sedekah Bumi meyakini bahwa yang memberikan rezeki, kemakmuran, dan keselamatan adalah roh-roh halus, arwah para leluhur, dewa, atau kekuatan gaib lainnya, padahal dalam ajaran Islam tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat atau mudharat selain Allah. Lebih lanjut, ketika mereka memberikan persembahan kepada bumi sebagai ungkapan syukur karena telah menghasilkan berbagai produk yang amat vital bagi kehidupan mereka, hal itu pun bertentangan dengan sendi-sendi tauhid karena, dalam ajaran Islam, syukur yang demikian itu hanya boleh ditujukan kepada Allah, bukan kepada bumi atau yang lain. Bumi, semesta, dan segenap isinya adalah makhluk dan syukur hanya boleh ditujukan kepada Sang Khalik yang telah menyediakan alam semesta ini sebagai hunian sementara bagi manusia.

Namun, mengatakan bahwa upacara adat (Sedekah Bumi atau lainnya) dalam bentuknya yang sekarang merupakan warisan kepercayaan animisme atau dinamisme—sementara mayoritas pelakunya adalah kaum Muslim—tentunya tidak fair. Geertz, misalnya, mengidentifikasi slametan sebagai (1) “ritual inti” dalam kebudayaan Jawa, (2) ritus animisme yang tujuannya adalah untuk mengukuhkan solidaritas sosial, dan (3) terutama merupakan ritual desa.[21] Pada poin satu, Geertz tampaknya benar, tetapi pada poin dua dan tiga, ia jelas salah.

Woodward mengkritik identifikasi Geertz dan menegaskan bahwa slametan adalah ritus kaum Muslim lokal dan bahwa (1) kriteria yang Geertz gunakan dalam membedakan Islam dan animisme itu tidak tepat, (2) slametan adalah bangunan ritual yang menghubungkan berkah (Arab: barakah) dengan makanan dan menyebar dari Arabia ke Asia Tenggara, (3) slametan bukan ritual yang terutama merupakan ritual desa, (4) tujuan-tujuan religius dan sosial slametan dipahami dalam kerangka ajaran tasawuf Islam, (5) tatacara pelaksanaan slametan berakar dalam teks-teks al‑Quran dan Hadis, dan (6) unsur-unsur pra-Islam dalam slametan dimaknai menurut kaidah-kaidah ajaran Islam.[22]

Kritik Woodward terhadap Geertz di atas bisa didukung pula oleh penelitian Agus Sunyoto yang menyimpulkan bahwa berbagai tradisi lokal yang dijalankan kaum Muslim Jawa bukan berasal dari ritus-ritus animisme dan/atau dinamisme, melainkan tradisi kaum Muslim Asia Tenggara (dalam hal ini, Vietnam) yang dibawa para tokoh penyebar Islam awal ke Jawa pada abad XV—yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan kakaknya, Raden Ali Murtadho.[23] Atau, paling tidak, tradisi kaum Muslim Vietnam tersebut mendapatkan padanannya di Nusantara sehingga memudahkan bagi mereka untuk mengadopsi dan mewarnainya.

Setelah diwarnai pengaruh Islam, esensi kegiatan upacara Sedekah Bumi pun mengalami pergeseran. Bagi masyarakat Muslim yang masih menjalankannya, upacara tersebut tidak lagi ditujukan sebagai persembahan kepada dewa atau roh, melainkan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya. Meskipun format pelaksanaannya tidak jauh berbeda, berbagai bagian upacara yang mulanya sangat kental dengan warna animisme dan dinamisme telah dikurangi atau diubah bentuknya. Kepala kerbau kurban yang disembelih—kalau ada—tidak lagi dikuburkan sebagai tumbal, tetapi diambil untuk dimasak oleh warga, digantikan oleh penguburan hasil bumi sekadarnya sebagai simbol. Bahkan, di beberapa tempat di wilayah Banten,[24] hiburan puncak yang biasanya menanggap kesenian tradisional atau modern digantikan dengan mengundang penceramah untuk memberikan “hiburan” siraman rohani, “dendang kiai”, dan “lawakan religius”.

Sedekah Bumi Sebagai Komoditas Kapitalisme

Berbagai daerah di Pulau Jawa, sekarang ini, sudah tidak lagi melaksanakan upacara Sedekah Bumi. Alasannya beragam, mulai karena kegiatan tersebut sarat dengan pemborosan, kemubaziran, hingga karena dianggap masih mengandung unsur syirik. Daerah-daerah yang sudah meninggalkan tradisi ini, umumnya, adalah wilayah urban dengan populasi yang majemuk dan sebagian penduduknya sudah mengadopsi gaya hidup perkotaan atau sudah menyerap informasi “modern”. Dengan demikian, upacara Sedekah Bumi lebih banyak bertahan di dalam masyarakat yang relatif homogen dan berada di perdesaan atau di wilayah suburban.

Namun, beberapa daerah yang masih mempertahankan upacara Sedekah Bumi pun tidak lagi melaksanakan upacara tersebut sebagai tradisi yang diyakini nilai-nilainya. Sebagaimana upacara adat Sekaten di Yogyakarta atau upacara Seblang di masyarakat Using Banyuwangi, upacara Sedekah Bumi di beberapa daerah sudah berubah menjadi sekadar suguhan wisata.[25] Ini adalah tahap ketika sebuah tradisi berubah status menjadi komoditas—sebuah proses yang disebut komoditisasi.[26]

Secara leksikal, komoditisasi adalah proses yang membuat sebuah produk mencapai tahap perkembangan tertentu ketika sebuah merek tidak lagi memiliki ciri yang membedakannya dari merek lain sehingga konsumen membelinya semata-mata berdasarkan pertimbangan harga.[27] Menurut Surbakti,[28] komoditisasi adalah proses yang diasosiasikan dengan kapitalisme ketika objek, kualitas, dan simbol dijadikan sebagai komoditas yang tujuan utamanya adalah untuk dijual di pasar. Komoditisasi kebudayaan dihasilkan melalui kolaborasi kekuatan pemerintah dan pemodal (kapitalis) yang berdampak pada cara suatu masyarakat mematut-matut diri agar layak dijual.

Sebagai komoditas, sebuah kebudayaan atau produk kebudayaan dilucuti dari kandungan filosofis atau kearifan lokalnya dan menjelma menjadi sekadar produk dengan label harga jual tertentu. Sebagaimana komoditas lainnya, nilai sebuah kebudayaan kemudian diukur dari seberapa besar profit yang dihasilkannya—kebudayaan tinggi = kebudayaan yang memberikan untung besar—dan harga yang mahal diasosiasikan dengan “kualitasnya” yang akan mempengaruhi juga strategi marketingnya. Upaya pelestarian kebudayaan tidak lagi didasarkan pada apresiasi terhadap warisan tradisi dan kearifan lokal, tetapi lebih karena pertimbangan pasar sehingga yang menempel pada kebudayaan bukan lagi nilai-nilai atau simbol-simbol spiritual, melainkan label harga.

Sebagai komoditas, kebudayaan menyebar ke luar masyarakatnya sebagai fashion atau life style. Orang memajang gambar-gambar produk kebudayaan di rumahnya, mengunjungi situs-situs kebudayaan sebagai objek wisata, dan mengenakan berbagai produk kebudayaan sebagai atribut kelas sosial, sebagai bagian dari tren kaum borjuis yang tergila-gila pada segala sesuatu yang eksotis dan “primitif”.

Namun, komoditisasi kebudayaan tidak berhenti pada komersialisasi (produk) kebudayaan, melainkan bergerak lebih jauh dengan memanipulasi nilai-nilai sebagaimana dihayati masyarakat penghasil kebudayaan tersebut. Di sisi ini, komoditisasi kebudayaan mengubah orientasi partisipasi warga dalam masyarakatnya yang tidak lagi dibangun dalam rangka membentuk identitas komunitas dengan segala karakteristik kebudayaannya, melainkan dibangun dengan berorientasi pada selera pasar kapitalisme melalui komoditisasi kebudayaan. Pada tahap ini, tradisi dijajakan sebagai barang dagangan dan masyarakat pelakunya tampil sebagai etalase. [AD]

Format PDF: Sedekah Bumi: Dari Kearifan Lokal Hingga Kapitalisme


[1]     Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2002): 170.

[2]     Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2009): 144.

[3]     Bisri Effendy & Novi Anoegrajekti, “Perempuan dalam Ritual: Mengangan Dewi Sri, Membayang Perempuan” (Jakarta: Srinthil.org). http://srinthil.org/374/perempuan-dalam-ritual-mengangan-dewi-sri-membayang-perempuan/ (Diakses 25 Maret 2016).

[4]     Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi (Jakarta: UI Press, 1987):186–7.

[5]     Aryono Suyono, Kamus Antropologi (Jakarta: Akademika Pressindo, 1985): 423.

[6]     Rohi Baalbaki, A Modern Arabic-English Dictionary (Beirut: Dār al-‘Ilm al-Malaliyyīn, 1995):692.

[7]     Ibid.:691.

[8]     KBBI: 1008.

[9]     Herliyan Bara Wati, “Pengaruh dan Nilai-Nilai Pendidikan Upacara Sedekah Bumi Terhadap Masyarakat Desa Bagung Sumberhadi Kecamatan Prembun Kabupaten Kebumen,” Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas Muhammadiyah Purworejo, 2013, 2(4): 16.

[10]    Syauqi Sumbawi, “Reorientasi Tradisi Ruwat Bumi”, http://www.kompasiana.com (Diakses 25 Maret 2016); Emmi Nur Afifah, Korelasi Konsep Syukur dalam Budaya Jawa dan Ajaran Islam, [Tesis], (Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, 2015): 90; Bayu Dwi Nurwicaksono, Eksplorasi Nilai Budaya dan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal dalam Tradisi Lisan Rupa Bumi (Program Agrowisata, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung: 2013).

[11]    Subjek lainnya di sini bisa orang lain, masyarakat dalam jumlah tak terbatas, atau oknum adikodrati seperti dewa atau Tuhan.

[12]    Max Weber, Economy and Society, Guenter Roth & Claus Wittich (eds.), (University of California Press, 1978): 24–26.

[13]    KBBI: 65, 149, 206, 681.

[14]    H.G. Quaritch Wales, The Making of Greater India, 2nd Edition (London: Bernard Quaritch, Ltd., 1961): 83.

[15]    Dalam Ayatrohaedi, Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986): 18–9.

[16]    Dalam Ayatrohaedi, ibid.: 40–41.

[17]    Emmi Nur Afifah, op. cit.: 90.

[18]    D.S. Slamet dalam Emmi Nur Afifah, id.

[19]    Imam Ashari, Upacara Sedekah Bumi di Kabumen [Skripsi], (Jurusan Sejarah dan kebudayaan Islam IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001): 62 dalam Furqon Syarief Hidayatulloh, “Sedekah Bumi Dusun Cisampih Cilacap”, el Harakah, 2013, 15(1): 4.

[20]    KBBI: 53, 265.

[21]    Clifford Geertz, The Religion of Java (Glencoe, Ill.: The Free Press, 1960): 10–15.

[22]    Mark Woodward, Java, Indonesia and Islam (New York: Springer, 2011): 113.

[23]    Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo (Jakarta: Pustaka IIMaN, 2012): 370.

[24]    Misalnya, sebagaimana terjadi di Desa Pasir Ampo, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, pada upacara Sedekah Bumi pada 11 Januari 2016 yang lalu.

[25]    Untung Prasetyo & Sarwititi Sarwoprasodjo, “Komodifikasi Upacara Tradisional Seren Taun dalam Pembentukan Identitas Komunitas,” Solidarity, 2011, 05 (02): 174.

[26]    Beberapa peneliti menggunakan istilah “komodifikasi” (Untung Prasetyo & Sarwititi Sarwoprasodjo, ibid.), tetapi Penulis memilih istilah “komoditisasi” yang diserap dari bahasa Inggris, comoditization.

[27]    The process by which a product reaches a point in its development where one brand has no features that differentiate it from other brands, and consumers buy on price alone. Microsoft Encarta 2009, [CD-ROM], (Microsoft Corporation, 1993-2008).

[28]    Asmyta Surbakti, Sebuah Kajian Budaya: Pusaka Budaya dan Pengembangan Pariwisata di Kota Medan (Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, Den Pasar, 2009) dalam Untung Prasetyo & Sarwititi Sarwoprasodjo, ibid.: 177.


Bagikan:

Tulis Komentar