Agar Homo Sapiens Tidak Menjadi Homo Avarus: Etos Kerja dalam Ajaran Islam

95
0
Bagikan:
Ilustrasi Etos Kerja dalam Ajaran Islam.

“Tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang selain apa yang dimakannya dari hasil usaha tangannya sendiri.”

Hadis riwayat al-Bukhari

KONSEP KERJA dan penghargaan terhadap jerih payah seseorang adalah hal yang banyak ditekankan dalam agama Islam. Di dalam literatur Islam, ayat-ayat dan hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan mereka yang bekerja sangat berlimpah. Namun, tidak kurang juga ayat dan hadis yang memberikan rambu-rambu pengingat agar setiap pekerjaan tidak melulu menjadi sarana untuk mengumpulkan kekayaan bagi diri sendiri. Semua pekerjaan dan harta yang dihasilkan melalui pekerjaan itu, pada akhirnya, harus diorientasikan demi kemaslahatan jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.

Nilai Kerja dalam Ajaran Islam dan Kosakata Perniagaan dalam Al-Qur’an

Di dalam agama Islam, kerja memiliki nilai penting yang istimewa, yang menentukan keutamaan makanan yang dimakan seseorang—sebagaimana disebut dalam hadis yang dikutip di awal tulisan ini[1]—bahkan dianggap sebagai laku ibadah (53:39-41). Meskipun ada sebagian kaum mukmin merasa bahwa mereka tidak terbebani kewajiban bekerja karena mereka sibuk beribadah, banyak kisah yang menunjukkan bahwa itu hanya pemahaman yang keliru tentang makna ibadah.

Di dalam kitabnya, Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn (baca: ihyā`u ‘ulūmiddīn), Imam al-Ghazali berkisah tentang Yesus yang bertanya kepada orang yang mencurahkan hidupnya sepenuhnya untuk beribadah, dari mana dia mendapatkan makanannya. Orang saleh itu menjawab bahwa saudaranyalah yang bekerja dan menyediakan makanan untuknya. Mendengar itu, Yesus pun menjawab, “Saudaramu itu lebih saleh daripada kamu.”[2]

Pada bagian berikutnya, al-Ghazali juga mengisahkan Sahabat ‘Umar b. al-Khaththab yang seringkali menekankan pentingnya bekerja dengan mengatakan, “Janganlah kalian mencari rezeki dengan sekadar duduk saja dan berdoa, ‘Ya, Allah, berikanlah aku rezeki’. Kalian tentu tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.”[3] Karena itu, kaum mukmin sangat ditekankan untuk bekerja dan berupaya mendapatkan rezekinya sendiri agar seseorang bisa mandiri, merdeka, dan bermartabat di antara manusia lainnya.

Bagaimana Rasulullah selalu menekankan untuk bekerja dan tidak menyukai orang yang menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain tergambarkan dalam riwayat berikut ini.

“Diriwayatkan bahwa seorang penganggur dari kaum Anshar pernah meminta sedekah kepada Rasulullah. Beliau bertanya apakah ia memiliki sesuatu. Ia menjawab bahwa ia memiliki selimut untuk menutupi tubuhnya dan cangkir untuk minum. Rasulullah meminta untuk membawa benda-benda tersebut. Ketika ia membawanya, Rasulullah mengambilnya, lalu menawarkannya kepada orang-orang untuk dilelang. Salah seorang yang hadir menawarnya satu dirham. Rasulullah memintanya untuk menaikkan tawaran. Yang lain menawarnya dengan dua dirham dan membelinya. Rasulullah memberikan yang dua dirham itu pada orang tersebut dan menyarankannya untuk membeli sebuah kapak yang harganya satu dirham. Ketika telah membelinya, Rasulullah memperbaiki tangkai kapak tersebut dengan tangan beliau sendiri, lalu memberikannya kepada orang tersebut sambil berkata, “Pergilah ke hutan dan tebanglah pohon. Jangan datang menemuiku sebelum lima belas hari.” Setelah dua minggu berlalu, ketika ia kembali, Rasulullah menanyakan bagaimana keadaannya. Ia menjawab bahwa ia memperoleh dua belas dirham selama itu dan mampu membeli beberapa helai kain dan padi. Rasulullah berkata, “Ini lebih baik daripada mengemis dan membuat malu diri sendiri di hari pembalasan nanti.”[4]

Kata yang digunakan di dalam Al-Qur’an untuk merujuk kegiatan “bekerja” adalah ‘amal (عمل), yang kata turunan dan infleksinya digunakan ratusan kali. Bentuk infinitif (mashdar) tunggal, ‘amal, dalam berbagai infleksi dan pronomina personal yang mengikutinya saja (‘amalun/-in/-an, ‘amaluka, ‘amalukum, ‘amalihim, ‘amalī) digunakan sebanyak 29 kali, sedangkan bentuk jamaknya, a‘māl (a‘mālun/-an, a‘mālukum, a‘mālunā, a‘māluhum), digunakan sebanyak 41 kali. Selain itu, digunakan juga bentuk turunannya, baik yang berupa kata kerja (fi‘l), kata perintah (fi‘l ‘amr), maupun pelaku (fā‘il): yaitu kata kerja, ‘amila (19), ‘amilat (6), ‘amiltum (1), ‘amilū (73), a‘malu (4), ta‘malu (2), ta‘malūn (83), na‘malu (6), ya‘malu (14), ya‘malūn (56); kata perintah, i‘mal (2), i‘malū (9); dan pelaku, ‘āmil/-ūn/-īn (12).[5]

Meskipun kata ‘amal di sana tidak selalu merujuk kepada tindakan bekerja yang memberikan upah, penggunaan yang sedemikian berlimpah itu menunjukkan bahwa tindakan berupa karya nyata merupakan hal yang lebih ditekankan dibandingkan “sekadar” berkata-kata tanpa tindakan nyata. Penekanan atas tindakan nyata ini juga muncul, di antaranya, dalam hadis tentang keutamaan tindakan nyata dalam menghadapi sebuah tindakan maksiat: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, jika ia bisa mengubahnya dengan tangan, maka hendaklah ia lakukan. Jika ia tidak mampu dengan tangannya, hendaklah dengan lisannya; jika ia tidak mampu dengan lisannya, maka hendaklah dengan hatinya—dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”[6]

Dalam konteks masyarakat Arab abad ke-7—masa hidup Muhammad Rasulullah SAW—jenis pekerjaan yang paling umum adalah berdagang. Tampaknya, ini adalah profesi yang sudah merupakan bakat yang mendarah daging bagi sebagian besar penduduk kota Makkah. “Tidak ada seorang Makkah pun yang bukan pedagang,” demikian disebutkan dalam sebuah hadis.[7] Ilustrasinya adalah tokoh Sahabat, ‘Abdurrahman b. ‘Awf. Ketika seorang Anshar menawarkan separuh hartanya untuk Sahabat yang dipersaudarakan dengannya oleh Rasulullah ini, ‘Abdurrahman menolak dengan halus dan menjawab, “Semoga Allah memberi berkat atas keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar.” Tak lama kemudian, dia sudah kembali dengan sekantong mentega dan sebungkus keju, hasil berdagang barter. Beberapa tahun kemudian, ia pun menjadi salah seorang terkaya di Madinah.[8]

Ilustrasi suasana perniagaan di sekitar Ka’bah pada masa pra-modern (imajinasi artis).

Ilustrasi suasana perniagaan di sekitar Ka’bah pada masa pra-modern (imajinasi artis).

Bagaimana perdagangan memang merupakan usaha utama masyarakat Arab ketika itu juga tercermin dalam banyaknya kosakata perdagangan yang digunakan di dalam Al-Qur’an. Bahkan, menurut C.C. Torrey, istilah-istilah perniagaan tersebut digunakan di dalam Al-Qur’an untuk mengungkapkan butir-butir doktrin yang paling mendasar, bukan sekadar kiasan-kiasan ilustratif.[9] Memang, kata yang langsung merujuk kepada pedagang (tājir) tidak digunakan di dalam Al-Qur’an dan kata perdagangan (tijārah) hanya digunakan 9 kali,[10] tetapi kosakata lain yang berhubungan dengan tema-tema perdagangan sangat banyak terdapat di dalamnya. Dalam kajiannya, C.C. Torrey menengarai kategori-kategori istilah perniagaan berikut: perhitungan (hisāb, al-hasīb, ahshā), takaran dan ukuran (wazana, mīzān, tsaqula, mitsqāl), pembayaran dan upah (jazā, tsawwaba, tsawāb, waffā, ajr, kasaba), kerugian dan penipuan (khasira, bakhasa, zhalama, alata, naqasha), jual-beli (syarā, isytarā, bā‘a, tijārah, tsaman, rabiha), serta pinjam-meminjam dan jaminan (qardh, aslafa, rahīn).[11]

Istilah perniagaan yang digunakan untuk perhitungan untung-rugi (hisāb) digunakan sebanyak 37 kali di dalam Al-Qur’an[12]—bahkan menjadi salah satu nama Hari Kiamat (yawm al-hisāb, Q.S. 38:16, 26, 53, dll.)—dan sifat sangat memperhitungkan (hasīb) digunakan untuk menyebut Allah dalam kaitannya dengan perbuatan manusia (Q.S. 4:6,86; 33:39). Selain itu, kosakata yang berkenaan dengan metode perdagangan juga digunakan dalam menjelaskan doktrin-doktrin keimanan, seperti “barter” (isytara) dan “transaksi jual-beli” (bay‘)—keduanya bahkan terdapat dalam satu ayat, Q.S. 9: 111.

Salah Satu Pusat Perniagaan Masyarakat Arabia: Makkah sebagai Metropolis Pra-Islam

Dunia Arabia yang kehidupannya didominasi usaha perniagaan ini kemudian melahirkan orang-orang yang kuat secara ekonomis, seperti Abū Uhayhah Sa‘īd b. al-‘Ash, Abū Sufyān, al-Walīd b. al-Mughīrah, ‘Abdullāh b. Jud‘ān, ‘Abd Allāh b. Abī Quhāfah (Abū Bakr al-Shiddīq), Khadījah (istri pertama Nabi Muhammad), Hind (istri Abū Sufyān) dan Umm Hanzhaliyah (Asmā` bt. Mukharribah, ibu Abū Jahl).[13] Namun, orang-orang tersebut tidak dapat dikatakan telah membentuk satu kelas masyarakat tersendiri—dalam pengertian Marxian. Pola hidup perkotaan dengan pamor kekayaan dan kebangsawanan tidak mengikis mental nomad mereka. Ikatan-ikatan kesukuan berdasarkan pertalian darah atau kesamaan nenek moyang tetap menjadi basis utama struktur sosial masyarakat Makkah masa itu.

Kegandrungan masyarakat Arabia—khususnya, Makkah—tentu berhubungan juga dengan kondisi geologis wilayah mereka. Al-Qur’an sendiri menyebutkan bahwa Makkah adalah wilayah gersang berupa “lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman” (Q.S. 14:37). Kendati demikian, Makkah adalah kota transit niaga yang mampu melayani perdagangan internasional untuk kebutuhan dua imperium adikuasa ketika itu—Romawi dan Persia—dengan variasi dan volume komoditas perniagaan yang luar biasa. Variasi dan volume komoditas itu terutama berlimpah pada saat berlangsungnya pasar niaga musiman yang setahun sekali berlangsung di ‘Ukādz—yang terbesar—Majannah, Dzū al-Majāz, Minā`, dan ‘Arafah. Meskipun Makkah sekaligus juga menjadi pusat kegiatan keagamaan suku-suku Arab, daya tarik ekonomis bisa jadi lebih kuat daripada daya tarik religius. Kedatangan mereka ke Makkah mungkin hanya sekadar tindakan logis berdasarkan perhitungan bisnis bahwa pasar-pasar niaga yang berdekatan dan dalam waktu yang bergiliran tentu lebih efektif ditempuh sekali jalan. Kenyataannya, pasar musiman di Makkah kemudian menjadi pasar raya terbesar dibandingkan dengan yang lainnya karena merupakan pasar raya puncak.

 

Lokasi pasar raya dan pusat keagamaan di Arabia pra-Islam (abad ke-6).

Lokasi pasar raya dan pusat keagamaan di Arabia pra-Islam (abad ke-6).

 

Pasar raya atau festival di Makkah diadakan setahun sekali setiap tanggal 10 Zulhijah. Sebelum festival puncak ini, di beberapa kota sekitarnya diadakan juga festival-festival, sebulan menjelang hingga masuknya bulan Zulhijah. Tiga festival besar yang sering disebut adalah pasar tahunan ‘Ukādz pada 20 hari pertama bulan Zulkaidah, pasar tahunan Majannah pada sepuluh hari terakhir bulan Zulkaidah juga, dan pasar tahunan Dzū al-Majāz pada tanggal 1 hingga 8 Zulhijah. Satu hari sebelum pasar raya Makkah, festival diadakan di Minā` dan ‘Arafah.[14] Setelah festival Makkah, keramaian di sana terjadi hanya ketika sebuah kafilah yang cukup besar singgah dan menyemarakkan kegiatan niaga yang berjalan biasa saja setiap harinya. Keramaian juga terjadi ketika orang-orang Quraisy berangkat dua tahun sekali dalam kafilah dagang musiman, ke utara (Syām) di musim panas dan ke selatan (Yaman) di musim dingin. (Q.S. 106:2)

Dalam perayaan-perayaan seperti itu, orang-orang dari berbagai penjuru Arabia—Yaman, Hijāz, Najd, Syām, bahkan Romawi dan Persia—melimpah hingga ke desa-desa di sekitar pasar Makkah, seperti Minā` dan ‘Arafah. Bersama keanekaragaman etnis itu, bercampur-aduk pula berbagai kebudayaan dan pemahaman religius di sana-sini. Tak ada pemimpin tertinggi atau pemandu untuk mengarahkan perjalanan dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya. Setiap orang boleh melakukan kegiatan ritual apa saja, kapan dan di mana saja dia suka. Pergerakan kelompok-kelompok yang kacau dan liar kemudian menjadi hal yang lumrah. Hanya peribadahan pada festival tahunan Makkah yang masih mampu mempertahankan sedikit ketertiban.

Demi suksesnya festival tahunan Makkah, para saudagar kota Makkah, yang tentunya sangat berkepentingan terhadap jumlah pengunjung yang datang, berusaha sebaik-baiknya menyenangkan para tamu. Sejak bergenerasi sebelumnya, kaum Quraisy dan pendahulunya melembagakan jabatan-jabatan khusus untuk mendukung kesuksesan pasar tahunan di kota mereka itu.[15] Demi kebanggaan—dan konsesi bisnis yang bisa saja muncul sebagai akibat sampingan—banyak klan telah bersaing untuk menduduki jabatan-jabatan tersebut. Jabatan rifādah, misalnya, akan memberikan hak kepada pelaksananya untuk mengatur pengadaan dan mengawasi pembagian makanan kepada para pengunjung atas biaya bersama yang ditarik secara berkala dari penduduk Makkah. Seorang pejabat siqāyah akan bertanggung jawab untuk menjamin tersedianya cukup air di tempat-tempat umum tertentu untuk menghilangkan dahaga mereka yang asyik berbisnis atau pun sekadar melihat-lihat. Dari jabatan-jabatan ini mereka akan berkesempatan untuk melakukan pendekatan kepada para cukong yang hadir dan, di mana mungkin, menjalin kesepakatan bisnis, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anggota klannya.

Baik para kapitalis kelas kakap maupun pedagang eceran umumnya datang ke perayaan-perayaan tersebut dengan tujuan utama berbisnis, sedangkan mengelilingi Ka‘bah dan kegiatan-kegiatan ritual lain yang menyertainya hanya dilakukan oleh orang-orang Quraisy atau siapa pun yang bersedia menganggapnya sebagai sebuah rekreasi yang tidak ada salahnya dilakukan. Zaman itu, mereka yang benar-benar menganggapnya sebagai bagian ritual agama biasanya melakukannya dalam kunjungan-kunjungan yang bersifat pribadi di luar musim-musim perayaan, yang kemudian dikenal sebagai ‘umrah. Memang ada pula sebagian pemeluk teguh idolatri yang melakukannya di musim-musim perayaan, tetapi besar kemungkinan itu mereka lakukan lebih sebagai unjuk kekuatan (show of force) ketimbang sebuah pernyataan religiositas. Itu merupakan bagian dari propaganda untuk mendongkrak reputasi suku Quraisy sebagai suku yang melestarikan budaya leluhur dan kesakralan Ka‘bah. Dalam perayaan-perayaan seperti itulah Ka‘bah dibuka untuk umum dan dihias dengan meriah. Hubal, berhala terbesar di sana, didandani dengan semarak dan dipamerkan untuk dapat dilihat dan dikagumi oleh para pengunjung yang datang dari seluruh Arabia.

Tentu saja, sebagaimana yang umumnya terjadi dalam masyarakat-masyarakat niaga di mana pun, di Makkah pun terjadi praktik-praktik perekonomian yang curang. Akan tetapi, tingkat dan skala eksploitasi serta kesenjangan sosial yang ditimbulkannya pasti tidak sebanding dengan praktik-praktik perekonomian kapitalisme modern. Kalaupun Al-Qur’an menyinggung tentang kecurangan dan keharusan bertindak adil dan jujur dalam perniagaan, itu tidak berarti bahwa praktik-praktik bisnis yang tidak etis di Makkah telah mencapai taraf fenomenal. Hal itu hanya menunjukkan fakta bahwa, di mana pun, dunia perniagaan cenderung melibatkan tindakan-tindakan abusif, tindakan-tindakan curang. Kecintaan yang berlebihan kepada harta, ketakhirauan kepada mereka yang kurang beruntung, kecenderungan yang kuat mengerkah yang lemah, dan perbudakan, adalah hal-hal alami yang dapat terjadi di masyarakat mana pun dan tidak mesti berhubungan dengan gaya kehidupan ekonomi tertentu. Ini dapat terjadi di kota Makkah abad ketujuh, sama seperti dapat terjadi di New York abad kesepuluh, atau di pedalaman Banten abad keduapuluh satu. Lagi pula, gugatan-gugatan terhadap praktik-praktik ketidakadilan, pemujaan terhadap kenikmatan dan kemewahan, subordinasi mereka yang miskin dan terpinggirkan, adalah elemen-elemen standar dalam repertoar para nabi. Kenyataan bahwa, pada awal abad ke-7, Makkah telah menjadi sebuah kota merkantil dan metropolis tidak mengimplikasikan secara mendesak adanya kesenjangan sosio-ekonomik yang fundamental.

Sebagaimana kecurangan dan penipuan yang selalu ada dalam masyarakat mana pun, demikian juga upaya-upaya untuk menyelesaikan dan mencegahnya. Salah satu kasus kecurangan yang terjadi dalam perniagaan di Makkah adalah kasus penipuan atas Ubayy ibn Khalf oleh Qays ibn Syabbah—peristiwa yang kemudian melahirkan Hilf al-Fudhūl (“Pakta Kebajikan”). Ubayy ibn Khalf adalah pedagang dari Zabid yang menjual barang dagangannya kepada Qays ibn Syabbah, salah seorang pemimpin Banu Sahm. Namun, Qays tidak membayar barang yang diambilnya, ia justru mengancam Ubayy ibn Khalf. Karena ketidakmampuannya mempertahankan haknya, Ubayy ibn Khalf kemudian mendaki Jabal Abu Qubays dan meneriakkan kecurangan yang menimpanya serta menyeru kaum Qurays untuk menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas.[16]

Telah diketahui umum bahwa terjadi permusuhan diam-diam antara keturunan Hāsyim dan keturunan ‘Abd Syams. Perseteruan itu dimulai dari rasa iri atas keutamaan pamor Hāsyim di tengah suku Quraisy, selain juga karena perebutan hak atas kepengurusan kota Makkah dan Ka‘bah. Kasus Ubayy ibn Khalf ini dilihat sebagai kesempatan untuk mempersatukan kembali kekuatan Quraisy. Pertemuan pun diadakan di kediaman ‘Abd Allāh ibn Jud’ān dan dihadiri oleh klan Hāsyim, klan al-Muththalib, klan Asad, klan Zuhrah, serta klan Taym dan menghasilkan sebuah ikrar kesepakatan untuk melawan ketidakadilan. Setelah membasuh Hajar Aswad dan meminum air basuhannya, mereka berdiri dengan satu tangan di atas kepala dan berikrar atas nama Allah bahwa mereka tak akan membiarkan seorang pun teraniaya di Makkah dan akan menolongnya hingga mendapatkan kembali haknya dengan cara apa pun.

Apa pun latar belakang yang mendorong terjadinya, Hilf al-Fudhūl adalah sebuah upaya mengendalikan etika perdagangan di Makkah dengan menegakkan perlindungan terhadap mereka yang tertindas. Upaya perlindungan terhadap kaum yang lemah itu—baik dalam perdagangan maupun dalam hal lainnya—semakin berkembang pada masa-masa kemudian, terutama setelah munculnya masyarakat Islam di Madinah.

Tiga Karakteristik Utama Pekerjaan Seorang Mukmin: Niat, Ihsān, dan Itqān

Rambu-rambu yang digariskan Rasulullah dalam hubungan dengan kerja dan harta bisa dirangkum ke dalam sikap yang harus diambil seorang mukmin terhadap empat hal: sikapnya terhadap harta, pekerjaan, waktu, dan kesenangan.[17] Dalam kaitannya dengan harta kekayaan, Rasulullah jelas sangat mencela mereka yang menimbun harta, menggunakannya untuk kesenangan sendiri, atau demi bermewah-mewah (104:2–3). Pada kenyataannya, berbagai legislasi yang beliau keluarkan berkenaan dengan harta diarahkan menuju pemerataan distribusi kekayaan di antara manusia—di antaranya melalui legislasi zakat.

Tidak ada hadis—manakala dipahami sesuai dengan konteksnya—yang bisa dipahami sebagai larangan untuk memiliki banyak harta atau kaya raya. Bahkan, beberapa orang Sahabat—di antaranya, ‘Abdurrahman b. ‘Awf sebagaimana disebut di muka—adalah orang-orang kaya dan tak ada satu hadis pun yang menyuruh mereka untuk menanggalkan kekayaannya. Sebaliknya, banyak kisah yang menunjukkan bagaimana Rasulullah berterima kasih kepada kaum kaya yang telah membelanjakan hartanya demi berkembangnya masyarakat mukmin. Contoh yang menonjol adalah Sahabat ‘Utsman b. ‘Affan. Ketika Rasulullah menggalang dana mobilisasi pasukan untuk menaklukkan Bizantium, ‘Utsman memberikan donasi seratus kuda lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan oleh seratus orang prajurit yang sesuai untuk penaklukan seperti itu. Rasulullah pun menerima donasi tersebut dan mendoakan ‘Utsman. Ketika Rasulullah turun satu tangga dari mimbarnya, ‘Utsman menambahkan seratus kuda lengkap lagi. Rasulullah pun menerima donasi tersebut dan mendoakan ‘Utsman lagi. Ketika Rasulullah turun satu tangga lagi dari mimbarnya, ‘Utsman menambahkan seratus kuda lengkap lagi sehingga total menjadi tiga ratus kuda lengkap dengan peralatannya.

Dalam riwayat lainnya diriwayatkan bahwa Rasulullah berhenti, lalu mendoakan ‘Utsman dan mengeluarkan pernyataannya yang terkenal tentang ‘Utsman: “Apa pun yang mungkin dilakukan oleh ‘Utsman di masa depan tidak akan mencelakakannya.” kalimat ini bisa saja merupakan upaya retrospektif untuk menjustifikasi apa yang kemudian ‘Utsman lakukan dalam masa kekhalifahannya. Namun, pernyataan itu tetap menunjukkan bahwa donasi ‘Utsman yang setara dengan sebuah satuan tempur waktu itu bahkan bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan ‘Utsman di masa kemudian.Dalam kaitan ini, layak diingat bahwa menjadi kaya tidak sama dengan menimbun kekayaan karena kekayaan tetap harus terdistribusikan, baik melalui pajak (zakat) maupun melalui donasi (sedekah).

Panduan bagi sikap seorang mukmin terhadap kerja atau pekerjaan tercermin, di antaranya, dalam hadis yang diriwayatkan melalui Miqdam b. Ma‘adi: “Jika seseorang keluar mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya, dia berada di jalan Allah. Jika dia bekerja untuk ayah ibunya, dia berada di jalan Allah. Jika dia bekerja untuk dirinya sendiri dengan bersahaja, dia berada di jalan Allah. Namun, jika dia bekerja demi kebanggan dan kesombongan, dia berada di jalan Setan.”[18]

Konsep kebersahajaan dalam berusaha ini tampaknya bisa dihubungkan dengan beberapa konsep fundamental yang mendasari konsep kerja, yaitu niat, ihsān dan itqān, serta keseimbangan. Hadis Nabi yang sangat terkenal dan dimuat sebagai hadis pertama di dalam Shahīh al-Bukhari berbunyi, “Nilai setiap perbuatan itu tergantung niatnya.”19 Dari hadis tersebut bisa dipetik petunjuk bahwa tinggi-rendahnya nilai kerja seseorang itu sesuai dengan tinggi-rendahnya niat yang dimilikinya. Niat di sini merupakan sebentuk pilihan dan keputusan pribadi yang dikaitkan dengan sistem nilai yang dianutnya, sebuah komitmen. Karena itu, niat juga berfungsi sebagai sumber dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu atau—jika ia memilih mengerjakannya—untuk mengerjakan sesuatu dengan tingkat kesungguhan tertentu.[19]

Sebagaimana diisyaratkan dalam hadis di atas, sistem nilai yang terkait dengan niat dan menjadi ukuran puncaknya adalah memperoleh ridha Allah. Dengan demikian, niat tidak dapat digunakan untuk menjustifikasi cara, keduanya harus sejalan, keduanya harus diarahkan untuk mencapai nilai puncak tersebut. Sebuah niat yang baik akan gugur jika dalam pencapaiannya digunakan cara-cara yang tidak benar.

Mengerjakan sesuatu demi “memperoleh ridha Allah” mengimplikasikan bahwa seseorang tidak akan melakukannya dengan sembrono atau sembarangan.[20] Inilah yang disebut ihsān, yaitu sikap yang, dalam konteks pekerjaan, bisa dimaknai sebagai optimalisasi kerja: melakukan pekerjaan sebaik mungkin, sesempurna mungkin. Dalam pengertian ini, kata ihsān dapat diterjemahkan sebagai “kesungguhan” (earnestness).

Berhubungan dengan konsep ihsān adalah itqān, yang artinya, kurang lebih, adalah mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh dan teliti, rapi, indah, tertib, dan bersesuaian antara bagian yang satu dengan lainnya, sebagaimana diisyaratkan di dalam Al-Qur’an, Q.S. 27:88.[21] Dalam hal ini, itqān dapat diterjemahkan sebagai “kesempurnaan” (perfection) atau “profesionalisme”. Hal inilah yang ditekankan dalam hadis, “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang di antara kamu yang melakukan pekerjaannya dengan itqān.” [22]

Dalam praktiknya, penerapan niat (commitment), ihsān (earnestness), dan itqān (perfection/professionalism) dalam bekerja/pekerjaan bisa dilihat bukan hanya pada hasil kerjanya, melainkan juga pada perwujudan hubungan seseorang dengan berbagai unsur yang terlibat dalam pekerjaannya, yaitu hubungan dengan dirinya, lingkungan hidupnya, dan manusia lainnya—yang kesemuanya didasari upaya memelihara hubungannya dengan Tuhannya.

Dalam hubungan pekerjaan seseorang dengan dirinya sendiri, setiap pekerjaan mestilah merupakan aktualisasi keimanan dan ketakwaan seseorang dan ditujukan bagi peningkatan kualitas jiwa pelakunya demi mengharapkan ridha Allah atau “perjumpaan dengan Tuhannya”. Dengan tujuan ini, seseorang akan menjaga niat bekerjanya demi mencapai nilai-nilai keutamaan jiwa—bukan sekadar pemuasan nafsu fisik atau hasrat terhadap benda. Tujuan itu dicapai melalui pemenuhan tindakan bekerja sebagai “amal saleh”: “… Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh .…” (Q.S. 18:110)

Tentu saja, tujuan puncak itu tidak berarti menafikan bagian yang boleh diambil oleh manusia dalam kehidupan dunia. Tanpa adanya keinginan memperoleh bagian (di) dunia, doa “sapu jagat”—… fi d-dunyā hasanah, wa fi l-ākhirati hasanah … (Q.S. 2:201)—akan menjadi tidak relevan. Hal ini juga bisa ditafsirkan dari ayat yang memerintahkan, “Kehendakilah negeri akhirat pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia, dan berbuat ihsān-lah sebagaimana Allah telah berbuat ihsān kepadamu …” (Q.S. 28:77)

Perintah untuk mencari perolehan di dunia itu bisa juga ditafsirkan dari ayat 10, Q.S. 62: “Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung;” juga hadis Rasulullah, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” [23]

 

Tiga karakteristik utama kerja seorang mukmin dan tiga bidang perwujudannya.

Tiga karakteristik utama kerja seorang mukmin dan tiga bidang perwujudannya.

 

Dalam hubungan pekerjaan seseorang dengan lingkungan hidupnya, setiap pekerjaan mestilah menghargai alam sebagai karunia yang Allah berikan kepada seluruh manusia untuk dimanfaatkan sekaligus dipelihara demi kemaslahatan seluruh makhluk/ciptaan. Bagian akhir ayat Q.S. 28:77 yang telah dikutip di atas dengan jelas menyebutkan arahan ini: “… dan janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang merusak.”

Dalam kaitan ini, hadis Rasulullah yang diriwayatkan Muslim berikut ini bahkan memerintahkan untuk berlaku ihsān terhadap apa pun yang menjadi objek pekerjaan seseorang, termasuk ketika menyembelih hewan: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya berlaku ihsān terhadap setiap sesuatu. Jika kamu membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik: tajamkan pisaumu agar senanglah hewan sembelihanmu.”[24]

Dalam hubungan dengan manusia lainnya, setiap pekerjaan mestilah selalu dibarengi dengan kesadaran bahwa semua manusia itu bersaudara, satu leluhur, dan setara. Mereka hanya berbeda dalam hal ketakwaan kepada Allah dan ketakwaan itu adalah prerogatif Allah untuk menentukan dan mengetahuinya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. 49:13)

Selain ketakwaan, kriteria mukmin yang disukai oleh Allah adalah mukmin yang bekerja, yang dengan hasil pekerjaan itu dia bisa menjadi pribadi yang mandiri, bahkan bisa membantu mereka yang berada di sekitarnya atau di bawah perlindungnya.

“Hai anak cucu Adam, sesungguhnya bila kau memberikan harta lebihan itu lebih baik bagimu dan bila kau menahannya itu buruk bagimu, dan kamu tidak tercela jika menggunakan harta sekadar cukup, mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu dan tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah.” [25]

“Sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu pergi ke gunung dan mencari kayu bakar, kemudian dia menjualnya, lalu dari itu dia dapat makan dan bershadaqah, lebih baik baginya daripada meminta kepada manusia.”[26]

Di samping itu, ketika seorang mukmin yang kuat mempekerjakan manusia lain di bawah pengelolaannya, ada panduan-panduan tertentu dalam menunjukkan bagaimana ia menghargai jerih payah seorang pekerja: “Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” [27] atau bagaimana ia menjaga perasaan orang-orang yang berada “di bawah”-nya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menggugurkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena pamer kepada manusia .…” (Q.S. 2:264)

Dari uraian di atas, paling tidak, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh seorang mukmin selalu ditandai dengan tiga karakteristik utama: niat (komitmen), ihsān (kesungguhan), dan itqān (kesempurnaan). Perwujudan akan adanya tiga karakteristik utama tersebut bisa dilihat dalam bagaimana hubungan seorang pekerja (mukmin) dengan dirinya sendiri, dengan lingkungannya, dan dengan sesama manusia lainnya.

Perwujudan tiga karakteristik kerja yang muncul dalam hubungan seorang mukmin “ke dalam” dan “ke luar” itu, pada prinsipnya, adalah demi berkembangnya sebuah masyarakat yang memanusiakan manusia, tempat setiap orang mendapatkan haknya sesuai dengan karyanya. Dengan demikian, kondisi homo homini lupus (‘manusia adalah serigala bagi sesamanya’) bisa sangat diminimalisasi dan manusia sebagai homo sapiens (‘manusia bijak’) tidak berubah menjadi homo avarus (‘manusia rakus’).

divider

Format PDF: Agar Homo Sapiens Tidak Menjadi Homo Avarus: Etos Kerja dalam Ajaran Islam


  1. Al-Bukhārī, Shahīh, “Kitāb al-Buyū‘“, hadis no. 1966 (Beirut: Dār Ibn Katsīr, 1993), II: 730.
  2. Al-Ghazali, Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn, “Kitāb Ādāb al-Kasb wal-Ma‘āsy” (Semarang: Karya Toha Putra, t.t.), II: 64.
  3. Ibid.
  4. Abu Dawud, Sunan, “Kitāb al-Zakāh, Bāb mā tajūzu fih al-mas`ālah”, hadis no. 1641 (Riyadh: Bayt al-Afkār al-Dawliyyah, 1999): 194.
  5. M. Fu`ād ‘Abd al-Bāqī, al­‑Mu‘jam al‑mufahras li-alfāzh al‑qur`ān al‑karīm (Kairo: Dār al-Hadīts, 1945): 483–8.
  6. Imam Ahmad, Musnad, hadis no. 11803 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2008), V: 145. Dikeluarkan juga oleh al-Bukhārī (“K. al-Jum‘ah”, no. 913), Muslim (“K. al-Īmān”, no. 49), al-Tirmidzī (“K. al-Fitan”, no. 2172), al-Nasā`ī (“K. al-Īmān”, no. 5008–9), Abu Dāwud (“K.  al-Shalāh”, no. 1140; “K. al-Malāhim”, no. 4340), dan Ibn Majah (“K. Iqāmah al-Shalāh wal-Sunnah”, no. 1275).
  7. Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah: Kurun Makkah, Suatu Penafsiran Baru (Jakarta: Tama Publisher, 2005): 51.
  8. Ibid.: 52.
  9. C. C. Torrey, The Commercial-Theological Terms in the Koran, (Leiden: Brill, l892): 7.
  10. M. Fu`ād ‘Abd al-Bāqī, op. cit.: 152.
  11. C. C. Torrey, op. cit.: 8.
  12. M. Fu`ād ‘Abd al-Bāqī, op. cit.: 201.
  13. Fuad Hashem, op. cit.: 56.
  14. Al-Azraqī, Akhbār Makkah wamā jā`a fīhā min al-atsār (Maktabah al-Asadī, 2003), I: 280
  15. Ibid.: 177.
  16. Ch. Pellat, “Hilf al-Fudūl”, The Encyclopaedia of Islam, New Edition (Leiden: E.J. Brill, 1986), III: 389.
  17. Shukri Ahmad & Musa Yusuf Owoyemi, “The Concept of Islamic Work Ethic: An Analysis of Some Salient Points in the Prophetic Tradition”, International Journal of Business and Social Science, Oktober 2012, 3(20): 116–123.
  18. Al-Albanī, Shahīh al-Targhīb wal-Tarhīb, hadis no. 1692 (Riyadh: al-Ma‘arif, 2000), II: 306.
  19. Al-Bukhārī, op. cit., hadis no. 1.
  20. Nurcholish Madjid, Islam: Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992): 413.
  21. Ibid.: 414
  22. Ibid.: 416
  23. Al-Bayhaqī, al-Mu‘jam al-Awsath, hadis no. 897 (Dār al-Haramayn, 1995), I: 275.
  24. Bukan hadis dari Rasulullah, hanya ungkapan yang sudah masyhur. Al-Albanī, Silsilah al-Ahādîts al-Dha‘īfah wal-Mawdhū‘ah (Riyadh: al-Ma‘arif, 1992), I: 63–65.
  25. Muslim, Shahīh, “Kitāb al-Shayd wal-Dzabā`ih”, hadis no. 1955 (Riyadh, Dār Thayyibah, 2002), II: 940–1.
  26. Al-Tirmidzī, Jāmi‘, “Kitāb al-Zuhd”, hadis no. 2343 (Riyadh: Bayt al-Afkār al-Dawliyyah, 1999): 386.
  27. Al-Bukhārī, Shahīh, “Kitāb al-Zakāh‘“, hadis no. 1410 (Beirut: Dār Ibn Katsīr, 1993), II: 538.

closing
Bagikan:

Tulis Komentar