Germinal: Novel Politik yang Ambigu

144
0
Bagikan:
Ilustrasi resensi buku Germinal karya Émile Zola.

“Aku tidak terlalu peduli pada keindahan atau kesempurnaan. Aku juga tidak peduli pada zaman-zaman keemasan. Yang kupedulikan adalah kehidupan, perjuangan, dan kekuatan.”

Émile Zola

PAda sekitar pukul satu siang pada hari pemakaman Émile Zola, September 1902, lebih dari tiga ribu orang berkumpul di sekitar Rue de Bruxelles, Paris. Mereka adalah para rekan dan buruh pendukung sekaligus pengagumnya. Saat mereka mengiringi jenazah Zola melewati Place Clichy, mereka mengacungkan kepalan dan meneriakkan, “Germinal! Germinal!”[1]

Itu adalah penghormatan terakhir mereka—lebih tepatnya, semangat yang diwariskan oleh Zola—sebagai pelopor gerakan sastra naturalisme, pejuang keadilan dan kesetaraan, yang telah menulis puluhan novel—dua puluh novel dalam serial Les Rougon-Macquart—dengan latar belakang kehidupan sosio-ekonomi pada masa kekuasaan Louis-Napoléon Bonaparte (1848–1852) atau Napoléon III.

Germinal adalah novel Zola yang diterbitkan pada tahun 1885. Meskipun terkesan sebagai novel politis dengan gugatan ke arah kapitalisme yang mencengkeram kaum pekerja di Prancis, novel ini jelas lebih daripada itu. Germinal adalah sebuah karya yang memotret kehidupan secara telanjang, lengkap dengan kemiskinan, kelaparan, kekecewaan, serta keputusasaan hidup dan jiwa manusia melalui lensa zoom. Tak dapat disangkal, di dalamnya juga termuat denyut revolusioner yang akan berdegup keras dalam sebuah masyarakat tempat keadilan tidak berhasil ditegakkan. Bagi mereka, novel ini menyuarakan tuntutan keadilan agar setiap orang diperlakukan setara serta terhapusnya kemiskinan, kelaparan, juga kesengsaraan.

Sekilas Landasan Pemikiran Kesastraan Émile Zola: Realisme dan Naturalisme

Sebagaimana Honoré de Balzac (1799–1850)—atau mungkin lebih—karya-karya Zola mesti dibaca secara keseluruhan karena tidak ada satu pun yang secara penuh memuat pemikiran yang dia ungkapkan. Berbeda dengan Balzac yang dalam perjalanan karier kepenulisannya menyempatkan merangkai pemikiran-pemikirannya ke dalam sebuah koleksi (La Comédie Humaine, 1842), Zola tidak pernah melakukan hal itu. Sepertinya, sejak awal, Zola sudah merencanakan akan mengurai pemikiran-pemikirannya dalam serangkaian novel yang kemudian terbit sebagai serial Les Rougon-Macquart. Karena itu, untuk bisa menangkap keseluruhan pemikiran yang dia tuangkan, orang perlu membaca hampir seluruh karyanya. Tentu saja, ini bukan pekerjaan menarik buat pembaca yang kurang serius.

Beberapa peneliti berupaya mempermudahnya dengan memilih karya-karya tertentu yang dianggap bisa mewakili keseluruhan gagasan yang diungkapkan oleh Zola. Di antara peneliti yang coba berbaik hati itu adalah Frederick Brown dalam karyanya, Zola: A Life (1995). Seleksi itu disebutnya sebagai “Rancangan Utama” (Master Plan) dalam memahami karya-karya Zola. Namun, tampaknya pilihan Brown pun tidak mampu mencakup seluruh pemikirannya. Kesembilan karya Zola yang dipilih oleh Brown adalah L’Assommoir (1877), Nana (1880), Pot-Bouille (1882), Germinal (1885), La Terre (1887), Le Rêve (1888), La Bête humaine (1890), Le Débâcle (1892), dan Le Docteur Pascal (1893).[2]  

Émile Zola adalah penulis novel, lakon, dan jurnalis Prancis yang juga merupakan tokoh penting dalam liberalisasi politik Prancis dan rehabilitasi nama Alfred Dreyfus, perwira yang didakwa secara keliru.  Pembelaannya tertulis dalam sebuah artikel yang kemudian menjadi kepala berita di koran L’Aurore, edisi Selasa,13 Januari 1898: “J’accuse..! Lettre au président de la république” (“Aku Menggugat! Surat kepada Presiden Republik”).[3]

Namun, Émile Zola lebih dikenal sebagai sastrawan Prancis praktisi aliran sastra naturalisme, yaitu aliran sastra yang berusaha menerapkan prinsip objektivitas ilmu pengetahuan eksperimental ke dalam kajian tentang manusia. Akan tetapi, sebelum membicarakan naturalisme, perlu disinggung pula sedikit tentang “ibu” dan “kakak” naturalisme, yaitu romantisisme dan realisme.

Romantisisme adalah gerakan artistik dan intelektual di akhir abad ke-18 hingga abad ke-19 yang menekankan emosi yang kuat sebagai sumber bagi pengalaman estetis, seperti kengerian, ketakutan, atau kekaguman yang dialami ketika berhadapan dengan keagungan alam. Romantisisme mengangkat nilai penting kesenian, bahasa, dan adat istiadat sebuah masyarakat sekaligus mengembangkan sebuah epistemologi yang didasarkan pada penggunaan nyata dan kebiasaan.

Gerakan ini adalah reaksi terhadap rasionalisme berlebihan yang menandai Revolusi Pengetahuan pada abad ke-17, berkat pengaruh dari cita-cita Revolusi Prancis (1789-1799). Romantisisme menghargai capaian-capaian yang diraih oleh para individu atau seniman yang disalahpahami oleh masyarakat, tetapi ternyata telah berpengaruh mengubah masyarakat. Aliran ini mengesahkan imajinasi individual sebagai sebuah autoritas kritis yang memungkinkan pembebasan dari gagasan klasik tentang seni. Para tokoh aliran ini termasuk Goethe, Walter Scott, William Wordsworth, William Blake, Victor Hugo, dan Alexander Pushkin.[4]

Sementara romantisisme terfokus pada sisi batin watak manusia dan condong kepada yang luar biasa dan sublim, Realisme muncul sebagai reaksi atas romantisisme dengan fokus pada segala yang biasa (mundane), yang sehari-hari. Sementara romantisisme merupakan reaksi terhadap rasionalisme yang berlebihan, realisme merupakan reaksi terhadap emosionalisme romatisisme yang berlebihan. Realisme berfokus pada ideologi realitas objektif, pada kehidupan mayoritas manusia, bukan para elite tertentu. Sebagai strategi artistik, realisme memfokuskan sastra kepada yang objektif, yang nyata: lingkungan sosial dan fisik manusia digambarkan dengan demikian detail untuk menyampaikan etos masyarakat yang diceritakan.

Realisme sastra berawal di Prancis, lalu menyebar ke seluruh Eropa pada akhir abad ke-19 dan mulai populer di Amerika, terutama pada awal abad ke-20. Para tokohnya termasuk Gustav Flaubert, Guy de Maupassant, Anton Chekov, George Eliot, dan Mark Twain.[5]

Naturalisme, pada gilirannya, muncul sebagai lanjutan realisme. Jika realisme berfokus pada penggambaran detail kehidupan sehari-hari, naturalisme menariknya lebih jauh kepada penggambaran kehidupan orang-orang yang dianggap sebagai “kaum rendah”. Para penulis naturalis mengarahkan fokusnya, terutama, kepada perjuangan kaum kelas bawah dan “sampah masyarakat”. Dalam perkembangan dan penerapannya, naturalisme terpengaruh oleh Marxisme dan Teori Evolusi. Inilah wilayah ideologi sastra panggung laga Émile Zola dan para penulis lain yang menganut realisme, seperti Gustave Flaubert dan Anton Chekov.[6]

Pengaruh paling utama yang membedakan naturalisme dengan realisme adalah cara kerja yang diperkenalkan oleh ahli fisiologi eksperimental pada zamannya, Claude Bernard, melalui karyanya, Introduction a l’étude de la médecine expérimentale (Pengantar Kajian Pengobatan Eksperimental, 1865). Karya inilah yang dijadikan panduan oleh Zola dalam menyusun pemikiran naturalistiknya, yang kemudian diungkapkannya dalam serangkaian kolom yang ditulisnya pada 1879 untuk harian Le Messager de l’Europe dengan judul “Le Roman Expérimental” (“Karya Roman Eksperimental”) dan “Le Naturalisme au Théâtre” (“Naturalisme dalam Teater”).[7]

Bernard selalu menganjurkan koleganya untuk berkembang melampaui praktik-praktik pengobatan yang berlaku masa itu—praktik dengan metode “empirisme” yang tidak disukainya—dengan melakukan pengujian sistematis atas hipotesis-hipotesis yang berkembang. Mengikuti anjuran itu, Zola mengklaim bahwa sebuah novel mampu menunjukkan bagaimana hasrat dan kehidupan spiritual manusia pun diatur oleh hukum-hukum  yang bersifat tetap dan bahwa hukum-hukum tersebut memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi dalam kondisi-kondisi khusus.[8] Hal itulah yang diungkapkan Zola dan karya-karyanya, termasuk Germinal.

Ketika Germinal pertama kali diterbitkan pada awal 1885, dunia sastra dan politik Prancis sedang mengalami periode transisi. Germinal segera dipuja sebagai sebuah mahakarya naturalisme dan Zola mendapat penghormatan karena dibandingkan dengan Homer, Dante, dan Shakespeare. Pandangan-pandangan Zola menjadi mapan dan mendominasi gerakan sastra tahun 1800-an. Keunggulan naturalisme atas romantisisme secara simbolik ditengarai dengan meninggalnya Victor Hugo pada tahun yang sama. Namun, pada saat Zola dan naturalismenya mencapai puncak, segera saja muncul serangan beruntun dari para sastrawan muda yang masih berafiliasi dengan gerakan simbolisme yang dekaden. A rebours karya Huysman terbit pada 1884, “Langueur” karya Verlaine terbit pada tahun 1885, dan Illuminations karya Rimbaud serta Manifeste du Symbolisme karya Moréas terbit pada 1886.

“Kekuatan-kekuatan politik di Prancis juga mengalami pergeseran: paham-paham dengan kecenderungan anarkisme dan sosialisme mulai menarik minat kelas pekerja.”

Berbarengan dengan perubahan-perubahan dalam bidang sastra, kekuatan-kekuatan politik di Prancis juga mengalami pergeseran: paham-paham dengan kecenderungan anarkisme dan sosialisme mulai menarik minat kelas pekerja.[9] Kecenderungan anarkis itu pula yang akhirnya menyusup ke dalam bagian akhir Germinal, berupa keragu-raguan antara penyelesaian konflik tanpa kekerasan dan revolusi berdarah—betapapun Zola telah berusaha untuk menghilangkan kesan itu dalam tubuh novelnya.

Penokohan dan Ambiguitas: Muatan Politik Germinal

Germinal adalah novel ke-13 dari 20 novel dalam serial Les Rougon-Macquart yang diterbitkan dari tahun 1871 sampai dengan tahun 1893. Judul lengkapnya cukup panjang: Les Rougon-Macquart: Histoire naturelle et sociale d’une famille sous le Second Empire (Keluarga Rougon-Macquart: Cerita Alamiah dan Sosial tentang Sebuah Keluarga pada Masa Pemerintahan Kekaisaran II). Dari subjudulnya saja sudah bisa diduga apa yang menjadi kepedulian Zola dalam serial tersebut, yakni fenomena sosial dengan ketimpangan yang sangat mencolok dalam struktur masyarakat Prancis (Eropa) abad kesembilan belas.

 

20 judul novel dalam serial Les Rougon-Macquart karya Émile Zola.

20 judul novel dalam serial Les Rougon-Macquart karya Émile Zola.

Sebagaimana Zola akui, Germinal dimaksudkan untuk mengeksplorasi  gerakan sosialis yang mulai meluas di Eropa.[10] Namun, ketika seorang wartawan bertanya apakah ia akan berpihak kepada para buruh tambang dalam pemogokan yang dikisahkannya, Zola mengelak pertanyaan yang menjurus kepada kecenderungan politiknya itu: “Naturalisme hanya mengamati ‘apa adanya’, bukan ‘bagaimana seharusnya’. Publiklah yang harus menyimpulkan sendiri.”[11]

Mengikuti pengakuannya di awal paragraf sebelumnya, tentunya sangat logis jika pembaca berharap menemukan jejak ideologisnya dalam konten karyanya yang jelas beraroma politis itu. Sayangnya, Zola justru tidak menggambarkan dengan sepenuhnya dunia politik masa Kekaisaran Kedua—periode yang menjadi latar belakang novel tersebut. Alih-alih, dia malah berkutat dengan memberi komentar atas perdebatan yang berkembang pada tahun 1880-an sebagaimana digambarkan dalam diskusi-diskusi antara Rasseneur (“posibilis”/evolusionis), Souvarine (anarkis), dan Etienne (sosialis), dengan Rasseneur sebagai tokoh yang dominan dalam diskusi—setidaknya, dalam lontaran-lontarannya yang memancing diskusi.

Sayangnya, ketiga tokoh tersebut segera berkembang menjadi tokoh-tokoh stereotip yang sekadar menjadi corong dogma politis ketimbang mengangkat perbedaan-perbedaan ideologis mereka sendiri. Dalam pertemuan di Plan-des-Dames, misalnya, Rasseneur bisa mengutip slogan-slogan politik dengan demikian lancarnya, seperti yang benar-benar menguasai.[12] Demikian juga dengan Souvarine yang ditokohkan sebagai seorang anarkis yang garang. Argumentasi Souvarine sangat didaktik dan sekadar mengulang prinsip-prinsip ekstrem kaum anarkis sebagaimana dipahami oleh analis politik konservatif semacam Emile de Laveleye yang sosialis—yang memang merupakan rujukan Zola berkenaan dengan persoalan kaum sosialis.[13] Adapun Etienne, dia menjelaskan posisinya sebagai sosialis (kolektivis) dengan beriman sepenuhnya kepada Karl Marx bahwa modal adalah hasil rampasan dan para pekerja memiliki kewajiban serta hak untuk merebutnya kembali.[14]

Dengan demikian Zola telah menggunakan penokohan yang dibuat-buat dan elementer untuk memberikan gambaran yang datar tanpa nuansa tentang sosialisme dan anarkisme melalui tokoh-tokohnya. Pada kenyataannya, Zola memang tidak membaca secara langsung para pemikir yang teori-teorinya disebutkan dalam bukunya (Marx, Bakunin, dll.).[15] Jadi, meskipun isi Germinal tampaknya menyiratkan kecenderungan konservatif sebagaimana dipahami melalui analisis Laveleye, perlakuan yang sambil lalu atas perspektif-perspektif ideologis yang berbeda itu tidak cukup untuk menetapkan muatan politik yang diusungnya.

 

Adaptasi Germinal dalam film arahan Claude Berri (1993) dengan pemeran Renaud (Etienne), Laurent Terzieff (Souvarine), dan Jean-Pierre Bisson (Rasseneur). (Foto: Alamy Stock Photo)

Adaptasi Germinal dalam film arahan Claude Berri (1993) dengan pemeran Renaud (Etienne), Laurent Terzieff (Souvarine), dan Jean-Pierre Bisson (Rasseneur). (Foto: Alamy Stock Photo)

Germinal jelas ditulis untuk membuka mata dan kesadaran kaum borjuis tentang ketidakadilan sistem kapitalis dengan memaparkan secara penuh kesengsaraan hidup para pekerja. Itu memang strategi literer para penulis naturalis—setidaknya, mereka yang menulis dalam tradisi Zola. Mereka menggunakan eksperimen fiksinya untuk menunjukkan betapa hebatnya penindasan yang terjadi di masyarakat.

Dengan memaparkan kondisi sosial yang demikian berkuasa menetapkan takdir setiap individu, Zola menyampaikan pesan tersirat naturalisme bahwa kondisi sosial harus diubah. Sayangnya, ini berbenturan dengan implikasi rumusan konservatif naturalisme yang menetapkan bahwa lingkungan dan faktor keturunan membatasi kemungkinan terjadinya perubahan politik, terutama perubahan politik radikal sebagaimana dicita-citakan oleh kaum anarkis.[16] Hal inilah yang menyebabkan ambiguitas muatan politik Germinal karena ada ketegangan antara maksud sang pengarang dan genre sastra naturalisme.

Betapapun demikian, sedikit atau banyak, Germinal telah turut berpengaruh—tepatnya, disalahgunakan—dalam masa revolusi di Indonesia, melalui stigma yang disengaja. Penyalahgunaan itu berkenaan dengan citra buruk yang ditimpakan kepada sekelompok perempuan militan yang tergabung dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani): “Tanggal 30 September 1965 malam, mereka menari-nari tanpa busana di daerah Lubang Buaya, kemudian menyiksa para Jenderal, menyayat kemaluan para perwira itu, dan memasukkan ke dalam mulut mereka.”[17]

Berita palsu itu jelas terilhami adegan pada Bagian V, Bab 6, dalam Germinal. Pada bab itu diceritakan tentang Maigrat yang terjatuh dari rumahnya dalam keadaan sudah tak bernyawa. Lalu, sekelompok pekerja wanita yang dendam terhadap perilaku Maigrat mengeroyok jenazahnya.[18] Entah siapa yang membaca Germinal dan dengan sengaja menyebarkan kisah tersebut sehingga seolah-olah itulah yang dilakukan oleh Gerwani. Berita itu membangkitkan kemarahan rakyat sehingga mendorong mereka untuk melakukan pembantaian terbesar dalam sejarah Indonesia, yang memakan korban hingga setengah juta jiwa.[19]

Germinal jelas telah mengambil perannya dalam sejarah pergerakan kaum buruh, sastrawan, dan pemikir sosialis. Terlepas dari itu semua, Germinal adalah sebuah karya yang sangat bisa membangkitkan kembali semangat orang untuk mengembara ke dunia kata dan pikiran yang penuh pesona.

divider

  1. Hugh McLeave, A Moment of Truth: The Life of Zola (New Castle: Boson Books, 2001): 210.
  2. Frederick Brown, “Master Plan”, dari Zola: A Life, dikutip dalam Harold Bloom, Bloom’s Modern Critical Views: Emile Zola (Philadelphia: Chelsea House Publishers, 2004): 99–130.
  3. Wikipedia, “Émile Zola”, https://en.wikipedia.org/wiki/Émile_Zola (diakses 14/4/2017).
  4. New World Encyclopedia, “Romanticism”, http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Romaticism (diakses 14/4/2017).
  5. New World Encyclopedia, “Realism”, http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Realism (diakses 14/4/2017); Microsoft Encarta 2009, [CD-ROM], (Microsoft Corporation, 1993-2008).
  6. New World Encyclopedia, “Naturalism_(literature)”, http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Naturalism_(literature) (diakses 14/4/2017).
  7. Harold Bloom, op. cit.: 223.
  8. Ibid.
  9. Eduardo A. Febles, Explosive Narratives: Terrorism and Anarchy in the Works of Emile Zola (Amsterdam-New York: Editions Rodopi B.V., 2010): 33.
  10. “… ce projet [d’un deuxieme roman ouvrier] s’est precise, lorsque je me suis rendu compte du vaste mouvement socialiste qui travaille l’Europe d’une fasion si redoutable.” dalam Henri Mitterand, “Etudes, notes et variantes:  Germinal”, Les Rougon Macquart (Paris: Bibliotheque de la Pleiade, 1964), III: 1859.
  11. “Le naturalisme ne se prononce pas. Il examine. Il decrit. II dit: Ceci est. C’est au public de tirer les conclusions”. Ibid.
  12. “… bahwa kau tidak bisa mengubah dunia hanya dengan menciptakan banyak undang-undang, bahwa kau harus memberi masyarakat waktu untuk berkembang menjadi lebih maju.” Émile Zola, Germinal , Lulu Wijaya (Pent.), (Jakarta: Gramedia, 2016): 477.
  13. Zola menggunakan Le Socialisme contemporaine (1881) karya sosialis Belgia Emile de Laveleye untuk mempelajari gerakan sosialis. Eduardo A. Febles, op. cit.: 38.
  14. Émile Zola, op. cit.: 398.
  15. Colette Becker, Emile Zola:  Germinal (Paris: PUF, 1988): 32.
  16. David Weir, Anarchy  &  Culture: The Aesthetic Politics of Modernism (Amherst: University of Massachusetts Press,  1997): 63.
  17. Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai: G30S-PKI dan Peran Bung Karno (Jakarta: Intermasa, 1988): 247.
  18. Émile Zola, op. cit.: 611. Terjemahannya terlalu interpretatif.
  19. Asvi Warman Adam, “Germinal dan Gerwani: Adakah hubungan antara karya Emile Zola dengan Tragedi 1965?”, Jurnal Perempuan, 2003, No. 30.

closing
Bagikan:

Tulis Komentar