Riane Eisler dan Model Relasi Gender: Dominasi dan Kemitraan

53
0
Bagikan:
Ilustrasi untuk “Riane Eisler dan Model Relasi Gender: Dominasi dan Kemitraan”

Menurut Oxford English Dictionary, “matriarki” (māter [L] = ‘ibu’; arkhein [Y] = ‘memerintah’) adalah bentuk organisasi sosial yang menempatkan ibu atau atau perempuan tertua dalam suatu masyarakat sebagai kepala keluarga dan garis keturunan serta hubungan kekeluargaan diperhitungkan melalui garis perempuan. Sebagai istilah antropologi, matriarki juga berarti sistem pemerintahan yang dipimpin seorang wanita atau para wanita. Definisi populer yang penuh prasangka untuk matriarki adalah “dominasi perempuan.”

Istilah “patriarki” (pāter [L] = ‘bapak’; arkhein [Y] = ‘memerintah’) kurang lebih memiliki makna yang sama, dengan mengganti kata ibu menjadi bapak dan kata perempuan menjadi lelaki.

Matriarki dalam Sejarah

Beberapa arkeolog yang mempelajari kebudayaan prasejarah menemukan gagasan bahwa masyarakat manusia pada mulanya bersifat matriarkis dengan para dewa perempuan atau para perempuan memimpin masyarakatnya. Untuk kajian masyarakat Eropa, salah satu perintisnya adalah arkeolog dari Universitas California, Marija Gimbutas. Ia berpendapat bahwa selama zaman Paleolitik dan Neolitik, masyarakat yang tinggal di Eropa dan Mediterania bersifat egaliter, cinta damai, terpusat pada perempuan, dan menghormati bumi sebagai ibu pertiwi (mother goddess). “Eropa Kuno” yang egaliter, cinta damai, terpusat pada perempuan ini secara bertahap diambil alih melalui penaklukan dan migrasi (setelah 4000 SM) oleh orang-orang berbahasa Indo-Eropa dari stepa Rusia. Orang-orang baru ini bersifat militeristik, seminomadik, patriarkal, dan menyembah satu dewa laki-laki tunggal—karena itu, mereka sering dipimpin seorang pria pemimpin militer.

Meskipun sebagian besar arkeolog membantah ide-ide Gimbutas, ide-ide itu ternyata sangat berpengaruh pada para penulis populer, seperti Merlin Stone dan Riane Eisler, dan pada kelompok-kelompok yang mencari bentuk-bentuk alternatif spiritualitas. Sang Dewi purba yang diagungkan itu sekarang memiliki sejumlah organisasi, terbitan, dan situs web yang didedikasikan untuk mengembangkan spiritualitas dan peribadatannya, seperti Matrifocus, Woman Spirit, dan Goddess Pages.

Beberapa cendekiawan Afrika, seperti Cheikh Anta Diop dan Ifi Amadiume, setuju dengan kritik Gimbutas bahwa di Eropa hanya ada sedikit bukti matriarki, tetapi mereka menemukan banyak bukti di Afrika kuno. Diop secara khusus merujuk pada pengagungan terhadap ratu (queenship) di antara orang Mesir kuno, sedangkan Amadiume merujuk ke unit rumah tangga matrisentrik (berpusat pada ibu) dan jaringan pasar di antara para perempuan.

Gagasan bahwa masyarakat manusia pada mulanya bersifat matriarkis juga diterima beberapa sejarawan dari Republik Rakyat Cina yang menunjuk pada pengembangan karakter tertentu dalam sistem tulisan Cina, dongeng rakyat kuno, dan beberapa bukti arkeologis. Namun, sebagian besar sejarawan Cina tidak setuju dengan penafsiran ini dan mencatat bahwa bukti penundukan perempuan di bawah lelaki justru jauh lebih kuat dan termasuk beberapa sumber tertulis paling awal. Menurut para sejarawan ini, gagasan mereka yang mengaitkan matriarki pada masa lalu itu lebih karena penerimaan teori Engels untuk alasan ideologis di antara para pemimpin Marxis daripada berdasarkan bukti yang kuat.

Para arkeolog dan sejarawan Amerika awal juga memperdebatkan sejauh mana beberapa kelompok mungkin bersifat matriarkal dan matrilokal (pasangan suami-istri tinggal di antara kerabat istri setelah menikah)—atau setidaknya egaliter dalam hal jenis kelamin—meskipun di sini pun buktinya dianggap ambigu.

Model Dominasi dan Kemitraan

Sebagian besar kita tentu akrab dengan legenda tentang zaman awal yang lebih harmonis dan damai. Kisah manusia awal dalam kitab suci agama-agama Semitik menceritakan tentang sebuah taman berisi wanita dan pria yang hidup harmonis dengan sesamanya dan dengan alam. Kehidupan harmonis itu runtuh ketika sesosok dewa laki-laki memutuskan bahwa wanita adalah sumber malapetaka dan selanjutnya harus hidup tunduk kepada pria. Kitab Tao Te Ching menggambarkan saat ketika yin (prinsip feminin) belum diperintah oleh yang (prinsip maskulin), ketika kebijaksanaan ibu masih dihormati dan dipatuhi di atas segalanya. Penyair Yunani kuno, Hesiod, menulis tentang “ras emas” yang menggarap tanah dengan “tenang dan damai” sebelum “ras yang lebih rendah” membawa dewa perang mereka. Tetapi, meskipun para ahli sepakat bahwa dalam banyak hal karya-karya ini didasarkan pada peristiwa prasejarah, referensi ke masa ketika perempuan dan laki-laki hidup dalam kemitraan masih dipandang tidak lebih dari fantasi.

Ketika arkeologi masih dalam masa pertumbuhan, penggalian Heinrich dan Sophia Schliemann di situs yang diyakini sebagai kota tua Troya membantu membangun realitas Troya yang dikisahkan Homer. Kini penggalian arkeologis baru—ditambah reinterpretasi atas penggalian yang lebih tua menggunakan metode yang lebih ilmiah—mengungkapkan bahwa cerita-cerita seperti pengusiran manusia dari Taman Eden juga berasal dari kenyataan masyarakat sebelumnya, yaitu dari ingatan masyarakat agraris (atau Neolitik) pertama yang berkebun di bumi. Demikian pula, legenda tentang peradaban Atlantis yang tenggelam ke dasar laut mungkin merupakan ingatan tak lengkap tentang peradaban Minoan—yang sekarang diyakini telah punah ketika Kreta dan pulau-pulau di sekitarnya rusak parah dihantam gempa bumi dan gelombang pasang dahsyat.

Seperti halnya penemuan bahwa bumi tidak datar memungkinkan orang pada masa Columbus untuk menemukan dunia baru yang luar biasa, penemuan-penemuan arkeologis ini membuka dunia menakjubkan dari masa lalu yang tersembunyi. Penemuan-penemuan itu mengungkapkan periode panjang perdamaian dan kemakmuran ketika selama ribuan tahun teknologi sosial dan evolusi budaya manusia bergerak ke atas—ketika semua teknologi dasar yang membangun peradaban manusia dikembangkan dalam masyarakat yang tidak didominasi laki-laki, tanpa kekerasan, dan tidak hierarkis.

Penggambaran Yang Ilahiah dalam masyarakat kuno dengan wujud perempuan pada benda seni, mitos, bahkan cerita sejarah memberi dukungan lebih lanjut bahwa ada masyarakat kuno yang strukturnya sangat berbeda dari struktur masyarakat kita. Gagasan tentang alam semesta sebagai Ibu yang maha pemurah telah bertahan (meskipun dalam bentuk termodifikasi) hingga zaman kita. Di Cina, dewa-dewa perempuan Ma Tsu dan Kuan Yin masih dipuja secara luas sebagai dewi cinta kasih yang paling populer.

Demikian pula, pemujaan terhadap Bunda Maria, Sang Ibunda Tuhan (The Mother of God), tersebar sangat luas hingga zaman modern. Meskipun dalam teologi Katolik ia diturunkan statusnya menjadi manusia, keilahiannya secara implisit diakui dalam sebutan Ibunda Tuhan serta doa-doa jutaan orang yang setiap hari mencari perlindungan dan penghiburan belas kasihnya. Selain itu, kisah kelahiran, kematian, dan kebangkitan Yesus memiliki kemiripan yang mencolok dengan kultus-kultus zaman dulu yang berputar di sekitar bunda ilahi dan putranya—atau putrinya, seperti penyembahan Demeter dan Persephone/Kore dalam mitologi Yunani.

Tentu saja sangat masuk akal bahwa perwujudan paling awal tentang kekuatan ilahi seharusnya memang berupa perempuan, bukan laki-laki. Ketika leluhur manusia mulai mengajukan pertanyaan abadi, “Dari mana kita berasal sebelum kita dilahirkan? Ke mana kita pergi setelah mati?”, mereka pasti melihat bahwa kehidupan lahir dari tubuh seorang perempuan. Jadi, wajar bagi mereka untuk membayangkan alam semesta sebagai Ibu yang memberi segalanya, yang dari rahimnya semua kehidupan lahir dan—seperti siklus tumbuh-tumbuhan—yang kepadanya semua kembali setelah mati untuk nanti dilahirkan kembali.

Juga masuk akal bahwa masyarakat dengan gambaran kekuasaan yang mengatur semesta seperti ini tentu akan memiliki struktur sosial yang sangat berbeda dari masyarakat yang menyembah bapa ilahi yang menggunakan petir dan/atau pedang. Lebih lanjut, tampak logis juga bahwa perempuan tidak akan dipandang tunduk pada masyarakat yang mengonseptualisasi kekuatan yang mengatur alam semesta dalam bentuk perempuan dan bahwa kualitas “kewanitaan” seperti kepedulian, kasih sayang, dan antikekerasan akan sangat dihargai dalam masyarakat seperti itu. Yang tidak logis adalah menyimpulkan bahwa, jika laki-laki tidak mendominasi perempuan dalam suatu masyarakat, berarti perempuanlah yang mendominasi laki-laki dalam masyarakat tersebut.

Meski begitu, ketika bukti pertama masyarakat semacam itu digali pada abad ke-19, disimpulkan bahwa mereka pastilah bersifat “matriarkal” (perempuan mendominasi laki-laki). Kemudian, ketika bukti-bukti tampaknya tidak mendukung kesimpulan ini, menjadi kebiasaan untuk kembali pada pendapat bahwa masyarakat manusia selalu—dan akan selalu—didominasi oleh laki-laki. Sebenarnya, jika kita mau membebaskan diri kita dari model-model realitas yang berlaku (matriarkhi/patriarkhi), jelaslah bahwa ada alternatif logis lainnya: bahwa ada suatu masyarakat tempat perbedaan tidak harus berarti sebagian lebih unggul (superior) daripada sebagian lainnya.

Setelah meneliti kembali masyarakat manusia dari perspektif keutuhan gender (gender-holistic) Riane Eisler mengajukan teori baru evolusi budaya—dalam karyanya, The Chalice and The Blade. Eisler—yang sangat terpengaruh pemikiran Marija Gimbutas—menyebutnya teori Transformasi Budaya. Teori ini mengusulkan bahwa keanekaragaman budaya manusia didasari dua model dasar masyarakat. Model pertama disebutnya model dominasi (dominator) yang secara populer diistilahkan sebagai patriarki atau matriarki, yaitu pemeringkatan setengah umat manusia di atas/di bawah yang lain. Model kedua disebutnya model kemitraan (partnership) yang menekankan pertautan ketimbang pemeringkatan antara setengah umat manusia dan setengah lainnya. Di dalam model kemitraan perbedaan tidak harus diiringi inferioritas atau superioritas.

Teori Transformasi Budaya yang digagas Eisler lebih lanjut mengusulkan bahwa arah asli dalam arus utama evolusi budaya manusia adalah menuju kemitraan, tetapi setelah periode kekacauan budaya yang hampir total, terjadi pergeseran sosial yang mendasar. Ketersediaan data yang lebih besar pada masyarakat Barat (karena fokus etnosentris ilmu sosial Barat) memungkinkan untuk mendokumentasikan perubahan ini secara lebih terperinci melalui analisis evolusi budaya Barat. Namun, Eisler mengklaim ada juga indikasi bahwa perubahan arah dari model kemitraan ke model dominasi ini secara paralel terjadi juga di bagian lain dunianya.

Eisler menggunakan simbol cawan (chalice) dan pedang (blade) untuk merepresentasikan kedua model tersebut. Simbol tersebut dia gunakan untuk menggambarkan titik balik dahsyat yang terjadi dalam prasejarah peradaban Barat, ketika arah evolusi budaya secara harfiah berbalik. Pada percabangan penting ini, evolusi budaya masyarakat yang mengagungkan kekuatan yang melahirkan dan memelihara alam semesta— yang disimbolkan dengan cawan—terputus oleh kekuatan para pengubah yang mengagungkan kekuatan—yang disimbolkan dengan pedang. Titik balik itu mengantarkan masyarakat manusia kepada bentuk organisasi sosial yang sangat berbeda. Seperti yang ditulis oleh arkeolog Universitas California Marija Gimbutas (The Civilization of the Goddess: The World of Old Europe), para pengubah itu adalah orang-orang yang menyembah “kekuatan pedang yang mematikan”—kekuasaan yang mengambil alih-alih pemberian dan pemeliharaan kehidupan dengan kekuatan untuk menegakkan dominasi.

Kekuatan Pedang Sebagai Penyimpangan

Selama ribuan tahun, laki-laki telah berperang dan pedang telah menjadi simbolnya. Namun, ini tidak berarti bahwa laki-laki memang suka kekerasan dan suka berperang. Sepanjang sejarah yang tercatat, ada para lelaki yang cinta damai dan tanpa kekerasan. Selain itu, jelas ada juga laki-laki dan perempuan di masyarakat prasejarah yang menjunjung daya menghidupi dan memelihara yang dilambangkan dengan cawan. Masalah yang mendasarinya bukanlah laki-laki sebagai jenis kelamin. Akar masalahnya terletak pada sistem sosial yang mengidealkan kekuatan pedang—yang mengajarkan pria dan wanita untuk menyamakan maskulinitas sejati dengan kekerasan dan dominasi serta memandang laki-laki yang tidak sesuai dengan ideal ini sebagai “terlalu lembut” atau “kewanita-wanitaan/banci” (effeminate).

Banyak orang akan tidak percaya bahwa mungkin saja menyusun masyarakat manusia dengan cara lain, terlebih lagi jika susunan masyarakat yang dituju berhubungan dan terpusat pada perempuan atau femininitas. Salah satu alasan ketidakpercayaan ini adalah bahwa dalam masyarakat dominan laki-laki, segala sesuatu yang terkait dengan perempuan atau femininitas secara otomatis dipandang sebagai masalah sekunder—masalah yang, kalaupun memang perlu diselesaikan, harus ditangani hanya setelah masalah lain “yang lebih penting” diselesaikan. Terlebih lagi, meskipun umat manusia jelas terdiri dari dua bagian (perempuan dan laki-laki), dalam sebagian besar studi tentang masyarakat manusia, protagonis utamanya—seringkali berupa aktor tunggal—adalah laki-laki.

Dalam kajian tentang struktur masyarakat manusia kuno, muncul upaya untuk berfokus pada bagaimana implikasi pengaturan hubungan antara dua bagian kemanusiaan itu terhadap totalitas sistem sosial, sebagaimana diupayakan Eisler. Jelaslah, bagaimana hubungan-hubungan ini disusun memiliki implikasi yang menentukan bagi kehidupan pribadi pria dan wanita, bagi peran mereka sehari-hari dan pilihan-pilihannya dalam kehidupan. Namun, meski umumnya masih diabaikan, yang tak kalah penting adalah bahwa cara kita menyusun semua hubungan manusia yang paling mendasar (yang tanpanya spesies kita tidak bisa hidup) memiliki efek mendalam pada setiap lembaga kita, pada nilai-nilai kita, dan pada arah evolusi budaya kita, terutama apakah budaya itu akan cinta damai atau penuh peperangan.

Sebagaimana diajukan Eisler di atas, hanya ada dua cara dasar untuk menata hubungan antara bagian perempuan dan laki-laki dalam masyarakat manusia: semua masyarakat terpola pada model dominasi atau model kemitraan—dengan variasi di antaranya. Selain itu, jika kita menguji kembali masyarakat manusia dari perspektif yang memperhitungkan perempuan sekaligus laki-laki, kita juga dapat melihat bahwa ada pola, atau konfigurasi sistem, yang menjadi ciri dominasi atau kemitraan organisasi sosial.

Misalnya, dari sudut pandang konvensional, Jermannya Hitler, Irannya Khomeini, Jepangnya para samurai, dan suku Aztec di Meso-Amerika adalah masyarakat-masyarakat yang berbeda dari ras, asal-usul etnis, perkembangan teknologi, dan lokasi geografis. Namun, dari perspektif teori Transformasi Budaya—yang mengidentifikasi karakteristik konfigurasi sosial dari masyarakat yang didominasi laki-laki—tampak kesamaan yang mencolok. Semua masyarakat yang secara luas berbeda ini tidak hanya didominasi para lelaki, tetapi juga memiliki struktur sosial yang hierarkis dan otoriter serta tingkat kekerasan sosial yang tinggi, terutama berupa perang dan pembantaian.

Sebaliknya, kita juga bisa melihat kesamaan antara masyarakat yang sangat beragam yang lebih setara secara gender. Secara khas, masyarakat “model kemitraan” seperti itu cenderung tidak hanya lebih cinta damai, tetapi juga tidak terlalu hierarkis dan otoriter. Ini dibuktikan melalui data antropologis (pada bangsa BaMbuti di Kongo dan bangsa !Kung di sisi barat Gurun Kalahari), melalui studi kontemporer tentang tren dalam masyarakat modern yang lebih setara secara gender (yaitu negara-negara Skandinavia, seperti Swedia), dan melalui data prasejarah serta historis.

Transformasi Menuju Model Kemitraan

Melalui penggunaan model dominasi dan kemitraan organisasi sosial yang diajukan Eisler untuk menganalisis masa kini dan masa depan potensial manusia, kita juga dapat mulai melampaui polaritas konvensional kanan/kiri, kapitalisme/komunisme, agama/sekularisme, bahkan maskulinisme/femininisme. Gambaran lebih besar yang muncul menunjukkan bahwa semua gerakan modern (pasca-Pencerahan) untuk keadilan sosial, baik yang berbasis agama atau sekuler—serta gerakan feminis, perdamaian, dan ekologi yang lebih kemudian—merupakan bagian dari dorongan dasar untuk transformasi masyarakat dari sistem dominasi ke sistem kemitraan. Lebih dari ini, di zaman kita yang memiliki teknologi demikian dahsyat, gerakan ini dapat dilihat sebagai bagian dari dorongan evolusi spesies manusia untuk bertahan hidup.

Jika kita melihat seluruh rentang evolusi budaya manusia dari perspektif teori Transformasi Budaya, bisa dilihat bahwa akar krisis global saat ini kembali ke pergeseran mendasar dalam prasejarah kita yang membawa perubahan besar, tidak hanya dalam struktur sosial, melainkan juga dalam teknologi. Ini adalah perubahan penekanan dari teknologi yang menopang dan meningkatkan kehidupan ke teknologi yang dilambangkan dengan pedang: teknologi yang dirancang untuk mendominasi dan menghancurkan. Ini adalah penekanan atas teknologi sepanjang sebagian besar sejarah yang tercatat dan penekanan atas teknologi inilah, alih-alih teknologi itu sendiri, yang hari ini mengancam semua kehidupan di dunia kita.

Karena model dominasi ini sekarang tampaknya mencapai batas logisnya, banyak orang saat ini menolak prinsip-prinsip lama organisasi sosial, termasuk peran seksual stereotip mereka. Bagi banyak orang yang lain, perubahan-perubahan ini hanyalah tanda-tanda kerusakan sistem, gangguan kacau yang harus diatasi dengan cara apa pun. Tetapi, justru karena dunia yang kita kenal berubah begitu cepat, semakin banyak orang di berbagai bagian dunia yang melihat bahwa ada alternatif sistem sosial lain yang lebih equaliter (kesetaraan antargender, alternatif istilah egaliter yang cenderung dipahami sebagai kesetaraan antarlelaki)—dan pilihan itu ada di tangan kita.

closing

Rujukan:

  1. Eisler, Riane. 1988. The Chalice and the Blade: Our History, Our Future. San Francisco: Harper and Row.
  2. Gimbutas, Marija. 1977. “The First Wave of Eurasian Steppe Pastoralists into Copper Age Europe.”  The  Journal  of  Indo-European  Studies  5.
  3. Wiesner-Hanks, Merry E. 2011. Gender in History: Global Perspectives. West Sussex: Blackwell Publishing.

Bagikan:

Tulis Komentar